Post ini mengandung banyak gambar. Mungkin akan membuat kecepatan koneksi internet menurun dan memakan kuota pemakaian internet.

Steve Jobs muda melakukan perjalanan ke India. Feross Aboukhadijeh menyarankan anak muda untuk melakukan perjalanan ke manapun–selagi muda!

Sebagai mahasiswa yang sedang libur semester genap, saya pengen banget jalan-jalan. Hitung-hitung mengisi liburan dan menambah pengalaman. Akhirnya ditemukanlah trip ala backpacker ke Ujung Kulon, Banten. Karena diselenggarakan oleh “agen perjalanan” (sebenarnya agen ini adalah sekumpulan anak muda yang gemar backpacking, lalu menjadikan perjalanan ke suatu tempat sebagai sarana hiburan dan penghasilan sampingan), maka saya harus menyesuaikan waktu perjalanan dengan yang ditentukan agen. Trip ini bakal diselenggarakan pada tanggal 26-28 Juli 2013. Wah, pada bulan Ramadhan! Kalau ikut, apa bakal kuat berpuasa sampai senja menjelang, ya?

Tak hanya masalah waktu, masalah teman juga perlu dipikirkan. Kebetulan teman yang saya kenal tidak ada yang bisa ikutan. Alhasil saya “sendirian” di trip ini. Kalau ingin punya kenalan supaya di perjalanan tidak bengong, harus ngobrol banyak dengan anggota trip lain.

Bukan hanya itu, kocek juga menjadi problema tersendiri. Untuk trip 3 malam 2 hari ini (yes, sebab berangkat ke Ujung Kulonnya pada malam hari) dikenakan tarif sebesar 610 ribu rupiah. Tergolong berat untuk kantong mahasiswa. Tetapi jika dibandingkan dengan trip-trip bulan berikutnya, ini tergolong paling murah: trip lainnya ada yang mematok harga 800 ribu rupiah.

Ujung Kulon! Kami akan bertualang ke Pulau Handeleum, Pulau Peucang, dan Pulau Jawa.

Sebenarnya di antara tiga problem di atas, hal yang paling membuat ragu untuk ikut trip ini adalah dilaksanakan saat bulan Ramadhan. Sebagai muslim, saya memiliki kewajiban untuk berpuasa. Apa bakal kuat, ya?

Setelah dipikir-pikir, enggak ada salahnya, kan, backpacking saat berpuasa? Malah kalau puasanya tetap tahan sampai maghrib, itu menjadi prestasi tersendiri! Belum lagi ada Festival Ramadhan yang diselenggarakan oleh http://www.burufly.com/, fix saya harus ikut! (Monggo kunjungi BuruFly untuk info travelling lebih lengkap!)

Akhirnya setelah membulatkan tekad, saya mendaftar trip ini. Yeay!

Berangkat!

Setelah berbuka puasa dan shalat maghrib, berangkatlah saya menuju tempat berkumpul. Halte BNN Cawang. Setelah menaklukkan bus Trans Jakarta yang penuh dan menghadapi jalanan yang macet, tibalah saya di halte BNN Cawang pada pukul 20:23. Di sana saya bertemu langsung dengan Rossy, sang pimpinan agen perjalanan. Ternyata trip ini diikuti 2 orang bule asal Perancis!

Setelah berkenalan dengan beberapa anggota trip–ada Ian, Winny, Aji, dan Krista–pada pukul 21:20 kami berangkat menggunakan bus kecil. Ujung Kulon, I’m coming!

Saya penasaran, di antara 20 anggota trip ini, berapa orang, ya, yang berpuasa?

Tepat pukul 22:00 malam, bus berhenti di tempat peristirahatan tol Merak. Waktu berhenti selama 30 menit saya manfaatkan untuk makan malam dan shalat Isya. Sekembalinya ke bus, Bung Rossy berkata, “Jadi yang puasa besok, ada Tofan, Winny, dan Rina?”

Wow, cuma bertiga! Pertama kalinya saya merasakan menjadi minoritas😛

“Yaaa,” jawab kami serempak. Ternyata yang lainnya memang tidak berpuasa. Ujar Bung Rossy, nanti kami bertiga akan sahur duluan, tidak bersama-sama dengan yang sarapan.

