Archives for category: Buku

Tadi siang waktu lagi baca, tiba-tiba kepikiran, “Kalo Kindle gue rusak, benerinnya gimana ya?”

Akhirnya buka laptop, cari-cari info. Ternyata satu-satunya servis pusat cuma di Amazon.com, Amerika. Karena nggak mungkin kalau saya kirim Kindle bolak-balik US-Indonesia, maka muncul niat iseng buat cari website yang sudah pernah ngebongkar Kindle.

Btw, Kindle, seperti gadget jaman sekarang tutup belakangnya nggak bisa dibuka sendiri secara normal. Contoh gadget lain yang tutup belakangnya nggak bisa dibuka antara lain iPad, keluarga Samsung Galaxy Tab, dan HTC One X. Bagi saya, tutup belakang nggak bisa dibuka itu njelehi. Nggak bisa oprek sendiri, nggak bisa lihat-lihat isi dalamnya, dan yang jelas bikin penasaran.

Akhirnya ketemu di ifixit. Yang nongol di hasil pencarian pertama adalah Kindle 2 yang notabene sudah menjadi fosil. Kindle Touch yang saya pakai ada di bawah-bawah. Nahlo, padahal Kindle Touch kan lebih baru daripada Kindle 2?

Jelas aja nggak nongol di urutan pertama, soalnya belum ada yang berani bongkar Kindle Touch 😦

Perhatian jatuh ke Kindle 4, saudara seibu Kindle Touch yang belum berlayar sentuh. Eh, ada video “penganiayaan Kindle”!

Ini dia.

Serem cuy ngeliatin Kindle dibongkar kayak gitu. Pas nonton, saya cuma bisa meringis doang.

Kayaknya sih isi Kindle Touch sama seperti Kindle 4. Lihat nanti deh. Kalau saya sudah dapat pengganti Touch yang saya pakai sekarang, ntar saya coba bongkar 😛

Alkisah, ada perusahaan pengolah aluminium terbesar dunia, Alcoa. Mulai dari kaleng Coca-Cola hingga satelit buatan yang mengangkasa di sana, Alcoa yang mengolah aluminiumnya.

Perusahaan besar ini sedang mengalami pergantian kepemimpinan. Oktober 1987, sekawanan investor Wall Street dan analisis saham berkumpul di ballroom Hotel Manhattan. Mereka menunggu CEO Alcoa yang baru untuk membawakan pidato pertamanya.

Sekitar 5 menit sebelum tengah hari, CEO baru yang bernama Paul O’Neill berdiri di panggung. Semua bersiap mendengarkan pidato sang CEO baru, yang notabene merupakan visi misi baru perusahaan.

I want to talk to you about worker safety,” ujarnya. “Every year, numerous Alcoa workers are injured so badly that they miss a day of work. Our safety record is better than the general American workforce, especially considering that our employees work with metals that are 1500 degrees and machines that can rip a man’s arm off. But it’s not good enough. I intend to make Alcoa the safest company in America. I intend to go for zero injuries.”

Alih-alih bicara tentang target keuntungan ke depan, O’Neill justru menargetkan “angka kecelakaan nol”. Tidak ada pembicaraan tentang bagaimana cara meningkatkan profit, atau meningkatkan efisiensi perusahaan sama sekali, atau berbicara tentang pajak. Yang dibicarakan hanya keselamatan pekerja.

Sontak saja para investor yang datang saat itu kaget. “Ini bahaya! Alcoa menuju kematian! Pelan-pelan tarik saham kalian dari Alcoa!” perintah seorang investor ke sesama pemegang saham Alcoa.

Read the rest of this entry »

Don’t think too much! Itulah pesan yang disampaikan oleh buku How We Decide karya Jonah Lehrer.

Buku ini dibuka dengan pengalaman seorang pilot yang mengalami keadaan darurat: salah satu mesin mati, sistem autopilot mati, dan parahnya sistem hidrolik pun mati! Kiamat!

Sang pilot bingung dan tanpa berpikir panjang muncul di benaknya cara mengendalikan pesawat: kendalikan saja mesinnya. Matikan salah satu supaya pesawat berbelok. Atau kencangkan putaran jetnya supaya lebih tinggi. Pikiran ini tiba-tiba saja muncul, entah dari mana asalnya. Bagaikan ilham dari langit.

Itu adalah kerja dari limbic system. Bagian otak yang mengatur emosi.

Ada lagi kasus seorang pekerja bernama Elliot yang tidak mampu membuat keputusan–biarpun cuma makan di mana–karena ada bagian di limbic systemnya yang dihilangkan.Orbitofrontal cortex. Bagian itu berfungsi untuk membuat keputusan. Read the rest of this entry »

Tahukah Anda kalau manusia itu ditakdirkan sebagai makhluk pejalan kaki? Tahukah Anda kalau pada saat tidur, otak kita merekapitulasi hal-hal yang kita pelajari saat kita sadar? Tahukah Anda kalau otak manusia menyukai gambar–karena nenek moyang kita hanya dihadapi oleh gambar!

Fakta-fakta menarik seputar otak tersebut bisa dilihat dan digali lewat buku Brain Rules karya John Medina.

Buku ini, seperti buku The Invisible Gorilla, akan mengungkap fakta mengagumkan tentang cara kerja otak kita. Medina menekankan 12 aturan otak yang menjadi titik berat buku ini. Di antaranya adalah: olahraga, tidur, dan perbedaan otak pria dengan wanita.

