Archives for category: Indonesiana
Iklan KFC di harian Kompas Selasa, 29 Oktober 2013

Iklan KFC di harian Kompas Selasa, 29 Oktober 2013

Belakangan ini saya tertarik mengamati iklan-iklan KFC. Hal pertama yang bikin tertarik, sekitar satu tahun lalu mereka meluncurkan website barunya kfcku.com. Tak hanya itu, mereka meluncurkan slogan baru “Terus BerINOVASI”. Seiring dengan diluncurkannya slogan baru, mereka terus berinovasi dengan meluncurkan hampir satu produk baru setiap bulannya.

Ini menarik, sebab meskipun mereka telah memiliki tempat di hati masyarakat Indonesia (coba deh kalau pergi ke suatu tempat yang belum dikenal dan lapar, biasanya yang dicari adalah fastfood semacam KFC!), mereka tetap melakukan perubahan. (Mungkin) salah satu pemicunya hal sepele: ayam goreng tepung mirip KFC di pinggir jalan.

Cobalah tengok, rasa ayam goreng tepung di pinggir jalan sudah mulai menyamai ayam KFC. Meskipun rasanya baru sekedar mirip, namun masyarakat mulai berpikir dua kali untuk jajan di KFC. Faktor daya beli masyarakat yang menurun karena harga barang naik, rasa ayam goreng tepung pinggir jalan yang enggak kalah enak, plus toko ayam pinggir jalan yang dekat dengan rumah atau kosan, menyebabkan masyarakat lebih memilih ayam goreng pinggir jalan.

Kalau masyarakat sudah tidak tertarik lagi dengan KFC, restoran bikinan Kolonel Sanders ini akan hengkang dari Indonesia.

Tapi mereka tidak mau menyerah pada keadaan. KFC juga cerdas, tidak seperti sopir taksi di beberapa daerah yang menolak kedatangan Blue Bird. Mereka berinovasi.

Seperti ujaran Albert Einstein,

“Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.”

KFC bukannya melihat pedagang ayam di pinggir jalan sebagai hambatan, justru membiarkannya. KFC tidak menuduh pedagang ayam mencuri resep rahasia yang telah disimpan bertahun-tahun. Mungkin karena menurut KFC, pedagang ini juga berjasa mengurangi angka pengangguran.

Hebat, lho. Dengan begitu, KFC menawarkan banyak produk ke masyarakat. Masyarakat enggak bosan lagi dengan kuliner yang hanya ayam doang. Benefit lainnya, KFC (bisa jadi) tetap mendapatkan hati di masyarakat Indonesia.

Ini keren, lho. Saya jadi ingat ujaran orang tua saya. Dulu, saya dapat nilai jelek di suatu mata pelajaran. Kemudian, orang tua memarahi saya. Saya membela diri dengan mengatakan, itu salah guru saya! Dia mengajarnya tidak benar! Saya tidak dapat mengerti apa yang dia ajarkan!

Eh, saya malah dimarahi balik. Jangan menyalahkan keadaan, kamulah yang harus berubah!

******

PS: saya bukan karyawan KFC, bukan pula pelanggan setia KFC. Saya enggak dibayar apa-apa oleh KFC. Hanya tertarik saja dengan fenomena inovasi yang digencar-gencarkan oleh KFC.

Advertisements

Jumat pagi lalu, dosen statistika & probabilitas saya ngambek. Pasalnya ada kecelakaan yang menimpa beliau. Ada sepeda motor ngebut, nyerempet mobil milik Pak Dosen dan nyeruduk mobil di depannya. Alhasil, mobil Pak Dosen lecet, dan mobil di depannya penyok.

Sebenarnya dosen saya enggak peduli kalau mobilnya lecet-lecet. Lha wong di Jakarta, mobil keserempet udah biasa, kok. Maklum saja, lalu lintas selalu padat. Lebar badan jalan yang sempit juga membuat probabilitas mobil mengalami “luka” lebih besar.

Tapi tingkah si pesepeda motor ini yang bikin beliau enggak suka. Pertama, si pesepeda motor enggak mengakui kesalahannya. Kedua, malah menyalahkan dosen saya. Ketiga, minta ganti rugi atas kerusakan di motornya.

Lho. Yang menyerempet siapa, yang minta ganti rugi siapa.