Sehabis itu saya langsung berkenalan dengan Rina. Seorang muda yang selanjutnya saya panggil Kak Rina ini ternyata sudah memiliki anak. Walau usianya sudah kepala 3, tetapi wajahnya masih awet muda. Selain mengurus rumah tangga, keseharian Kak Rina mengawasi pabrik jamu skala rumah tangga miliknya. Sementara Winny adalah seorang karyawati di pabrik semen. Usianya kepala 2. Setelah mengeksplor, ternyata saya sendirian yang usianya masih kepala 1, dan berpuasa pula.

Sahur dan sarapan

Setelah melalui perjalanan yang luar biasa–kemacetan, truk di sana-sini, jalanan rusak dan gelap–sekitar pukul 04:00 kami tiba di Sumur, Banten. Katanya ini sudah dekat dengan Ujung Kulon. Saya yang masih setengah sadar diajak untuk makan sahur.

Kirain, makanannya sudah dibungkus dari Jakarta dan tinggal dibagikan di bus. Lalu makannya di bus juga. Ternyata kami turun dari bus, dan berjalan kaki mencari warung makan.

“Ini pasar terakhir, sehabis ini sudah tidak ada pasar lagi. Makanya kita makannya di sini,” ujar Rossy.

Setelah berjalan sekitar 40 meter, kami bertemu dengan warung makan sederhana. Ada lauk ayam, daging, dan sayuran. “Ambil aja, ya!” ujar Rossy. Tapi bapak penjaga warung berkata lain.

“Nasinya habis, Mas.”

Waduh! Bagaimana ini? Mata saya yang sebelumnya mengerjap-ngerjap ngantuk langsung segar seketika. Paniklah kami bertiga. “Wah, kita beli roti aja apa ya?” ujar Kak Rina dengan panik.

Ngomong-ngomong roti, kebanyakan roti yang beredar di Indonesia jenisnya sourdough. Bukan roti gandum yang mengenyangkan. Mau makan 10 bungkus rasanya juga tidak seperti makan nasi.  Maklum, sebab gandum tidak tumbuh di Indonesia.

Tapi separah-parahnya memang lebih baik makan roti, ketimbang tidak sahur sama sekali.

Belum sempat beli roti, Rossy sudah mengajak kami kembali lagi ke bus. Waduh, bagaimana ini? Kami belum sahur dan tidak membawa makanan di ransel kami!

Beruntung kami bertemu warga lokal dan mengatakan kalau sekitar 300 meter ke arah Ujung Kulon ada warung padang. Menggunakan bus, kami berjalan menuju warung padang. Setelah turun dan bertanya, ternyata nasi dan lauknya masih ada. Alhamdulillah.

Pak supir memesan rendang. Supaya seragam, kami ikutan memesan rendang. Entah karena lapar atau memang enak, masakan padangnya terasa nikmat di lidah. Saya sampai menambah nasi satu porsi. Setelah selesai makan sahur, kami bertiga plus pak sopir kembali lagi ke bus dan melanjutkan perjalanan.

2013-07-28 16.52.10

Rumah singgah di Sumur

5 menit setelah adzan subuh, kami tiba di pesisir sumur. Menuju rumah singgah. Di sana, teman-teman yang tidak berpuasa langsung ngopi-ngopi atau minum teh. Kami bertiga duduk-duduk saja di teras sembari melihat langit yang sangat bersih dan bertaburan bintang.

Hal unik yang membuat saya tersenyum simpul adalah, teman-teman yang tidak berpuasa “hanya” sarapan menggunakan nasi + telur rebus balado + sayur kacang panjang. Wah, kami yang berpuasa sangatlah bersyukur!

Menyeberang lautan

Setelah sarapan dan mandi pagi (bagi yang ingin), ada briefing dari Rossy sebagai “ketua perjalanan”. Sehabis itu kami langsung menuju pantai. Jarak dari rumah singgah ke pantai tak sampai 100 meter. Herannya tidak terdengar deburan ombak sama sekali.