Olahraga. Sebenarnya, nenek moyang manusia adalah makhluk yang tinggal dan bergantung di pohon. Read the rest of this entry »

Rating: 8.4/10

Jepang, negara yang akhir-akhir ini diagung-agungkan karena kecepatan dan ketepatannya dalam menjinakkan reaktor nuklir, ternyata 150 tahun lalu hanyalah negara kacangan. Dahulu, Jepang hanyalah negara agraris yang tertutup, feodal, konservatif, dan terbelakang. Sumber daya alam pun tak ada, sehingga negara barat pun malas untuk sekedar “mampir minum teh”. Namun, bandingkanlah dengan saat ini. Walau sempat dihabisi saat Perang Dunia II, saat ini Jepang menjadi kiblat sebagai negara idaman. Apa rahasianya?

Kisah dinyalakannya lilin di tanah Jepang bermula pada tahun 1853. Empat kapal besar memasuki perairan Edo, yang saat ini menjadi Tokyo. Besar, kokoh, terbuat dari baja, dan mengeluarkan asap hitam yang membubung tinggi. Mereka adalah Mississippi, Plymouth, Saratoga, dan Susquehanna. Kapal milik Amerika.

Tak ayal, melihat benda besar dan asing itu rakyat Jepang menjadi ketakutan. Sebab, di masa itu kapal-kapal Jepang hanyalah kapal kayu murahan yang digunakan untuk menjala ikan.

“Berikan apa yang kami minta atau kami akan datang dengan kekuatan yang jauh lebih besar,” ujar Laksamana Perry, komandan pasukan yang memimpin pergerakan ke Jepang.

Pemerintah Tokugawa yang sadar diri akan kelemahan diri mereka, hanya bisa pasrah. Toh Amerika hanya ingin menjadikan Jepang sebagai tempat persinggahan, mungkin itu pikirnya. Rakyat Jepang yang menganggap tindakan klan Tokugawa sebagai penghinaan atas tanah suci Jepang, tidak mau diam.

Hingga akhirnya pada 1862, seorang pengusaha Inggris Richardson, berjalan-jalan di Namugi. Kemudian mereka berpapasan dengan daimyo yang anti orang asing. Sementara seluruh rakyat Jepang duduk bersimpuh kepada pembesar daimyo, Sir Richardson hanya menatap kagum dari atas kudanya. Richardson yang tidak mengetahui adat istiadat Jepang, menemui ajalnya.

Tentu saja Inggris marah. Inggris membawa armada besarnya untuk menghabisi rakyat Jepang. Jepang yang saat itu senjata tercanggihnya hanya berupa samurai, kalah telak oleh Inggris yang persenjataannya sudah menggunakan pistol dan meriam.

Namun hebatnya, dengan segala kerendahhatian rakyat Jepang, mereka tidak marah. Mereka justru penasaran akan hebatnya persenjataan Jepang. Petinggi Jepang justru memanjakan orang barat, dengan harapan bangsa Jepang bisa belajar banyak dari orang-orang barat. Hingga akhirnya muncullah kebijakan yang dinamakan Restorasi Meiji, kebijakan yang membawa Jepang dari gelap menuju terang.

Itulah salah satu kisah dari buku ini, tentang asal mula Jepang yang sangat terbelakang menjadi negara yang sangat maju seperti saat ini. Tentunya, yang ada di buku ini bukan sekedar kisah dari negeri matahari terbit saja.

Di awal buku, kita disuguhi gemerlapnya kehidupan di kota besar di negara maju. Hingga akhirnya mungkin Anda akan terbayang, “Seandainya saja saya bisa hidup di negara maju seperti ini.”

Berlanjut ke bab berikutnya, masuk kepada kisah negara yang akan menjadi maju. Bagaimana awal mula mereka; mengapa mereka bisa maju, padahal semula hanya negara terbelakang; apa yang membuat mereka maju, dan apa yang membuat mereka runtuh.

Kisah yang disajikan tertata secara apik dan dalam timeline yang berurutan. Sehingga seolah-olah kemajuan suatu negara adalah sebuah “piala bergilir” yang tidak mungkin diraih oleh dua negara secara bersamaan.

Buku ini sarat akan wawasan dan sejarah. Banyak kisah yang dijelaskan secara mendetail. Namun sayangnya, tak sedikit pula yang hanya asal dijelaskan.

Yang membuat buku ini kurang, banyak statement yang dinyatakan berulang-ulang hingga pembaca akan merasa bosan, terutama pada bab kemajuan negara Islam zaman era keemasan Islam, dan bab kemajuan Jepang. Selain itu, banyak quote yang sebenarnya tidak begitu penting dan tidak memakan tempat, namun diletakkan dalam text-box yang besarnya mencapai satu halaman. Dua hal ini membuat buku menjadi sangat tebal.

Selain itu, ada pula analogi yang salah. Sebagai contoh, di buku terdapat ulasan mengenai perjalanan dengan kecepatan cahaya. Analoginya, jika saya terbang dengan kecepatan cahaya selama 5 tahun waktu saya, maka di bumi telah mencapai waktu selama 25 tahun.

Namun sayangnya, di buku ini disebutkan bahwa, jika Anda berjalan di luar angkasa dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya selama 5 tahun, maka waktu di bumi akan berjalan selama 50 tahun. Padahal, maksimal perbedaan relativitas waktu adalah kuadrat lamanya. Jadi, jika berjalan di luar angkasa dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, di bumi paling banter waktu akan berjalan selama 24,99 tahun. Selain itu masih ada fakta lain yang sepele namun salah. Mohon  kepada editor untuk diperbaiki.

Meskipun begitu, buku ini sangat direkomendasikan bagi siapapun, terutama pemimpin negeri ini, atau calon pemimpin negeri Indonesia tercinta ini.

Metadata:

Judul: Imperium III – Zaman Kebangkitan Besar; Bahasa Asli: Bahasa Indonesia; Penulis: Eko Laksono; Penerbit: Hikmah; Jilid: softcover; Jumlah halaman: xxiv + 523; Harga: Rp87.000,00