Akhir-akhir ini saya jadi rajin banget nulis. Tapi kalau yang ada di otak hanya itu-itu saja, nanti tulisan saya tidak akan berkembang. Tidak aktual, tidak tajam, dan semakin sampah. Mau enggak mau harus rajin baca dan diskusi sana-sini biar tulisannya enggak gitu-gitu aja.

Ngomong-ngomong, saya punya banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak banget wish list majalah yang pingin dilanggan: NewScientist, TIME, Fortune, Forbes, National Geographic, Harvard Business Review, Technological Review, Tempo, Entrepreneur, The Economist, ulalalala masih banyak lagi. Tapi apa daya, uang tak ada. Akhirnya sejauh hidup saya cuma bisa beli ketengan atau kalau lagi benar-benar mepet, ngebajak di internet.

Tapi, bersyukur beberapa bulan terakhir saya dapat rezeki dari beberapa lomba menulis. Sekarang saatnya langganan majalah! Investasi untuk otak!

Pertama kali dalam hidup saya langganan majalah pakai uang sendiri. Saya putuskan langganan TIME. Ini hari bersejarah!

Mahal banget sih, tapi kalau dihitung per edisi jadi murah. Harga langganan per tahun (54 edisi) 918.000 rupiah. Kalau dihitung ketengan, cuma 17 ribu rupiah per edisi. Di toko buku, ketengannya dijual 40 ribu rupiah.

Bukti langganan

Bukti langganan

Kenapa TIME? Mengapa enggak Entrepreneur yang biaya langgannya murah? Atau NewScientist, secara isinya luar biasa keren?

Banyak pertimbangannya. Antara lain isi dari TIME lebih komprehensif. Beda dengan Forbes atau Entrepreneur yang lebih segmented. Belum lagi tulisan saya belakangan ini belum terlalu segmented (karena memang tujuannya untuk ikutan lomba :P), rasa-rasanya sih ini yang paling rasional. Belum lagi edisinya mingguan, semoga bisa meningkatkan english proficiency saya, amin.

Selain itu majalah lain yang super duper keren semacam HBR, Technological Review, atau NewScientist mahalnya luar biasa. Bayangkan, satu tahun 2-3 juta bro! 3 juta! 3 juta!

Ya sudahlah. Kalau saya punya duit, mau saya langgankan segala macam majalah keren di dunia ini.