Briefing oleh Rossy (paling kiri sedang memegang handphone). Dari kiri ke kanan: Rossy, saya, Aji, Apu, dan Kak Rina

Briefing oleh Rossy (paling kiri sedang memegang handphone). Dari kiri ke kanan: Rossy, saya, Aji, Apu, dan Kak Rina

Di pantai Sumur, tak sampai 100 meter jauhnya dari rumah singgah

Di pantai Sumur, tak sampai 100 meter jauhnya dari rumah singgah

Foto-foto dulu sebelum jalan!

Foto-foto dulu sebelum jalan!

Ternyata pantainya sangat-sangat-sangat-sangat tenang. Bagaikan danau. Pantas saja tidak terdengar deburan ombak sama sekali. Kemudian tak lama setelah mengambil foto, kami harus melalui untuk mencapai perahu getek! Waaah, badan bakalan terendam ini. Setelah memasukkan barang elektronik ke bagian teratas tas, kami langsung menerjang air laut!

Ternyata (lagi), pantainya sangat-sangat landai. Walaupun kami berjalan sekitar 30 meter, tetapi yang basah hanya sampai lutut saya. Hmm, mungkin sekitar 60 cm kalau dihitung secara empiris😛

Di pantai, warga sedang melakukan perdagangan ikan. Ikan tongkol sebesar paha, hanya 50 ribu rupiah!

Di pantai, warga sedang melakukan perdagangan ikan. Ikan tongkol sebesar paha, hanya 50 ribu rupiah!

Setelah naik getek, kami harus naik kapal agak besar ini untuk menuju Pulau Handeleum dan Pulau Peucang, Ujung Kulon.

Setelah naik getek, kami harus naik kapal agak besar semacam ini untuk menuju Pulau Handeleum dan Pulau Peucang, Ujung Kulon. Kapal di atas bukan kapal yang saya naiki.

Perjalanan dari Sumur menuju Handeleum (yang kalau diukur lewat Google Maps jaraknya hanya 12 km) ditempuh selama 1,5 jam. Perjalanan ini sangat lama karena kapal yang kami tumpangi memang tidak berjalan cepat. Setibanya di Handeleum, saya langsung berfoto (dengan muka ngantuk karena baru bangun tidur).

Tiba di Handeleum!

Tiba di Handeleum!

Di Handeleum ada banyak rusanya lho.

2013-07-27 08.42.26

Kapal karam di Handeleum

Ternyata kami tiba di Handeleum untuk registrasi berkano. Setelah selesai registrasi, kami naik kapal lagi dan menuju Pulau Handeleum bagian dekat muara Sungai Cigenter. Dari muara sungai, saatnya berkano!

Cobaan saat berkano

Saat berkano ini, cobaan datang. Yang namanya laut, panasnya luar biasa. Meskipun memakai topi, tapi tetap saja panas sangat menyengat dan membuat dehidrasi. Belum lagi harus ikut mendayung supaya kanonya bergerak. Wah, makin-makin deh lelahnya!

Untungnya semakin masuk ke sungai, panasnya mulai mereda. Ini berkat pepohonan yang tumbuh di tepian sungai.

Sungguh pemandangannya luar biasa indah. Sayangnya airnya agak keruh karena banyaknya lumpur. Tiba-tiba di “kilometer” kesekian, sang jagawana yang juga berperan sebagai pemandu kami berkata kalau di tempat yang kami lewati adalah jalur menyeberang badak!

Lumpur-lumpur itu sering dilewati oleh badak

Lumpur-lumpur itu sering dilewati oleh badak

Ujar jagawana itu lagi, badak ini cukup sering menyeberangi sungai untuk mencari makan. Pernah suatu ketika sang jagawana ini sedang berkano bersama pengunjung, dan melihat badak! Namun badak itu memang sungguh pemalu: pergerakan tidak normal sedikit saja membuat badak itu kabur.

Oh ya, kami juga belum memiliki kesempatan untuk bertemu badak😦

Berikut foto-foto saat berkano😀

2013-07-27 09.05.07

Kano dari “depan” Pulau Handeleum ditarik oleh kapal. Cuacanya panas sekali, lho!

