Senin, 15 Juli 2013

Kalau biasanya setelah makan sahur langsung tidur, kali ini tidak begitu. Kali ini saya mandi pagi-pagi, kemudian menerjang kemacetan di daerah Pasar Minggu.

Libur semester genap ini, saya mengajar di SD tempat saya bersekolah.

Mungkin karena sudah terbiasa bertemu anak-anak di Taman Baca Bulian, saya kali ini sudah tidak deg-degan lagi bertemu anak-anak. Masuk kelas, sudah tahu apa yang harus dilakukan. Pertama-tama, saya harus tegas. Kalau tidak tegas, mereka justru mempermainkan saya. Kedua, memperkenalkan diri. Kemudian anak-anak yang memperkenalkan diri.

Sejujurnya saya belum membuat pakem untuk mengajar kali ini. Otomatis semuanya dilaksanakan impromptu. Langsung saja, tidak ada persiapan apa-apa.

Pada saat perkenalan, kegaduhan pertama terjadi. Anak-anak yang memperkenalkan diri suaranya kecil. Alhasil teman-temannya berisik. Nah, ini saat yang tepat untuk membuat kesepakatan.

Saya tulislah di papan tulis. Kesepakatan 1:

Kalau ada yang berbicara, semuanya harus mendengarkan. Buat yang tidak mendengarkan….

Nah, saya tanya ke anak-anak inginnya diberi konsekuensi apa. Saya minta tiap anak yang ingin mengemukakan pendapatnya mengacungkan tangan. Fifi mengusulkan menorehkan tinta di kumisnya supaya membentuk kumis. Rizky, anak berkacamata yang nampaknya sangat cerdas, mengusulkan scott-jump. Yang lainnya menyuruh lari, dijewer, dijemur, push up, dan sit up. Waduh! Fisik semua!

Akhirnya diambillah kesepakatan: yang tidak mendengarkan, akan menyanyi potong bebek angsa di depan. Kemudian, tambahan dari saya, berdiri di depan kelas menghadap ke siswa selama 15 menit. Tujuannya tak lain supaya mereka sadar.

Semua sepakat. Spidol diketok. Yes.

2013-07-15 09.28.09

Maafkan tulisan saya yang jelek🙂

Lanjut perkenalan. Kalau pertanyaan trivial pertama “tadi makan sahur pakai apa?”, sekarang diganti “hobi kamu apa?”. Bahkan diganti juga menjadi mata pelajaran yang kamu tidak suka apa.

Setelah berjalan sekitar 10 menit, rasanya anak-anak bakalan bosan kalau perkenalan melulu. Toh saya ini yang butuh kenal mereka. Sesama mereka sudah saling kenal. Akhirnya saya ganti: semuanya mengambil kertas satu lembar, dan menuliskan biodata, serta mata pelajaran yang disukai beserta alasannya. Saya minta untuk menuliskan alasan minimal 4 kalimat.

Muncullah kalimat keluhan. “Aduh jangan banyak-banyak dong!” “Aku enggak bisa nulis banyak nih!”

Tapi tidak saya hiraukan. Pokoknya minimal 4 kalimat. Soalnya saya ingin tahu bagaimana progress mereka dalam menulis.

Setelah dikumpulkan, ada hal menarik: mereka menangkapnya “minimal 4 kata”. Hampir seluruh kertas yang dikumpulkan menuliskan 4 kata alasan mereka. Rata-rata jawabannya juga tipikal: pelajarannya gampang; soalnya dapat nilai bagus; dan sebagainya.

Tapi di samping sekian belas anak yang menulis seperti itu, ada 4 anak yang menjabarkan. Tentu saja dengan bahasa sederhana. Kebanyakan struktur kalimatnya belum rapi, bahkan ada yang tidak menggunakan titik koma. Ada juga yang salah dalam menuliskan kosa kata.

Ini menjadi PR guru Bahasa Indonesia.

Dari tulisan mereka bisa diambil kesimpulan beberapa hal: mereka menyukai mata pelajaran karena bobotnya mudah. Selain itu juga karena mereka sering mendapat nilai baik di situ.

Kemudian belum selesai membaca tulisan mereka, kegaduhan terjadi lagi. Banyak anak yang keluar dari tempat duduk, dan berdiri berkeliling kelas. Nah, saya buat kesepakatan lagi: pada saat jam pelajaran tidak boleh berkeliling-keliling kelas atau berdiri tanpa diberi izin oleh guru. Kalau melanggar….

Saya tanyakan lagi ingin diapakan. Hampir semuanya menyarankan untuk memberi hukuman fisik. Waduh, ada apa sih dengan fisik?! Saya tekankan kalau tidak boleh ada hukuman fisik.

Akhirnya muncul inisiatif: memberi kumis di muka, memberi coretan atau bintil-bintil di muka, dan sebagainya.

Hore! Bebas dari hukuman fisik! Akhirnya dicapai kesepakatan menuliskan kumis di muka.