Lalu beliau cerita tentang pengalamannya ketika mengambil Ph.D di Jepang.

Mengapa tidak diambil saja?

Suatu hari Pak Dosen pulang dari supermarket bersama istri dan anaknya. Beliau membawa mobil ke supermarket.

Wah, luar biasa banget, di Jepang bisa punya mobil! Padahal kan tarif parkir + pajak + bensin + tetek-bengek pemeliharaan mobil di Jepang luar biasa mahal.

Sepulangnya berbelanja, Pak Dosen hendak mengeluarkan mobilnya. Tiba-tiba ada kakek-kakek (masih bugar tentu), tergopoh-gopoh datang kepadanya dan berkata, “Sumimasen! Sumimasen!Read the rest of this entry »

Btw, saya punya adik-baru-yang-langsung-besar. Ia adalah siswi pertukaran pelajar dari Amerika Serikat. Namanya Ellen, dan dia akan tinggal di rumah kami selama 10 bulan. Baru berjalan 3 pekan, dia sudah belajar banyak tentang Indonesia. Pun demikian dengan saya, menjadi tahu sedikit banyak tentang Amerika–dan menjadi belajar lebih banyak tentang Indonesia.

Ellen cerita kalau dia suka sekali makan buah. Salah satu favoritnya adalah mangga dan jambu biji. Wah, buah tersebut banyak sekali di sini! Alhasil kami beli banyak jambu biji (karena mangga belum musim). Katanya, jambu biji Indonesia lebih enak ketimbang yang biasa ia makan di sana!

Untuk membuatnya lebih takjub, saya tunjukkan pohon jambu biji di halaman belakang. Eh, dia kaget. Ujarnya, “Wah, di sana kami punya banyak tanaman. Tapi tidak ada satupun yang berbuah! Di sini enak ya, tinggal petik saja dari kebun!

Saat itu pula, saya tertegun. Iya juga, ya. Kita punya banyak, sementara negeri nun jauh di sana hanya bisa impor. Seharusnya ini merupakan sebuah prospek besar untuk negeri kita!

Nilai tambah

Dua bulan silam saya membaca buku Indonesia Mengajar, yang mengisahkan para pengajar muda di berbagai daerah. Ada satu tulisan dari Patrya Pratama yang membuat saya trenyuh.

Dikisahkan bahwa sang pengajar muda sedang libur. Ia diajak oleh tetangganya untuk memasang pintu untuk area tambak seluas 10 hektar! Katanya, itu perjuangan yang saaaaaangat berat.

Bayangkan, satu daun pintu tambak saja ukurannya 2×6 meter. Yang harus dipasang, 5 daun pintu! Mungkin adalah hal yang mudah jika bergotong royong memasang daun pintu sebesar itu di atas tanah. Namun ini harus memasang di tambak, yang penuh dengan lumpur. Luar biasa melelahkan.

Setelah berlelah-lelah, saatnya menunggu. Ternyata  untuk tambak seluas 10 hektar hanya menghasilkan 3-5 juta rupiah sekali panen. Kecil sekali, sungguh tak sebanding dengan energi dan waktu yang dihabiskan untuk mengeruk tambak, memasang pintu, dan perawatan! Ujar Patrya, andaikan penduduk lokal memberikan nilai tambah bagi ikan tersebut–katakanlah membuat restoran kepiting bakar, atau keripik kepiting–pastilah hasilnya akan lebih baik dari itu.

Nah, kembali lagi ke jambu biji. Saya menemukan data menarik di internet. Amerika Serikat adalah importir terbesar buah jambu biji, mangga, dan manggis. Sementara itu Indonesia yang notabene bisa menumbuhkan apa saja, tidak termasuk sebagai 10 besar eksportir jambu biji, mangga, dan manggis!

ChartImg

10 besar negara pengimpor jambu biji, mangga, dan manggis

10 besar negara pengekspor jambu biji, mangga, dan manggis berdasarkan nilai ekspor

10 besar negara pengekspor jambu biji, mangga, dan manggis berdasarkan nilai ekspor

Ada beberapa poin yang harus kita perhatikan jika ingin menyaingi dominasi eksportir tiga buah tersebut. Yang pertama, mereka sudah lama menguasai pasar. Dominasi kuat dari mereka akan sangat sulit untuk kita lobi dan penuhi. Selain itu, buah yang mereka ekspor pasti sudah memiliki standar ekspor seperti satu kilogram tidak boleh lebih dari 3 buah. Masih banyak petani buah kita yang belum sanggup memenuhi standar tersebut (Kompas, 2013).