IMG_1520

Di muara sungai

IMG_1644

Saya bersama tim berkano. Pak jagawana duduk di belakang

Scenery di Sungai Cigenter

Cerita bapak jagawana tentang badak

Menuju Pulau Peucang

Ternyata rumah singgah di Sumur tadi pagi bukanlah tempat kami menginap. Kami menginap di Pulau Peucang, 3 jam jauhnya dari Pulau Handeleum. Perjalanan siang hari yang super panas menuju Pulau Peucang kami lalui. Heuh, angin laut siang itu rasanya menyiksa sekali dan menggoda saya untuk berbuka puasa.

Berangkat dari Handeleum pukul 10-an siang, akhirnya tiba juga di Pulau Peucang pada pukul 13-an. Dari situ kami langsung menuju “barak” penginapan. Ada yang menaruh barang bawaan, ada yang mandi, bahkan dua bule asal Perancis langsung nyebur ke laut!

Arnaud, salah satu bule yang langsung nyebur

Ini adalah barak tempat kami menginap. Ada 4 barak di Pulau Peucang ini. Yang ini namanya "Fauna"

Ini adalah barak tempat kami menginap. Ada 4 barak di Pulau Peucang ini. Yang ini namanya “Fauna”

View 180 derajat di kawasan Pulau Peucang tempat kami menginap.

View 180 derajat di kawasan Pulau Peucang tempat kami menginap. Klik untuk memperbesar

Ruang berkumpul di barak penginapan. Banyak sekali poster-poster jadul yang sudah enggak eye-catchy.

Ruang berkumpul di barak penginapan. Banyak sekali poster-poster jadul yang sudah enggak eye-catchy.

Kamar yang seharusnya untuk 2 orang kami "sulap" dengan "membuang" dipannya sehingga sanggup mengakomodir 5 orang!

Kamar yang seharusnya untuk 2 orang kami “sulap” dengan “membuang” dipannya sehingga sanggup mengakomodir 5 orang!

Di pulau ini juga ada banyak satwa yang berkeliaran. Katanya satwa ini sengaja ditaruh di sini, bukan alami dari sananya.

Monyet nakal di barak. Tidak boleh diberi makan, lho.

Monyet nakal di barak. Sulit sekali difoto. Monyet ini tidak boleh diberi makan, lho, karena khawatir akan “tuman” kalau diberi makan terus.

Rusa yang kakinya terluka. Ada banyak sekali rusa di sini.

Rusa yang kakinya terluka. Ada banyak sekali rusa di sini.

Sekawanan celeng alias babi hutan yang mengais-ais makanan.

Sekawanan celeng alias babi hutan yang mengais-ais makanan. Yang paling kiri nampaknya sudah siap-siap nyeruduk. Untungnya saya enggak diseruduk. Sejauh saya di sana, babi hutan ini enggak nakal.

Ada juga burung merak. Tetapi saya enggak ketemu hewan pemalu yang satu ini. Saya cuma menemukan bulu meraknya saja. Ternyata bulu merak itu ditopang oleh “rangka” yang seperti sedotan–yes, literally; ternyata seleksi alam adalah penemu sedotan. Jadinya meskipun megar besar, burung merak tidak merasa keberatan dengan bulunya yang luar biasa indah.

Lihat segaris putih di bawah "mata" bulu merak tersebut? Itu benar-benar seperti sedotan!

Lihat segaris putih di bawah “mata” bulu merak tersebut? Itu benar-benar seperti sedotan!

Selesai menaruh barang di penginapan, saya langsung menuju ke laut! Nyebur!

Byah, meskipun saya enggak menelan airnya, tapi ada beberapa bagian yang merasuk ke lidah. Asinnya luar biasa! Langsung saya muntahkan saja. Saya mencoba berenang ke tengah, mumpung lautnya tenang. Ternyata pantainya sangat curam. Baru beberapa meter ke tengah, dasar air lautnya sudah sangat dalam!

Setelah puas berenang, Bung Rossy mengajak kami snorkling. Kirain tempat snorklingnya hanya 100 meter dari tempat kami berenang, ternyata jauh dan “memaksa” kami naik kapal.

