Tadi pagi di gang dekat rumah ada bunyi “DREDET DREDET” kerasss banget. Hmm, suara lokomotif kereta nih. Saya yang sedang bermotor mencari sumber suara dredet-dredet tersebut. Ternyata suara sepeda motor!

Ducati.

Mulanya saya apatis, “Halah, paling motor Honda yang stikernya diganti DUCATI.” Tapi setelah diperhatikan baik-baik, Ducati beneran!

Yang naik orang berseragam hijau (tahu lah ya maksud saya). Oke, saya gak akan membahas orangnya. Tapi knalpotnya.

Di foto di atas, terlihat kalau knalpotnya dua, besar-besar, dan mengarah ke muka orang di belakangnya. Saya yang bermotor di belakangnya langsung, “Wah, motor brengsek, pasti asapnya bikin muka sakit!”

Niatannya menjauhi si Ducati, eh, Ducatinya malah melambat. Karena ada di jalan yang sangat sempit (cuma muat untuk papasan dua motor), mau enggak mau harus merapat ke belakang motor besar ini. Ternyata…

Gila, enggak terasa embusan angin panas nan menyakitkan dan menyebalkan dari motor tersebut!

*****

Memang ada harga ada kualitas ya. Knalpot murahan di pinggir jalan yang bikin kuping pengang dan muka panas memang enggak sama dengan muffler yang satu ini. Pun demikian dengan knalpot yang dipakai balap motor MotoGP atau balap mobil F1.

PS: Sebenarnya tulisan ini belum selesai. Nanti akan diperbarui dengan teknologi knalpot yang ada di beberapa mobil, plus beberapa manufaktur knalpot di Indonesia dan luar negeri. Nah, studi literatur tentang ini harus obrak-abrik banyak banget tulisan, dan enggak bisa sehari jadi. See ya!