Kalaulah memang kebelet menyaingi Meksiko atau Thailand, kita wajib melaksanakan “swasembada buah”. Artinya kita harus merelakan lahan pangan pokok kita “dirampas” oleh buah-buahan.

Ketimbang mengorbankan yang lebih penting, mengapa kita tidak mengolah saja buah tersebut? Memberikan nilai tambah sehingga menjadi jamu?

Di banyak negara, produk herbal semakin diminati[1-5]. Tren ini bagus untuk kita tangkap. Bukan tanpa alasan, Indonesia telah mengembangkan jamu sejak tahun 850-an. Bahkan beberapa khasiat produk jamu pun sudah teruji secara ilmiah. Belakangan juga makin ramai tren penelitian produk tumbuhan herbal alias biofarmaka. Izinkan saya menyebutkan beberapa.

Di laman Biofarmaka IPB saya menemukan jurnal yang menyebutkan peranan flavonoid yang ada di jambu biji[6]. Beberapa bulan lalu, senior saya mempublikasikan penelitiannya tentang manfaat anonain di biji sirsak. Ujarnya, anonain dapat dimanfaatkan untuk membuat permen anti-rokok.

Bapak Nurul Taufiqu Rachman dari Nanoworld Indonesia mengembangkan jahe nano (bukan nano-nano, ya!) dan memasarkannya ke luar negeri[7]. Ujar Pak Nurul yang sudah memiliki 9 paten ini, jahe nano khasiatnya lebih ampuh ketimbang jahe biasa. Selain itu, produksi jahe nano juga memungkinkan produsen untuk menjual hanya saripati yang benar-benar bermanfaat saja. Tidak berhenti di situ, harga jahe nano bisa mencapai 700 ribu rupiah per kilogram, lain halnya dengan jahe biasa! Luar biasa!

Tentu saja masih banyak data mengenai potensi herbal dari Indonesia yang tak kalah menarik[8].

Ini sungguh menjanjikan. Kita dapat menjajakan produk herbal kita dengan trademark “JAMU”. Bukan herbal biasa. Dengan trademark tersebut, diharapkan tingkan awareness masyarakat global akan jamu menjadi meningkat. Harkat martabat kita sebagai bangsa Indonesia akan terangkat. Peneliti kita pun akan bangga ketika menjelaskan bahwa dirinya adalah peneliti jamu. 🙂

Tak sekedar nilai tambah: paradigma

Tapi di balik berita baik tersebut, kita masih memiliki banyak halangan dan rintangan.

Yang pertama, kita tidak perlu menafikan kenyataan bahwa jamu tidak kece. Penyebab munculnya paradigma ini karena sebagian besar konsumen jamu adalah kalangan menengah ke bawah. Penjaja jamu yang sebagian besar adalah ibu-ibu yang menggendong bakul jamu juga membuat sebagian masyarakat menengah ke atas jengah meminum jamu (Kompas, 2013). Tak heran kalau semakin hari semakin sulit menemukan ibu-ibu penjaja jamu.

Halangan lainnya adalah belum meriahnyanya promosi medis tentang khasiat jamu. Efek sampingnya, kita lebih percaya pada obat-obatan kimiawi, atau “obat cina” yang dijual di toko.

Nah, ini yang perlu kita antisipasi dari sekarang. Jikalau masyarakat Indonesia sendiri belum bangga akan jamu, bagaimana mungkin kita ingin penetrasi jamu ke luar negeri?

Syukurlah sudah terdapat beberapa konter jamu modern yang sanggup menaikkan citra jamu. Sebutlah Kedai Suwe Ora Jamu[9]. Dengan tempat yang modern dan nyaman, kelas menengah atas tak akan sungkan untuk minum jamu.

Kemudian proses saintifikasi jamu juga perlu menjadi perhatian lebih. Dengan mengedukasi masyarakat bahwa jamu adalah herbal yang luar biasa, akan meningkatkan nilai tambah jamu. Atau, iklan dan publikasi bahwa jamu juga melalui serangkaian proses saintifik, juga sanggup meningkatkan harkat martabat jamu di masyarakat.