Snorkling

Alat snorkling. Gambar diperoleh dari kidnesia.com

Saya yang belum pernah snorkling sama sekali, dibuat bingung oleh alat snorkling. Ternyata untuk bagian matanya, digunakan tak hanya untuk menutup mata, tetapi juga menutup hidung. Kemudian alat untuk bernapasnya digigit.

Wah, niat saya untuk snorkling langsung surut. Habisnya belum tentu alat snorkling yang akan saya sewa sudah benar-benar suci hama dari pengguna sebelumnya. Belum lagi saya sedang berpuasa. Takutnya menggigit-gigit beginian malah membuat saya tidak terbiasa dan menelan air laut yang berakibat pada batalnya puasa saya.

Alhasil saya turun ke laut dengan menggunakan kaca mata renang. Yang seperti ini lebih oke, sebab saya sudah terbiasa!

Tetapi yang namanya berenang di laut dengan di kolam renang memang beda: sedamai-damainya ombak air laut, tetap tidak sedamai air kolam renang. Alhasil ada saja air laut yang merasuk ke tenggorokan. Air laut yang luar biasa asin juga membuat tenggorokan tersiksa. Bagi yang tidak berpuasa, mudah saja meminum air untuk mengusir panasnya tenggorokan. Masalah belum selesai di sini: air laut yang dalam juga membuat kaki saya harus terus menerus melakukan gaya katak: saya yang sudah bertahun-tahun tidak berenang jadi kagok dibuatnya.

Anyway, batu koral di pantai Pulau Peucang ini luar biasa! Indah sekali. Ikan-ikannya juga sungguh indah. Sayang saya tidak punya kamera tahan air, jadinya tidak mengambil gambar apapun di sini.

Melihat banteng di Cidaon

Selesai snorkling, kami pulang dahulu ke Peucang untuk berganti pakaian. Sialnya, saya yang tertidur kelelahan di kapal tidak dibangunkan dan harus rela memakai celana renang saat ke Cidaon!

Cidaon yang jaraknya 15 menit dari Peucang ternyata masih berada di Pulau Jawa. Luar biasa sekali, berputar-putar sana-sini, kami masih sangat dekat dengan Pulau Jawa.

Setelah berjalan kaki ke dalam sejauh 200-an meter, kami bertemu dengan lapangan luar biasa luas habitat banteng liar Ujung Kulon. Hewan yang bernama latin Bos javanicus ini tak ubahnya seekor sapi. Hidupnya juga bergerombol layaknya sapi. Makanannya pun rumput.

Yang menyebalkan, semakin banteng ini didekati, semakin jauh jarak banteng ini dengan kami. Jadi saya tidak mengambil gambar si banteng yang mirip sapi ini.

 

Dari tepian Cidaon, Pulau Jawa, kami masuk menuju lapangan luas.

Dari tepian Cidaon, Pulau Jawa, kami masuk menuju lapangan luas.

2013-07-27 16.50.53

Cidaon. Klik gambar untuk memperbesar

IMG_2106

Berpose di “lapangan” Cidaon.

IMG_2236

Loncat dulu!

2013-07-27 16.51.43

Tanpa alasan jelas dan tanpa dilindungi apa pun, tulang-tulang banteng berserakan di gazebo Cidaon

Ini kepalanya

Ini kepalanya

Karena hari sudah sore, tak lama kemudian kami kembali lagi ke pantai.

Menikmati sunset di Cidaon

Sekitar pukul 17:00 kami sudah berkumpul lagi di dermaga Cidaon. Kebetulan airnya sedang surut: nampaknya kalau sedang pasang, airnya bakal tinggi sekali!

Kami pun menikmati sunset di Cidaon.

Pemandangan 180 derajat arah luar Cidaon

Pemandangan 180 derajat arah luar Cidaon

Pemandangan 180 derajat arah menuju Cidaon

Pemandangan 180 derajat arah menuju Cidaon

Menunggu matahari terbenam

Menunggu matahari terbenam

2013-07-27 17.37.36

Masih di Cidaon, pukul 17:37

2013-07-27 17.40.48

Iseng-iseng memotret batu koral, sembari menguji makro kamera ponsel. Ternyata hasilnya oke juga.

