Hari Senin sampai Selasa lalu, saya mengikuti Rakernas Nanoclub Indonesia. Nanoclub Indonesia ini mewadahi mahasiswa yang berminat pada teknologi nano. Selengkapnya tentang teknologi nano maupun ilmu nano bisa dilihat di sini.

Di artikel ini saya tidak akan menceritakan perjuangan saya mencapai Puspiptek Serpong sampai detail jalannya Rakernas😛. Saya akan menceritakan pertemuan singkat kami dengan orang hebat kita di bidang teknologi nano, Bapak Nurul Taufiqu Rochman. Saya dan teman-teman yang mengikuti rakernas bertemu beliau.

Sejak saya baru daftar untuk ikutan rakernas, saya sudah dengar tentang nama Bapak Nurul. Beliau juga pernah menjadi pembicara di TEDxJakarta 5. Memang pasti orang hebat. Di hari pertama juga nama beliau digadang-gadang. Prestasinya antara lain memiliki 11 paten, kemudian hampir semua penghargaan sudah diraih (kecuali Nobel).

Di hari kedua, pukul 13:30 beliau datang di sela-sela istirahat siang kami. Mulanya Pak Nurul berencana untuk membawakan cerita tentang teknologi nano. Namun karena Pak Nurul hanya bisa hadir selama 30 menit (jadwal beliau padat, btw), maka beliau memutuskan untuk bercerita tentang teknologi nano di Indonesia.

Beliau bercerita mulai dari potensi alam Indonesia, seperti pohon jati, pasak bumi, hingga jahe. Beliau bercerita juga tentang riset di Indonesia.

Dari daun pohon jati, beliau bercerita bahwa dalam skala nano, daun jati yang diolah menghasilkan pewarna makanan maupun minuman berwarna merah. Kemudian dari jahe, beliau menceritakan jahe nano yang nilai jualnya mencapai 750 ribu rupiah per kilogramnya. Pasar jahe nano juga tergolong besar, ujarnya.

Kita juga tidak perlu muluk-muluk dalam penelitian. Yang penting sederhana dan dapat memiliki nilai tambah. Tidak perlu seperti Bang Ikono yang melakukan riset tentang telinga sintetis, namun penerapannya baru bisa dilaksanakan 100 tahun yang akan datang. Siapa yang mau beli, katanya.

Menurut beliau, peneliti itu harus bisa berbisnis! Bahkan beliau sampai mengambil mata kuliah bisnis dan manajemen karena memahami bahwa pentingnya memasarkan ilmu yang sudah ditemukan. Wah ini saya setuju sekali. Sebab bisnis yang tidak didukung oleh implementasi teknologi yang “wah”, sama saja bohong😛

Tapi ada hal yang bikin saya ngganjel. Misalnya ujaran beliau kalau “mau kaya ya jadi pengusaha aja”. Padahal kan tujuan utama jadi pengusaha itu untuk memberikan nilai tambah bagi manusia sekitar toh? Bukan untuk jadi kaya. (Sebab jika seseorang ingin jadi pengusaha karena ingin kaya, sekiranya dia ambruk hampir pasti malas bangkit lagi dan loncat ke bidang lain).

Selain itu juga perusahaan-perusahaan mitra Nanotech Indonesia juga… err… (maaf) agak enggak jelas. Contohnya PT Gizi Indonesia yang dari websitenya kurang representatif.

Maka, saya mengajukan pertanyaan.

“Bapak tadi berkata kalau kita sebaiknya riset yang kecil-kecil saja, tidak perlu yang heboh. Padahal SDM kita kan bisa, Pak, untuk riset yang heboh.

“Selain itu, negara lain maju juga rasanya karena riset mereka heboh. Contohnya Higgs Boson yang kemarin ditemukan, penemuannya secara teoretis sudah dilakukan 50 tahun lalu. Bahkan tim R&D Samsung sudah menemukan lampu OLED yang mampu diimplementasikan ke tembok–sehingga kita tidak perlu repot-repot memasang lampu di atas plafon–beberapa tahun lalu meskipun baru bisa diimplementasikan 10 tahun yang akan datang.

“Apa sih yang membuat bapak lebih mendorong researcher Indonesia untuk meneliti yang kecil-kecil?”