Tentu saja proses edukasi masyarakat akan pentingnya jamu tidak dapat dilakukan secara instan. Saya pun sebagai penulis masih mempelajari lebih dalam mengenai jamu. Intinya, pembelajaran jamu tiada henti.

Jika tingkat akseptansi jamu di masyarakat sudah meningkat, sangguplah kita menyongsong jamu v2.0. Jamu era modern.

Perlu dorongan segala pihak

Zaman terus berubah. Jamu kini, bukan lagi jamu era kerajaan Mataram di tahun 850-an[10]. Masyarakat kita saat ini lebih kritis, dan tidak neko-neko. Cara pemasaran dan pengembangan harus terus dilakukan.

Jika kita ingin serius tentang jamu, kita harus bekerja sama dengan segala pihak. Mulai dari pemerintah sebagai pemangku kebijakan, swasta sebagai penanam modal, akademisi sebagai peneliti, hingga tim marketing yang bertugas memasarkan jamu.

Sayang sekali pada MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia) produk herbal belum dimasukkan sebagai 22 kegiatan ekonomi utama. Padahal jika kita tilik lebih jauh, herbal menjanjikan banyak keuntungan bagi kita. Pertama, petani tetumbuhan akan diuntungkan. Kedua, peneliti akan senang karena temuannya tentang herbal digunakan. Ketiga, harapannya dengan makin beragamnya penelitian tentang jamu, paten obat herbal dari Indonesia akan meningkat. Paten yang memiliki nilai keekonomian tinggi dapat menjadi sumber pemasukan bagi negara dan penemu. Keempat, nilai tambah akan produk tetumbuhan menjadi nyata.

Mungkin, memang bukan dalam jangka waktu dekat ini jamu menjadi salah satu kegiatan ekonomi utama. Namun, bukan berarti kita harus menyerah. Ingat ujaran Ellen di atas, negeri barat sana tidak sanggup menghasilkan beraneka ragam buah seperti kita. Membudayakan jamu sebagai minuman sehari-hari perlu kita lakukan. Tak semata untuk kesehatan, tetapi juga merupakan rasa syukur kita akan keanekaragaman hayati Indonesia. Juga sebagai rasa cinta kita akan budaya bangsa.

——

Referensi:

[1] http://www.hli.ualberta.ca/en/HealthLawJournals/~/media/hli/Publications/HLR/15-1-Bubela-Caulfield-Boon.pdf
[2] http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK92773/
[3] http://www.euromonitor.com/herbal-traditional-products-in-the-netherlands/report
[4] http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15710790
[5] http://www.nutraingredients-usa.com/Markets/Herbal-supplement-sales-to-hit-93.15-billion-by-2015-Report
[6] http://biofarmaka.ipb.ac.id/biofarmaka/2011/Red%20Guava%20Leaf%20Harvesting%20Impact%20on%20Flavonoid%20Optimation%20in%20Different%20Growth%20Phases.pdf
[7] https://tofaninoff.wordpress.com/2013/01/24/nano-nano/
[8] http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal?start=15
[9] http://www.femina.co.id/shop.dine/makan.di.mana/jamu.yuk.jamu/007/003/400
[10]http://en.wikipedia.org/wiki/Jamu

Berbicara tentang pemerintahan Indonesia, banyak yang kecewa namun tak sedikit yang optimistis. Sikap tersebut dicerminkan dengan berbagai cara, di antaranya mencalonkan diri sebagai calon legislatif—bahkan calon presiden. Alasannya untuk memajukan bangsa. Sebab diyakini pemerintahan saat ini belum menjalankan fungsi sebagaimana mestinya.

Ini menunjukkan indikasi baik yaitu masyarakat kita semakin melek politik. Masyarakat mulai menyadari bahwa Undang Undang Dasar 1945 pasal 28D ayat 3 negara menjamin setiap warganya untuk memiliki hak yang sama dalam pemerintahan. Namun di samping kesadaran dan melek politik, ada yang lebih penting dalam dunia perpolitikan. Tak lain adalah bisa merasa. Sayangnya elite (dan calon elite politik) kita saat ini kebanyakan masih di tahapan rumongso biso, mung ora biso rumongso. Kebanyakan baru merasa bisa.