Berbuka puasa!

Akhirnya saat yang dinantikan tiba juga. Sekitar pukul 17.50 kami kembali lagi ke Peucang. Setibanya di Peucang, kami bertanya oleh jagawana yang menggunakan sarung: ujarnya sudah maghrib!

Alhamdulillah.

Terlepas dari batal atau tidaknya puasa saya karena (tidak sengaja) menelan air laut, saya berhasil melaksanakan puasa hari ini, full! Karena makanan belum disiapkan, saya berbuka dengan roti yang sengaja disisakan kemarin hari.

Luar biasa. Perjalanan yang sempat membuat saya ragu karena akan mengganggu jadwal puasa, ternyata tidak mengganggu sama sekali. Sekarang, tinggal urusan besok: apakah besok masih tetap kuat berpuasa atau tidak.

Selepas berbenah diri, kami semua berdua puluh makan malam. Makan malam kali ini disponsori oleh ikan laut, cumi-cumi, ayam goreng, dan sayur sop. Oh iya, saya memberi tips buat teman-teman untuk selalu membawa alat makan sendiri-sendiri. Sebab alat makan yang disediakan oleh penginapan belum tentu terjamin kebersihannya.

Sakit tenggorokan

Saat makan malam, saya merasakan ada yang aneh di tenggorokan. Hm, sepertinya saya terserang radang. Benar saja, sulit sekali untuk menelan makanan. Perih sekali tenggorokan ini.

Edo, salah satu teman Rossy mengamini symptom yang saya alami. Ini memang radang, dan nampaknya umum terjadi karena korosifnya (?) air laut. Snack yang saya bawa tidak saya makan sama sekali, dan saya berikan ke teman-teman peserta. Fuh.

Setelah makan malam, saya langsung minum obat. Ingin jalan-jalan ke luar dengan harapan bisa meringankan rasa sakit. Eh terpaan angin malam justru membuat badan tersiksa. Alhasil setelah meminta foto dari kamera teman-teman, saya pergi tidur.

Sahur

Pukul 4 teng saya terbangun. Tiba-tiba baju yang saya pakai sudah terbalik. Haduh, ada insiden apa ini (?)

Sambil menunggu makanan sahur, saya ke luar mencari angin. Maklum di dalam gerah. Sedihnya tenggorokan saya belum membaik jua walaupun sudah diberi parasetamol dan minum jahe hangat dari Winny. Makin ragu untuk ikut berpuasa atau tidak.

Tetapi karena sudah niat sebelumnya, saya ikut makan sahur bersama Kak Rina dan Winny. Kali ini makan sahurnya dengan ikan laut balado, ayam goreng, serta sayur sop. Ada teh dan kopi panas juga. Nikmat sekali.

Setelah santap sahur, saya menunggu subuh. Akhirnya subuh juga, dan dimulailah perjalanan puasa hari ini.

Trekking

Pagi ini agendanya adalah trekking menyeberangi pulau menuju Karang Copong. Di situ ada pantai yang indah, dan lokasinya tinggi di atas karang.

Pulau Peucang dan Karang Copong

Pulau Peucang.

Sebelum ikutan, saya sudah diperingati oleh Edo supaya tidak ikutan. Katanya jaraknya jauh, nanti bisa dehidrasi lalu enggak kuat puasanya. Belum lagi Kak Rina dan Winny tidak ikutan trekking juga. Tapi saya ngebandel, dan ikutan trekking. Masak sudah bayar 610 ribu, tidak ikutan trekking juga? Sayang dong😛

Bersyukur di dalam hutan tidak banyak nyamuk dan tergolong teduh.

2013-07-28 08.08.13

Trekking dulu

2013-07-28 08.13.53

Pohon yang luar biasa besar

2013-07-28 08.24.09

Ada banyak pohon aneh di sini. Sayangnya tidak semuanya diberi papan nama.

