Masih ingat postingan tentang knalpot motor Ducati? Btw, hari itu juga saya ketemu dengan 2 motor Ducati di dua tempat yang berbeda 😀

Di postingan itu juga saya bilang kalau tulisannya belum selesai. Masih butuh dukungan data biar ciamik dan tau alasan knalpot Ducati enggak bikin orang di belakangnya merana.

Tapi ternyata, studi literatur saja enggak cukup 😦

*****

Beberapa poin yang saya coba telusuri buat tau tentang knalpot tentu saja mekanisme kerja knalpot; sistem aerodinamika buangan knalpot; sampai industri knalpot di Purbalingga.

Untuk mekanisme kerja knalpot lumayan gampang carinya. Sistem aerodinamika knalpot, agak sulit. Kendalanya di beberapa poin seperti gas buangan yang tidak boleh menghambat laju motor, apa yang menyebabkan laju buangannya enggak bikin sakit, etc, belum saya pahami secara baik. Maklum, saya enggak dapat mata kuliah aerodinamika 😛

Nah, yang pualing sulit adalah yang terakhir: industri knalpot di Purbalingga.

Okelah di internet ada banyak artikel dari situs berita. Tapi datanya enggak bikin saya puas. Contohnya salah satu artikel bilang bahwa pabrikan mobil Mercedes Benz sempat minta suplai knalpot dari Purbalingga. Sontak saya kaget, masa iya, sih? Soalnya knalpot yang dibuat di Purbalingga masih buatan tangan dan (katanya) secara teknologi belum maju-maju amat. Belum lagi ongkos pengapalan dari Indonesia ke luar negeri (enggak disebutkan ke mana knalpot itu dikapalkan) bakalan tinggi.

Nah, yang begini-begini kalau belum klarifikasi sendiri rasanya enggak puas. Rasanya penasaran juga, gimana sih industri knalpot di sana?

Muncullah satu poin penting: pembuktian empiris dengan datang ke lapangan itu perlu! Selain menambah keyakinan akan data yang diperoleh, bisa menambah pengalaman juga, kan.

Soalnya jujur aja menurut saya masih sedikit sekali tulisan tentang sesuatu hal di Indonesia yang belum mendalam. Contohnya ya si knalpot ini misalnya. Saya belum pernah mendapatkan artikel yang membahas secara mendalam bentuk industri di sana seperti apa, bagaimana mekanisme kerjanya, dan seterusnya.

Sebenarnya yang diperlukan bukan satu tulisan yang mahalengkap. Tetapi lebih baik terdiri dari banyak tulisan, dengan variasi sudut pandang yang diangkat. Yang seperti ini lebih menarik! Soalnya, misalnya dari ratusan ribu blogger di Indonesia, 1000 blogger aja membuat tulisan tentang knalpot Purbalingga, dengan berbagai fokus yang berbeda. Seluruh tulisan tersebut pasti akan membawa insight yang berbeda.

*****

Intinya, sekali-sekali, bahkan seringkali, datang langsung ke lapangan lebih baik ketimbang nungguin data literatur yang enggak kunjung lengkap. Enggak heran kalau Jokowi suka blusukan ke lapangan, ya.

 

Tadi pagi di gang dekat rumah ada bunyi “DREDET DREDET” kerasss banget. Hmm, suara lokomotif kereta nih. Saya yang sedang bermotor mencari sumber suara dredet-dredet tersebut. Ternyata suara sepeda motor!

Ducati.

Mulanya saya apatis, “Halah, paling motor Honda yang stikernya diganti DUCATI.” Tapi setelah diperhatikan baik-baik, Ducati beneran!

Yang naik orang berseragam hijau (tahu lah ya maksud saya). Oke, saya gak akan membahas orangnya. Tapi knalpotnya.

Di foto di atas, terlihat kalau knalpotnya dua, besar-besar, dan mengarah ke muka orang di belakangnya. Saya yang bermotor di belakangnya langsung, “Wah, motor brengsek, pasti asapnya bikin muka sakit!”

Niatannya menjauhi si Ducati, eh, Ducatinya malah melambat. Karena ada di jalan yang sangat sempit (cuma muat untuk papasan dua motor), mau enggak mau harus merapat ke belakang motor besar ini. Ternyata…

Gila, enggak terasa embusan angin panas nan menyakitkan dan menyebalkan dari motor tersebut!

*****

Memang ada harga ada kualitas ya. Knalpot murahan di pinggir jalan yang bikin kuping pengang dan muka panas memang enggak sama dengan muffler yang satu ini. Pun demikian dengan knalpot yang dipakai balap motor MotoGP atau balap mobil F1.