Sekarang sedikit santai, ya. Karena saya merasa tidak bisa menjadi presiden, maka izinkanlah saya berandai-andai, apa jadinya jika nanti saya menjadi presiden. Tentu ada banyak hal-hal yang harus dipertimbangkan demi menjalankan amanat tersebut.

Jika saya menjadi presiden, saya akan….

Trinitas penuntasan kemiskinan

Anak-anak yang (mungkin) kekurangan lapangan tempat bermain. Sumber gambar: http://mangde.files.wordpress.com/2008/10/dsc_1821.jpg

Sumber daya manusia adalah salah satu faktor terpenting dalam pembangunan bangsa. Banyak sekali tokoh yang menekankan ini. Tokoh intelektual kita Dr. Boenjamin Setiawan (pendiri Kalbe Farma) bahkan menekankan tanpa adanya sumber daya manusia yang kuat dan handal, sumber daya alam takkan terjaga dengan baik.

Mengingat hal ini, kita tentunya perlu memperkuat sumber daya manusia. Di tengah hamparan kelas menengah yang terus meningkat, kita masih diterpa dengan badai masyarakat yang menderita kemiskinan.

Hingga saat ini isu kemiskinan tetap panas untuk dibahas. Data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa angka kemiskinan menurun dari 16,7 persen pada pemilihan presiden tahun 2004 menjadi 14,15 persen pada 2009. Bahkan menurun lagi menjadi 11,6 persen pada 2012. Di samping berita baik tersebut, sejatinya penurunan angka kemiskinan di Indonesia tidak dibarengi dengan menurunnya kemiskinan secara kualitatif. Indeks Keparahan Kemiskinan desa dan kota yang dirilis oleh BPS menunjukkan meningkatnya “kualitas” kemiskinan dari 0,41 pada Maret 2012 menjadi 0,52 pada Maret 2013.

Melalui dokumen yang dirilis oleh Kementerian Sekretariat Negara RI, pemerintah menerapkan 3 klaster dalam pengentasan kemiskinan. Klaster pertama adalah program bantuan dan perlindungan sosial yang meliputi BOS, Raskin, serta Jamkesmas; klaster kedua adalah penanggulangan kemiskinan berbasis mandiri atau yang lebih sering disebut PNPM Mandiri; dan klaster ketiga adalah melalui pinjaman lunak bagi UMKM lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Pertanyaannya, apakah ketiga klaster tersebut sudah mengakar? Apakah ketiga klaster tersebut dapat melepas mereka dari jerat kemiskinan dan menjadikan manusia yang unggul? Read the rest of this entry »

Post ini mengandung banyak gambar. Mungkin akan membuat kecepatan koneksi internet menurun dan memakan kuota pemakaian internet.

Steve Jobs muda melakukan perjalanan ke India. Feross Aboukhadijeh menyarankan anak muda untuk melakukan perjalanan ke manapun–selagi muda!

Sebagai mahasiswa yang sedang libur semester genap, saya pengen banget jalan-jalan. Hitung-hitung mengisi liburan dan menambah pengalaman. Akhirnya ditemukanlah trip ala backpacker ke Ujung Kulon, Banten. Karena diselenggarakan oleh “agen perjalanan” (sebenarnya agen ini adalah sekumpulan anak muda yang gemar backpacking, lalu menjadikan perjalanan ke suatu tempat sebagai sarana hiburan dan penghasilan sampingan), maka saya harus menyesuaikan waktu perjalanan dengan yang ditentukan agen. Trip ini bakal diselenggarakan pada tanggal 26-28 Juli 2013. Wah, pada bulan Ramadhan! Kalau ikut, apa bakal kuat berpuasa sampai senja menjelang, ya?

Tak hanya masalah waktu, masalah teman juga perlu dipikirkan. Kebetulan teman yang saya kenal tidak ada yang bisa ikutan. Alhasil saya “sendirian” di trip ini. Kalau ingin punya kenalan supaya di perjalanan tidak bengong, harus ngobrol banyak dengan anggota trip lain.