2013-07-28 08.28.11

Meliuk-liuk

Berjalan

Berjalan

Setelah berjalan selama 1 jam persis (saya berani bertaruh jaraknya pasti 3 km), kami tiba juga di Karang Copong. Oh iya, sebelum meraih Karang Copong, kami harus mendaki bukit karang terlebih dahulu. Medannya tidak terlalu sulit, kok.

2013-07-28 09.12.26

Pemandangan di Karang Copong

2013-07-28 09.14.51

Pemandangan 180 derajat di Karang Copong

2013-07-28 09.24.33

Bule Perancis dan beberapa anggota trip sedang menikmati pemandangan

2013-07-28 09.44.20

Foto dulu😀

Kata Edo, jika cuaca mendukung kita bisa melihat Gunung Anak Krakatau dari kejauhan. Luar biasa! Sayangnya kami belum berkesempatan melihatnya.

Setelah sekitar satu jam bersantai di Karang Copong, kami kembali lagi ke penginapan. Oh ya, saya menemukan bulu meraknya di sini!

Setibanya di penginapan, Edo nyeletuk, “Tuh kan keringetan banget, dibilangin enggak usah ikutan aja!”

Ah, peduli amat!😛

Pulang

Setibanya di penginapan, saya langsung berbenah diri. Setelah itu langsung menuju ke pantai untuk naik lagi ke kapal dan pulang.

Kami sudah harus pulang. Meninggalkan segala kedamaian dan keindahan di sini.

Pemandangan 180 derajat dari Pulau Peucang

Pemandangan 180 derajat dari Pulau Peucang

2013-07-28 11.20.22

Pemandangan 180 derajat menuju Pulau Peucang

Kami melalui lagi perjalanan pulang menerjang lautan yang panas dan berangin. Berangkat dari Peucang pada pukul 12:00 tepat, kami tiba di Sumur pada pukul 16:00 tepat. Bukan kebetulan!

Yang menurut saya menyebalkan adalah lamanya perjalanan dari Peucang ke Sumur. Sebab saya iseng cek di GPS, ternyata kecepatan maksimal kapal hanya 18 km/jam! Kalau kami naik speedboat di Kepulauan Seribu yang kecepatannya mencapai 44 km/jam, kami bisa mencapai Sumur dalam waktu 2 jam saja.

Ya sudahlah.

Berbuka puasa

Alhamdulillah puasa kedua di Ujung Kulon juga berjalan dengan lancar. Walaupun sempat dehidrasi karena berjalan jauh dan juga angin laut yang panas, tetapi sanggup saya lalui. Prestasi!

Karena saat adzan maghrib posisi kami sedang berada di dalam bus, maka kami berbuka dengan camilan seadanya: keripik singkong. Untuk pertama kali seumur hidup saya buka puasa pakai keripik singkong! Dahaga pun terlepas dengan meminum air putih dan minuman isotonik yang sudah dibeli dari Jakarta.

Yang membuat keder adalah bus tidak kunjung berhenti untuk sekedar mencari nasi bungkus. Mana kami lapar, belum makan sejak subuh. Padahal pak sopirnya juga puasa, tetapi tidak kunjung berhenti. Haduh.

Akhirnya kami yang berpuasa bertanya kepada Rossy. Katanya nanti dicarikan tempat makan oleh pak sopir. Tapi sampai keluar Sumur dan tidak bertemu pasar lagi, bus tidak kunjung berhenti. Rasanya perut ini makin tersiksa saja.

Hingga akhirnya sekitar pukul 19:50 bus berhenti di warung padang! Bung Rossy berkata, “Ya sekarang yang puasa silakan berbuka dahulu.” Luar biasa.

Saat kami turun, tiba-tiba Bung Rossy berkata, “Sekarang sudah di luar paket, ya.” Nahlo. Berarti kami yang berpuasa cuma dapat paket makan 3 kali (sahur, berbuka, sahur), sementara yang tidak berpuasa 5 kali?

Karena pertimbangan itu, saya pesan menu super hemat: nasi + ayam gulai + perkedel + sayur dan sambal. Minumnya cukup air putih dari bus. Sudah. Padahal yang lain ada yang pesan ikan, rendang, peyek udang, sampai es jeruk.