Jawaban beliau,

“Mas, kira-kira mas tahu tidak keuntungan dari membuat handphone ini berapa satunya? (sambil mengeluarkan handphone Esia 150 ribuan)”

“Wah, saya tidak tahu, Pak,” ucap saya sambil tersipu.

“Ini paling cuma 20 ribu satu handphonenya! Lain halnya jika bisnis jahe. Jahe yang mulanya satu kilogramnya cuma 10 ribu, dibikin jadi nano, dijual jadi 750 ribu sekilo! Ada juga kumis kucing, kalau dibikin nano pasti nilai tambahnya besar sekali!

“Lalu pasak bumi juga. Waah, pasar kita ini hebat, tanah kita subur. Kita tinggal tanam, cabut, tumbuh lagi. Cabut, tumbuh lagi. Gitu terus. Masa iya kita enggak mau manfaatkan?

“Lalu untuk yang pewarna dari jati, kita sudah investasi 50 hektar pohon jati di (saya lupa nama daerahnya, di Pulau Sumatera). Kita manfaatkan itu, mendapatkan nilai tambah, bukan?

“Sekarang mas tahu enggak, penderita penyakit saluran kencing itu bisa minum kumis kucing berapa kali sehari? (saya tidak tahu, geleng-geleng) Tiga kali sehari, Mas! Sementara orang beli handphone berapa kali sehari? (gelak tawa riuh mewarnai ruangan).

“Sekarang kalau kita punya industri laptop nih misalnya. Kemarin saya beli ini (menunjuk netbook) harganya 3 juta, Mas, satunya. Kalau ditukar dengan jahe, dapat 4 kilo. Ya mendingan saya jualan jahe nano.

“Bukannya saya enggak setuju dengan pendapat mas. Wah, saya juga bangga kalau kita bisa punya industri hebat seperti Samsung. Tapi ini masih tergantung kepada pemerintah, kita mau dibawa ke mana. Untuk sementara ini daripada investasi 75 trilyun di industri laptop yang belum tentu laku, lebih baik saya investasi 1 milyar di jahe nano. Ohiya, kita juga belum punya ruang bersih yang investasinya bakalan mahal sekali.

“Selain itu coba lihat Amerika dan Eropa kenapa ambruk ekonominya dibandingkan dengan China. China itu cuma jualan kayak gitu ya, tapi ekonominya lebih maju dan bisa mengalahkan Eropa dan Amerika.

“Gitu mas kira-kira. Paham ya sekarang?”

*****

Begitulah kira-kira. Tapi bukannya tambah puas, malah semakin ngganjel di hati, hehe. Karena kesibukan beliau, maka saya tidak dapat meng-counter pendapat beliau. Ini adalah beberapa hal yang ingin saya counter.

1. Tujuan berbisnis bukanlah semata-mata mencari keuntungan.

Memang betul percuma bisnis kalau tidak untung. Tapi tujuan utama dari bisnis seyogiyanya adalah memberikan nilai tambah, bagi manusia lain maupun bagi lingkungan. Beberapa seminar entrepreneur dan bisnis yang saya ikuti juga berkata demikian. Bahkan ayah saya bilang, “Percuma bisnis kalau orientasi utamanya keuntungan.”

Mungkin Anda yang pernah membaca tulisan saya mengenai keuntungan Alcoa di sini memahami esensi bisnis. Tak berhenti di situ, MakkiMakki Strategic Branding Consultant juga pernah memberikan petuah bisnis di radio, “Buatlah visi yang setinggi-tingginya. Jika Anda memiliki perusahaan mobil, misalnya, berilah visi perusahaan tersebut ‘Membuat kendaraan yang berkualitas di segala aspek’, jangan beri visi ‘Membuat mobil sebanyak-banyaknya sehingga untung sangat besar.'”

Alangkah baiknya jika Bapak Nurul mengganti motivasinya berbisnis dari mendapat untung menjadi “Memberikan nilai tambah produksi jahe bagi petani di Indonesia.” Wuah, pasti akan keren sekali.

2. Sesungguhnya kita sudah punya pabrik komputer, elektronik, bahkan mobil di Indonesia.

Kita tidak perlu membuat pabrik baru untuk bisa membuat komputer. Cukup gaet Zyrex. Jika Nanotech Indonesia bisa bermitra dengan Zyrex, misalnya, bisa jadi kita memiliki Intel Corp. versi Indonesia. Keren bukan?