PS: Sebenarnya tulisan ini belum selesai. Nanti akan diperbarui dengan teknologi knalpot yang ada di beberapa mobil, plus beberapa manufaktur knalpot di Indonesia dan luar negeri. Nah, studi literatur tentang ini harus obrak-abrik banyak banget tulisan, dan enggak bisa sehari jadi. See ya!

Btw, saya punya adik-baru-yang-langsung-besar. Ia adalah siswi pertukaran pelajar dari Amerika Serikat. Namanya Ellen, dan dia akan tinggal di rumah kami selama 10 bulan. Baru berjalan 3 pekan, dia sudah belajar banyak tentang Indonesia. Pun demikian dengan saya, menjadi tahu sedikit banyak tentang Amerika–dan menjadi belajar lebih banyak tentang Indonesia.

Ellen cerita kalau dia suka sekali makan buah. Salah satu favoritnya adalah mangga dan jambu biji. Wah, buah tersebut banyak sekali di sini! Alhasil kami beli banyak jambu biji (karena mangga belum musim). Katanya, jambu biji Indonesia lebih enak ketimbang yang biasa ia makan di sana!

Untuk membuatnya lebih takjub, saya tunjukkan pohon jambu biji di halaman belakang. Eh, dia kaget. Ujarnya, “Wah, di sana kami punya banyak tanaman. Tapi tidak ada satupun yang berbuah! Di sini enak ya, tinggal petik saja dari kebun!

Saat itu pula, saya tertegun. Iya juga, ya. Kita punya banyak, sementara negeri nun jauh di sana hanya bisa impor. Seharusnya ini merupakan sebuah prospek besar untuk negeri kita!

Nilai tambah

Dua bulan silam saya membaca buku Indonesia Mengajar, yang mengisahkan para pengajar muda di berbagai daerah. Ada satu tulisan dari Patrya Pratama yang membuat saya trenyuh.

Dikisahkan bahwa sang pengajar muda sedang libur. Ia diajak oleh tetangganya untuk memasang pintu untuk area tambak seluas 10 hektar! Katanya, itu perjuangan yang saaaaaangat berat.

Bayangkan, satu daun pintu tambak saja ukurannya 2×6 meter. Yang harus dipasang, 5 daun pintu! Mungkin adalah hal yang mudah jika bergotong royong memasang daun pintu sebesar itu di atas tanah. Namun ini harus memasang di tambak, yang penuh dengan lumpur. Luar biasa melelahkan.

Setelah berlelah-lelah, saatnya menunggu. Ternyata  untuk tambak seluas 10 hektar hanya menghasilkan 3-5 juta rupiah sekali panen. Kecil sekali, sungguh tak sebanding dengan energi dan waktu yang dihabiskan untuk mengeruk tambak, memasang pintu, dan perawatan! Ujar Patrya, andaikan penduduk lokal memberikan nilai tambah bagi ikan tersebut–katakanlah membuat restoran kepiting bakar, atau keripik kepiting–pastilah hasilnya akan lebih baik dari itu.

Nah, kembali lagi ke jambu biji. Saya menemukan data menarik di internet. Amerika Serikat adalah importir terbesar buah jambu biji, mangga, dan manggis. Sementara itu Indonesia yang notabene bisa menumbuhkan apa saja, tidak termasuk sebagai 10 besar eksportir jambu biji, mangga, dan manggis!

ChartImg

10 besar negara pengimpor jambu biji, mangga, dan manggis

10 besar negara pengekspor jambu biji, mangga, dan manggis berdasarkan nilai ekspor

10 besar negara pengekspor jambu biji, mangga, dan manggis berdasarkan nilai ekspor

Ada beberapa poin yang harus kita perhatikan jika ingin menyaingi dominasi eksportir tiga buah tersebut. Yang pertama, mereka sudah lama menguasai pasar. Dominasi kuat dari mereka akan sangat sulit untuk kita lobi dan penuhi. Selain itu, buah yang mereka ekspor pasti sudah memiliki standar ekspor seperti satu kilogram tidak boleh lebih dari 3 buah. Masih banyak petani buah kita yang belum sanggup memenuhi standar tersebut (Kompas, 2013).

Kalaulah memang kebelet menyaingi Meksiko atau Thailand, kita wajib melaksanakan “swasembada buah”. Artinya kita harus merelakan lahan pangan pokok kita “dirampas” oleh buah-buahan.

