Archives for category: Urban

Mei lalu ada berita tentang pemusnahan bajaj oranye. Dari 14.000-an bajaj yang ada di Jakarta, 3.500-nya sudah mulai diremajakan. Gila, ternyata ada banyak banget bajaj di Jakarta!

Link beritanya bisa dibuka di sini.

Nah, bajaj baru yang bakal mewarnai kota Jakarta adalah bajaj berwarna biru yang menggunakan bahan bakar gas. Tapi di Jakarta saat ini, jumlah SPBU yang menyediakan gas cuma ada 16. Bahkan sejauh yang saya ketahui (CMIIW), SPBU di Jl. Raya Pasar Minggu dan Jl. Tebet Timur sudah tidak menjual gas lagi. Ini berarti ada kemungkinan dari 16 SPBG itu, ada beberapa yang sudah tutup.

Yang unik adalah bajaj warna biru ini dilengkapi dengan tangki bensin cadangan berkapasitas 3 liter kalau-kalau kehabisan bensin. Tapi… sekitar 2-3 tahun lalu, saya melihat ada bajaj biru di Tebet yang diisi bensin. Tidak lagi diisi gas karena tiadanya SPBG. Huayo, jangan sampai tabung gas bajaj biru berdebu dan dihuni laba-laba gara-gara tiadanya SPBG di Jakarta 😛

Advertisements

Ketika sedang membuka twitter, di timeline ada twit yang di-RT oleh teman saya. Begini bunyinya

Jakarta Osoji Club

 

Wuah, warga Jepang!

Kemudian saya meng-google gerakan ini. Ternyata ada blognya, di jakartaosojiclub.blogspot.com. Di situ ada info tentang sejarah JOC. Gerakan ini berawal dari artikel berjudul Flame Tree yang ditulis oleh Tsuyoshi Ashida. Artikel bernada keprihatinan akan kotornya kota Jakarta ini dimuat di Jakarta Shimbun, portal berita berbahasa Jepang. Kemudian, warga Jepang yang sepaham dengan Bapak Ashida berkumpul, dan menggagas Osouji Club.

Gerakan pertama dilaksanakan di Gelora Bung Karno, tanggal 29 April 2012. Pesertanya ya itu tadi, warga-warga Jepang. Kemudian gerakan tersebut masih berjalan sampai saat ini. Sekarang warga Indonesia juga ikutan loh 😀

Saya salut banget lho dengan kepedulian warga Jepang akan Jakarta, yang notabene bukan kota asal (dan negara) mereka sendiri. Saya pingin ikutan juga, lho. Ikutan yuk!

Pas makan siang sekeluarga, ibu cerita kalau penyanyi 80’an seperti Titi DJ dan Ruth Sahanaya rutin lari keliling GBK kira-kira 4 kali putaran untuk menjaga kualitas suaranya. Wow!

Dan gue jadi inget Jamiroquai.

Gue kenal Jamiroquai sekitar 4 tahun yang lalu. Simpel, karena lagunya bagus. Tapi belakangan ini–seiring dengan meningkatnya kecepatan internet–gue baru sadar apa yang bikin Jamiroquai itu true badass:

Performa saat live maupun di studio, sama bagusnya!

Sebagai contoh, ada music video dari Phoenix, grup band asal Perancis.

Video di atas versi studio-nya. Dan ini versi konsernya.

Ngebanting banget deh. Vokal si pemainnya kayak kehabisan nafas, dan nggak begitu bagus. Atau, coba lagi bandingkan Train dengan Hey Soul Sisternya. Berikut adalah versi studio dengan performa live-nya.

Atau Sting, penyanyi yang sama-sama berdarah Inggris seperti Jay Kay. Saat performa live, groove-nya kurang nendang.

Atau Level 42, yang sama-sama dari Inggris juga. Tapi saya rada maklum kalau performanya berkurang, soalnya Level 42 memang sudah tua banget.

Tapi kalau Jamiroquai… Gila, baik live maupun studio, suaranya nggak berubah!

Gila gila. Padahal dulu Jay Kay (penggagas Jamiroquai) sempat ditolak saat audisi vokalis Brand New Heavies. Padahal suaranya bagus, performanya nggak turun-turun!

Mungkin Jay Kay juga rajin olahraga berat.

Literally saya pengangguran. Lagi nganggur pasca UN, menunggu pengumuman dan lain sebagainya. Eh, pas saya baca The New Yorker ada rubrik finansial yang membahas pengangguran….

Ternyata tingkat pengangguran di Amerika Serikat sangat tinggi, hampir mencapai 13 juta jiwa. Angka ini tergolong sangat tinggi melihat jumlah penduduk US 310 juta jiwa, dengan jumlah angkatan kerja sebanyak 150 juta jiwa. Bahkan dibandingkan pengangguran di Indonesia, pengangguran Amerika termasuk sangat tinggi. Dengan jumlah angkatan kerja sebanyak 119,4 juta jiwa, jumlah pengangguran Indonesia mencapai 8,12 juta jiwa (data 2011).

Dari total 13 juta pengangguran, 40%-nya sudah menganggur lebih dari 6 bulan, dengan rata-rata total menanggur selama 40 minggu (10 bulan). Menurut The New Yorker, angka itu lebih fantastis ketimbang pasca Perang Dunia II.

Efek Samping

Menjadi pengangguran bukanlah hal enak. Jangan dibayangkan jadi pengangguran bisa leha-leha di rumah, nonton TV atau tidur sepuasnya. Jadi pengangguran itu beban bagi diri sendiri, sebab tidak ada peningkatan kualitas hidup, tidak ada pendapatan, dan membebani negara.

Menganggur juga tidak baik bagi kesehatan, khususnya bagi pekerja yang sudah cukup tua. Hal ini diamati oleh ekonom Till von Wachter dan Daniel Sullivan. Mereka menemukan bahwa paska PHK besar-besaran tahun 1981, tingkat kematian meningkat pesat.

Efek 1981 tidak berhenti di situ. Banyak studi membuktikan krisis 1981 secara permanen mengurangi pendapatan tenaga kerja yang pernah di-PHK.

Semakin lama menganggur juga berdampak pada semakin sulitnya mencari pekerjaan. Lama menganggur dapat membuat kepercayaan diri dan skill seseorang menurun. Penelitian di Swedia menunjukkan korelasi yang sangat kuat akan hal ini: pekerja yang sudah menganggur, melakukan pekerjaan sesimpel “memproses dan menggunakan info yang tercetak di atas kertas” menurun hingga 5 persentilnya. Wow.

Dan yang pasti, menganggur dapat menjadi momok bagi keluarga. Hal ini dapat memicu stress berkepanjangan yang tidak baik bagi siklus tidur, siklus makan, dan pada akhirnya memicu penyakit yang cukup parah seperti penyakit jantung.

Yap! Kopaja meluncurkan 20 armadanya yang full AC! Kopaja AC ini melayani rute Ragunan “belakang” – Grogol. Maksud dari Ragunan belakang adalah Pintu Barat Ragunan.

Bagaimana penampakan busnya? Saya mendapat sebuah foto yang saya dapatkan dari situs Tempointeraktif:

Tidak seperti Kopaja lain pada umumnya, Kopaja AC ini berhiaskan cat warna silver-hijau. Walaupun baru 20 armada yang dibuat, namun pihak Kopaja meyakinkan jarak kedatangan antarbus hanya sekitar 10-15 menit. Wow!

Bagaimana dengan tarif? Read the rest of this entry »