Literally saya pengangguran. Lagi nganggur pasca UN, menunggu pengumuman dan lain sebagainya. Eh, pas saya baca The New Yorker ada rubrik finansial yang membahas pengangguran….

Ternyata tingkat pengangguran di Amerika Serikat sangat tinggi, hampir mencapai 13 juta jiwa. Angka ini tergolong sangat tinggi melihat jumlah penduduk US 310 juta jiwa, dengan jumlah angkatan kerja sebanyak 150 juta jiwa. Bahkan dibandingkan pengangguran di Indonesia, pengangguran Amerika termasuk sangat tinggi. Dengan jumlah angkatan kerja sebanyak 119,4 juta jiwa, jumlah pengangguran Indonesia mencapai 8,12 juta jiwa (data 2011).

Dari total 13 juta pengangguran, 40%-nya sudah menganggur lebih dari 6 bulan, dengan rata-rata total menanggur selama 40 minggu (10 bulan). Menurut The New Yorker, angka itu lebih fantastis ketimbang pasca Perang Dunia II.

Efek Samping

Menjadi pengangguran bukanlah hal enak. Jangan dibayangkan jadi pengangguran bisa leha-leha di rumah, nonton TV atau tidur sepuasnya. Jadi pengangguran itu beban bagi diri sendiri, sebab tidak ada peningkatan kualitas hidup, tidak ada pendapatan, dan membebani negara.

Menganggur juga tidak baik bagi kesehatan, khususnya bagi pekerja yang sudah cukup tua. Hal ini diamati oleh ekonom Till von Wachter dan Daniel Sullivan. Mereka menemukan bahwa paska PHK besar-besaran tahun 1981, tingkat kematian meningkat pesat.

Efek 1981 tidak berhenti di situ. Banyak studi membuktikan krisis 1981 secara permanen mengurangi pendapatan tenaga kerja yang pernah di-PHK.

Semakin lama menganggur juga berdampak pada semakin sulitnya mencari pekerjaan. Lama menganggur dapat membuat kepercayaan diri dan skill seseorang menurun. Penelitian di Swedia menunjukkan korelasi yang sangat kuat akan hal ini: pekerja yang sudah menganggur, melakukan pekerjaan sesimpel “memproses dan menggunakan info yang tercetak di atas kertas” menurun hingga 5 persentilnya. Wow.

Dan yang pasti, menganggur dapat menjadi momok bagi keluarga. Hal ini dapat memicu stress berkepanjangan yang tidak baik bagi siklus tidur, siklus makan, dan pada akhirnya memicu penyakit yang cukup parah seperti penyakit jantung.