Ketimbang mengorbankan yang lebih penting, mengapa kita tidak mengolah saja buah tersebut? Memberikan nilai tambah sehingga menjadi jamu?

Di banyak negara, produk herbal semakin diminati[1-5]. Tren ini bagus untuk kita tangkap. Bukan tanpa alasan, Indonesia telah mengembangkan jamu sejak tahun 850-an. Bahkan beberapa khasiat produk jamu pun sudah teruji secara ilmiah. Belakangan juga makin ramai tren penelitian produk tumbuhan herbal alias biofarmaka. Izinkan saya menyebutkan beberapa.

Di laman Biofarmaka IPB saya menemukan jurnal yang menyebutkan peranan flavonoid yang ada di jambu biji[6]. Beberapa bulan lalu, senior saya mempublikasikan penelitiannya tentang manfaat anonain di biji sirsak. Ujarnya, anonain dapat dimanfaatkan untuk membuat permen anti-rokok.

Bapak Nurul Taufiqu Rachman dari Nanoworld Indonesia mengembangkan jahe nano (bukan nano-nano, ya!) dan memasarkannya ke luar negeri[7]. Ujar Pak Nurul yang sudah memiliki 9 paten ini, jahe nano khasiatnya lebih ampuh ketimbang jahe biasa. Selain itu, produksi jahe nano juga memungkinkan produsen untuk menjual hanya saripati yang benar-benar bermanfaat saja. Tidak berhenti di situ, harga jahe nano bisa mencapai 700 ribu rupiah per kilogram, lain halnya dengan jahe biasa! Luar biasa!

Tentu saja masih banyak data mengenai potensi herbal dari Indonesia yang tak kalah menarik[8].

Ini sungguh menjanjikan. Kita dapat menjajakan produk herbal kita dengan trademark “JAMU”. Bukan herbal biasa. Dengan trademark tersebut, diharapkan tingkan awareness masyarakat global akan jamu menjadi meningkat. Harkat martabat kita sebagai bangsa Indonesia akan terangkat. Peneliti kita pun akan bangga ketika menjelaskan bahwa dirinya adalah peneliti jamu. 🙂

Tak sekedar nilai tambah: paradigma

Tapi di balik berita baik tersebut, kita masih memiliki banyak halangan dan rintangan.

Yang pertama, kita tidak perlu menafikan kenyataan bahwa jamu tidak kece. Penyebab munculnya paradigma ini karena sebagian besar konsumen jamu adalah kalangan menengah ke bawah. Penjaja jamu yang sebagian besar adalah ibu-ibu yang menggendong bakul jamu juga membuat sebagian masyarakat menengah ke atas jengah meminum jamu (Kompas, 2013). Tak heran kalau semakin hari semakin sulit menemukan ibu-ibu penjaja jamu.

Halangan lainnya adalah belum meriahnyanya promosi medis tentang khasiat jamu. Efek sampingnya, kita lebih percaya pada obat-obatan kimiawi, atau “obat cina” yang dijual di toko.

Nah, ini yang perlu kita antisipasi dari sekarang. Jikalau masyarakat Indonesia sendiri belum bangga akan jamu, bagaimana mungkin kita ingin penetrasi jamu ke luar negeri?

Syukurlah sudah terdapat beberapa konter jamu modern yang sanggup menaikkan citra jamu. Sebutlah Kedai Suwe Ora Jamu[9]. Dengan tempat yang modern dan nyaman, kelas menengah atas tak akan sungkan untuk minum jamu.

Kemudian proses saintifikasi jamu juga perlu menjadi perhatian lebih. Dengan mengedukasi masyarakat bahwa jamu adalah herbal yang luar biasa, akan meningkatkan nilai tambah jamu. Atau, iklan dan publikasi bahwa jamu juga melalui serangkaian proses saintifik, juga sanggup meningkatkan harkat martabat jamu di masyarakat.

Tentu saja proses edukasi masyarakat akan pentingnya jamu tidak dapat dilakukan secara instan. Saya pun sebagai penulis masih mempelajari lebih dalam mengenai jamu. Intinya, pembelajaran jamu tiada henti.

Jika tingkat akseptansi jamu di masyarakat sudah meningkat, sangguplah kita menyongsong jamu v2.0. Jamu era modern.

Perlu dorongan segala pihak

Zaman terus berubah. Jamu kini, bukan lagi jamu era kerajaan Mataram di tahun 850-an[10]. Masyarakat kita saat ini lebih kritis, dan tidak neko-neko. Cara pemasaran dan pengembangan harus terus dilakukan.