Kemudian Bung Ian temannya Rossy juga berkata, “Ini di luar paket, ya.” Haduh, hampir panas hati ini rasanya. Soalnya waktu sebelum trip, bagi yang berpuasa jatah makannya adalah makan sahur dan berbuka hari pertama, serta makan sahur dan berbuka hari kedua. Saya berkata kepada Ian, “Lho, kemarin katanya berbuka hari kedua ditanggung?”

Eh, ternyata Bung Rossy mengiyakan: buat kami bertiga yang berpuasa, makan berbukanya ditanggung oleh panitia. Yeay! Berkah lagi buat kami yang berpuasa :D Subhanallah, benar-benar berkah tersendiri! Coba kalau saya mengalah pada sugesti kemalasan diri dan tidak berpuasa, pasti tidak akan menemukan sajian senikmat ini.

Setelah makan berat, bus berangkat lagi menuju Jakarta.

Pukul 23:40 kami tiba di Jakarta. Saya turun di Stasiun Cawang, untuk naik kereta menuju rumah. Beruntungnya, saya tidak perlu berlama-lama menunggu kereta: cukup dua menit saja. Oh ya, saya yang menenteng-nenteng bulu merak mengundang perhatian banyak anak-anak maupun orang dewasa😛

Mengantuk

Mengantuk

Turun dari kereta, saya berjalan menuju tempat ojek. Sedihnya, ojek sudah habis. Padahal jarak dari jalan raya menuju rumah saya mencapai 1,5 km. Kemudian saya memberanikan diri untuk mengacungkan jempol dan menyebut kata, “Nebeng!”

Pertama kali ini nyoba nebeng, bersyukur ada yang menebengi saya sampai depan rumah. Luar biasa!

Dan lain-lain

Ada beberapa hal menarik yang baru saya ketahui:

1. Ternyata, rumah singgah yang kami tempati sebentar adalah rumah pemilik kapal yang kami tumpangi 2 hari ini. Wow, luar biasa sekali, ya.

2. Sekembalinya dari Peucang yang indah, saya menemukan kontradiksi di Sumur. Kondisi Sumur tidak lebih indah dari Peucang. Pantainya kotor, pasarnya juga tidak berbau harum. Jalanannya kecil dan rusak di mana-mana. Pemandangan seperti ini tidak terlihat pada pagi hari.

Seandainya saja infrastruktur di sini layak, taraf hidup warga akan meningkat. Bayangkan jika jalan menjadi lebar dan halus, perdagangan warga akan menjadi lancar. Guru-guru yang berasal dari kota tidak akan merasa keberatan jika ditugaskan di Sumur. Jika warga terdidik, maka harapannya warga sekitar tidak hanya menjadi penyedia penginapan. Warga juga bisa menjadi researcher kekayaan alam di Ujung Kulon. Jangan sampai kita ikutan impor peneliti kekayaan alam Indonesia.

Jalan kecil dan rusak di Peucang

Tak hanya itu, pendidikan juga akan membentuk individu-individu kreatif. Misalnya, warga yang semula hanya menjual ikan mentah, bisa menjual ikan yang sudah diberi nilai tambah. Katakanlah, “Ikan Bakar Khas Sumur”. Atau keripik ikan khas sumur. Tentunya ini akan mengundang wisatawan untuk mencoba mencicipi kuliner khas ujung barat Pulau Jawa. Arus uang yang mengalir ke warga Sumur akan meningkat.

Intinya, jangan cuma spanduk rokok dan distributor rokok saja yang sanggup menjangkau pedalaman–yep, di pedalaman seperti ini banyak sekali spanduk dan mural produsen rokok. Pemerintah kita juga harus bisa menjangkau yang ada di pedalaman seperti ini. Mereka juga warga Indonesia, lho!

Yang jelas, ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan!

——

PS: Terima kasih atas foto-fotonya Bung David, Bung Choki, dan juga Winny

Entri blog ini diikutkan dalam kompetisi di Festival Ramadhan BuruFly. Yuk, vote entri ini (cukup cari entri berjudul “Backpacking saat Berpuasa: Ujung Kulon”) di link tadi😀