Bahkan jika Zyrex bisa digaet, tidak hanya ilmuwan dari nanotechnology saja yang bisa bekerja di sana. Mulai dari teknik industri, tenaga pemasaran, ahli bahasa, lulusan DKV, hingga lain-lainnya bisa bekerja di sana sehingga tidak perlu pergi ke luar negeri untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan passionnya.

Industri teknologi lainnya antara lain Polytron. Wah, hebat lho kita punya Polytron. Untuk mobil, tak perlu bikin pabrik baru semacam Esemka atau Tucuxi yang namanya aneh dan reputasinya (maaf) kurang bisa dipertanggungjawabkan karena merupakan hasil blusukan orang politik.

Kita punya Astra. Astra ini perusahaan terbesar di Indonesia, dengan kapitalisasi pasar senilai 229,58 trilyun rupiah. Astra juga telah membuat mobil lho, Toyota Agya. TAPI TIDAK DIANGKAT KE MEDIA DENGAN HEBOH! Gila, jika Astra punya pabrik sendiri, dan Nanotechnology Indonesia bisa menggaet Astra, 100 doktor Nano bisa punya pilihan industri lain selain bikin jahe nano.

3. Ekonomi Eropa ambruk dan Amerika sempat ambruk tidak semata-mata karena gempuran China.

Meskipun China terkenal dengan produknya yang murahan, jangan salah. Sekarang mereka mulai ekspansi ke produk yang luar biasa berteknologi tinggi.

Ada Oppo Find 5, salah satu handphone China pertama yang menggadang layar beresolusi full HD 1920 x 1080 piksel. Lalu kereta supercepat China juga mulai diluncurkan pada tahun 2007. Selain itu China juga mulai membuat pesawat terbang. Tak berhenti di sini, banyak pabrik manufaktur yang pusatnya di China.

Lagipula kuatnya ekonomi China tidak bisa disebut sebagai penyebab ambruknya ekonomi Eropa. Ekonomi Eropa ambruk salah satunya disebabkan karena kredit macet. Lagipula yang ambruk adalah ekonomi Yunani, yang merambah ke negara Eropa lainnya karena mata uang mereka sama. Cobalah lihat UK, nampaknya adem ayem.

4. Jangan mengerangkeng imajinasi.

Peneliti sama halnya dengan penulis ataupun pembuat lagu. Imajinasinya jangan dikerangkeng. Biarkanlah ia meriset sesuatu yang tampaknya beyond imagination. Siapa tahu bermanfaat bagi kehidupan kita di masa mendatang, bukan?

5. Kenapa kita tidak buat cleanroom, padahal itu penting?

Di hari sebelumnya saya berkeliling Puspiptek, antara lain di Sentra Teknologi Polimer dan satu lagi yang saya lupa, yang jelas laboratorium mengenai herbal. Di situ, produk nano yang dihasilkan masih di ruangan biasa yang rentan terkontaminasi, waduh.

Padahal salah satu hal terpenting dalam manufaktur produk nano adalah ruangan bersih. Saya pernah diceritakan kalau ada ekskavator yang lengannya patah, secara tiba-tiba. Setelah dibawa ke laboratorium dan dicek, penyebab patahnya ekskavator tersebut adalah debu yang berukuran skala mikron. Gile.

Mungkin untuk manufaktur nano di Indonesia yang masih terbatas pada skala herbal dan produk makanan-minuman, cleanroom belum terlalu dibutuhkan. Namun ada baiknya kan kita siap-sedia. NTU NUS sudah punya cleanroom lho.

*****

Saya setuju dengan investasi jahe nano, tentu. Akan terbuka peluang petani jahe memiliki kesejahteraan tinggi. Jika PT Gizi bisa menancapkan taringnya, tentu akan keren. Belum lagi jika Polytron, Astra, dan Zyrex bisa menancapkan taring di kancah internasional. Insya Allah akan sangat banyak sekali lulusan luar negeri asal Indonesia yang kembali ke kampung halamannya.

Lalu, karena munculnya industri, maka jumlah tenaga kerja berpendidikan di Indonesia diharapkan akan semakin banyak. Lebih baik melihat saudara senegara kita bekerja sebagai kerah putih, ketimbang dikirim ke luar negeri karena menjadi pesuruh, bukan?