Jika kita ingin serius tentang jamu, kita harus bekerja sama dengan segala pihak. Mulai dari pemerintah sebagai pemangku kebijakan, swasta sebagai penanam modal, akademisi sebagai peneliti, hingga tim marketing yang bertugas memasarkan jamu.

Sayang sekali pada MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia) produk herbal belum dimasukkan sebagai 22 kegiatan ekonomi utama. Padahal jika kita tilik lebih jauh, herbal menjanjikan banyak keuntungan bagi kita. Pertama, petani tetumbuhan akan diuntungkan. Kedua, peneliti akan senang karena temuannya tentang herbal digunakan. Ketiga, harapannya dengan makin beragamnya penelitian tentang jamu, paten obat herbal dari Indonesia akan meningkat. Paten yang memiliki nilai keekonomian tinggi dapat menjadi sumber pemasukan bagi negara dan penemu. Keempat, nilai tambah akan produk tetumbuhan menjadi nyata.

Mungkin, memang bukan dalam jangka waktu dekat ini jamu menjadi salah satu kegiatan ekonomi utama. Namun, bukan berarti kita harus menyerah. Ingat ujaran Ellen di atas, negeri barat sana tidak sanggup menghasilkan beraneka ragam buah seperti kita. Membudayakan jamu sebagai minuman sehari-hari perlu kita lakukan. Tak semata untuk kesehatan, tetapi juga merupakan rasa syukur kita akan keanekaragaman hayati Indonesia. Juga sebagai rasa cinta kita akan budaya bangsa.

——

Referensi:

[1] http://www.hli.ualberta.ca/en/HealthLawJournals/~/media/hli/Publications/HLR/15-1-Bubela-Caulfield-Boon.pdf
[2] http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK92773/
[3] http://www.euromonitor.com/herbal-traditional-products-in-the-netherlands/report
[4] http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15710790
[5] http://www.nutraingredients-usa.com/Markets/Herbal-supplement-sales-to-hit-93.15-billion-by-2015-Report
[6] http://biofarmaka.ipb.ac.id/biofarmaka/2011/Red%20Guava%20Leaf%20Harvesting%20Impact%20on%20Flavonoid%20Optimation%20in%20Different%20Growth%20Phases.pdf
[7] https://tofaninoff.wordpress.com/2013/01/24/nano-nano/
[8] http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal?start=15
[9] http://www.femina.co.id/shop.dine/makan.di.mana/jamu.yuk.jamu/007/003/400
[10]http://en.wikipedia.org/wiki/Jamu

Ooh, repotnya.

Sudah mulai masuk kuliah lagi. Banyak tugas, banyak kegiatan, banyak yang harus diurus. Terhitung hari ini, nampaknya saya akan jarang menulis. Mungkin postingan yang nongol kebanyakan postingan lomba. Tapi tenang saja, meskipun postingan lomba, saya punya standar tersendiri dalam mengikuti tema lomba dan mem-publish tulisan. Lomba yang semata-mata menonjolkan SEO tidak akan saya ikuti. Kalaupun ikut, mutu tulisan tetap dipertahankan sehingga teman-teman yang membaca blog saya tidak akan kecewa.

Selain itu, saya butuh pemasukan, hehe. Tak ada salahnya juga kan, sebagai juru ketik saya mencari nafkah (lewat ikut lomba)? Toh blog ini juga gratis, tak ada iklan apapun (entahlah, ada teman yang bilang kalau blog saya ada iklannya. Mungkin itu iklan dari WordPress, atau iklan dari tema yang saya pakai?) dan teman-teman tidak saya minta membayar untuk membaca tulisan saya.

Yang penting, selamat membaca dan selamat menulis!

a madeandi's life

Setiap kali mengiklankan buku, saya merasa risih karena merasa berjualan ilmu pengetahuan. Kadang ada yang bergurau, saya beralih profesi jadi salesman. Idealnya, menurut saya, ilmu pengetahuan harus disebarkan tanpa berbayar untuk kemajuan peradaban. Sayang sekali kita tidak hidup di dunia ideal seperti itu. Ada kertas yang harus dibeli untuk membuat buku dan ada tinta yang harus dibayar. Mesin untuk mencetak juga tidak gratis serta orang-orang yang bekerja di industri penerbitan dan percetakan memiliki anak yang harus membayar SPP. Singkat kata, penerbitan buku sudah menjadi industri mapan yang harus menghidupi banyak manusia.

View original post 442 more words