Bukan hanya itu, kocek juga menjadi problema tersendiri. Untuk trip 3 malam 2 hari ini (yes, sebab berangkat ke Ujung Kulonnya pada malam hari) dikenakan tarif sebesar 610 ribu rupiah. Tergolong berat untuk kantong mahasiswa. Tetapi jika dibandingkan dengan trip-trip bulan berikutnya, ini tergolong paling murah: trip lainnya ada yang mematok harga 800 ribu rupiah.

Ujung Kulon! Kami akan bertualang ke Pulau Handeleum, Pulau Peucang, dan Pulau Jawa.

Sebenarnya di antara tiga problem di atas, hal yang paling membuat ragu untuk ikut trip ini adalah dilaksanakan saat bulan Ramadhan. Sebagai muslim, saya memiliki kewajiban untuk berpuasa. Apa bakal kuat, ya?

Setelah dipikir-pikir, enggak ada salahnya, kan, backpacking saat berpuasa? Malah kalau puasanya tetap tahan sampai maghrib, itu menjadi prestasi tersendiri! Belum lagi ada Festival Ramadhan yang diselenggarakan oleh http://www.burufly.com/, fix saya harus ikut! (Monggo kunjungi BuruFly untuk info travelling lebih lengkap!)

Akhirnya setelah membulatkan tekad, saya mendaftar trip ini. Yeay!

Berangkat!

Setelah berbuka puasa dan shalat maghrib, berangkatlah saya menuju tempat berkumpul. Halte BNN Cawang. Setelah menaklukkan bus Trans Jakarta yang penuh dan menghadapi jalanan yang macet, tibalah saya di halte BNN Cawang pada pukul 20:23. Di sana saya bertemu langsung dengan Rossy, sang pimpinan agen perjalanan. Ternyata trip ini diikuti 2 orang bule asal Perancis!

Setelah berkenalan dengan beberapa anggota trip–ada Ian, Winny, Aji, dan Krista–pada pukul 21:20 kami berangkat menggunakan bus kecil. Ujung Kulon, I’m coming!

Saya penasaran, di antara 20 anggota trip ini, berapa orang, ya, yang berpuasa?

Tepat pukul 22:00 malam, bus berhenti di tempat peristirahatan tol Merak. Waktu berhenti selama 30 menit saya manfaatkan untuk makan malam dan shalat Isya. Sekembalinya ke bus, Bung Rossy berkata, “Jadi yang puasa besok, ada Tofan, Winny, dan Rina?”

Wow, cuma bertiga! Pertama kalinya saya merasakan menjadi minoritas 😛

“Yaaa,” jawab kami serempak. Ternyata yang lainnya memang tidak berpuasa. Ujar Bung Rossy, nanti kami bertiga akan sahur duluan, tidak bersama-sama dengan yang sarapan.

Sehabis itu saya langsung berkenalan dengan Rina. Seorang muda yang selanjutnya saya panggil Kak Rina ini ternyata sudah memiliki anak. Walau usianya sudah kepala 3, tetapi wajahnya masih awet muda. Selain mengurus rumah tangga, keseharian Kak Rina mengawasi pabrik jamu skala rumah tangga miliknya. Sementara Winny adalah seorang karyawati di pabrik semen. Usianya kepala 2. Setelah mengeksplor, ternyata saya sendirian yang usianya masih kepala 1, dan berpuasa pula.

Sahur dan sarapan

Setelah melalui perjalanan yang luar biasa–kemacetan, truk di sana-sini, jalanan rusak dan gelap–sekitar pukul 04:00 kami tiba di Sumur, Banten. Katanya ini sudah dekat dengan Ujung Kulon. Saya yang masih setengah sadar diajak untuk makan sahur.

Kirain, makanannya sudah dibungkus dari Jakarta dan tinggal dibagikan di bus. Lalu makannya di bus juga. Ternyata kami turun dari bus, dan berjalan kaki mencari warung makan.

“Ini pasar terakhir, sehabis ini sudah tidak ada pasar lagi. Makanya kita makannya di sini,” ujar Rossy.

Setelah berjalan sekitar 40 meter, kami bertemu dengan warung makan sederhana. Ada lauk ayam, daging, dan sayuran. “Ambil aja, ya!” ujar Rossy. Tapi bapak penjaga warung berkata lain.

“Nasinya habis, Mas.” Read the rest of this entry »