Lama sekali

Dua jam pelajaran rasanya lamaaaaaaaaa sekali. Mana instruksi dari sekolah belum boleh ada pelajaran. Hari ini hanya orientasi. Wajar, sebab mereka belum mendapatkan buku paket. Tapi saya sudah kehabisan bahan! Mau apa lagi ini?

Akhirnya saya masuk ke pelajaran. Saya berikan overview mata pelajaran yang akan dipelajari satu tahun ke depan. Ternyata saat kelas 2, mereka sudah belajar perkalian. Gila!

Setelah selesai overview, saya berikan soal buat yang sanggup menjawab soal. Sesuai dengan KD yang diberikan, hanya menyebutkan angka tempat dari suatu bilangan. Seperti ratusan, atau ribuan, dan sebagainya.

Kemudian bel berdentang. Hore!

Lauren dan Laras

Baru saja saya merapikan kertas-kertas yang baru dikumpulkan, tiba-tiba datang anak kelas lain.

“Kakak, kakak, katanya Bu Eli kakak ngebantuin Bu Eli yaaa. Kenalin aku Lauren!”

Lah kaget saya =))

“Iya, saya ngebantu Bu Eli. Kamu kelas berapa? Itu temanmu namanya siapa?”

“Ini temanku namanya Laras! Aku kelas 4.”

“Ooh gitu,” jawab saya bingung.

“Katanya Bu Eli, dulu kakak sekolah di sini juga yaa? Terus sekarang kuliah di UI yaa? Hebaat! Terus katanya kakak juga rajin dan suka baca yaa?”

Yaampun… jawabnya gimana ini?

“Haha, iya, kalau kamu mau kuliah di UI, rajin belajar juga ya!”

“Kakak agamanya apa? Islam ya? Aku juga Islam, aku cina-cina Islam, hehe.”

Sedih, ternyata anak kecil sudah bisa merasakan hawa-hawa rasis, ya.

“Iya saya Islam. Kamu puasa enggak?”

“Puasa dong! Sampai maghrib!”

Kemudian saat saya bergerak ke ruang guru, Lauren dan Laras nginthil ke ruang guru juga. Supel benar si Lauren ini🙂

Tak lama, Lauren pergi bermain bersama temannya.

Kemudian saya lanjutkan baca-baca tulisan anak kelas 3. Saya coba buat pemetaan mata pelajaran yang mereka sukai. Belum selesai dipetakan, tiba-tiba Lauren dan Laras datang lagi. Hyaduuh =))

Dia bercerita tentang temannya yang cerdas, tetapi tidak boleh sekolah. Ujarnya, temannya itu ranking satu. Tapi dia tidak boleh bersekolah oleh orang tuanya. Setiap kali si anak ini belajar, bukunya ditendang oleh orang tuanya. Hmm, masa sih?

Saya coba eksplor. Ternyata cerita dia konsisten, nampaknya memang dia jujur. Terlepas dari benar atau tidaknya cerita itu, urusan lain. Dia juga menambahkan kalau temannya itu tinggalnya di Duren Tiga, sekitar 6 km dari sekolah. Kalau pergi ke sekolah, dia berjalan kaki. Yaampun masa iya, sih? Sebenarnya pengin ketawa, soalnya cara bercerita mereka lugu sekali, hehe.

Tak lama kemudian bel masuk kelas berbunyi. Daah Lauren dan Laras!

Kemudian lanjut mengisi pemetaan…

Andi sang masinis

Belum selesai memetakan siswa, panggilan untuk masuk ke kelas 5. Oke deh, saya masuk ke kelas.

Saat masuk kelas, anak yang nampaknya paling dominan berkata, “Lho kok beda?”

“Guru baru!”

Yap, saya jelaskan saja kalau saya di situ hanya sebentar, membantu Bu Eli. Btw, suasana di kelas 5 jauh lebih damai ketimbang kelas 3. Mereka sudah lebih dewasa dan bisa menghargai guru yang berbicara di depan.

Saya memperkenalkan diri. Saya cerita juga kalau saya dulu sekolah di situ juga. Kemudian saya cerita kalau SMP di –sensor—. Mereka lalu, “Waaaah!” Saya juga cerita kalau saya melanjutkan SMA di –sensor—. Tapi nampaknya mereka belum mengenal SMA yang rajin jadi langganan banjir ini. Jadi sudahlah.

Begitu saya cerita kalau saya kuliah di UI, langsung mereka “Whoaaaaaa!”

Saya ceritakan lah di Metalurgi & Material belajar apa. Mereka kagum.

Nah, di sesi perkenalan kelas 5, saya buat berbeda. Anak-anak tidak lagi maju ke depan. Mereka saya minta menuliskan di kertas: nama, hobi, cita-cita, alasan mengapa cita-citanya itu, dan juga ingin kuliah di mana. Untuk alasan, saya minta minimal 5 kalimat. Hebatnya, mereka tidak mengeluh.

Eh ada yang nyeletuk, “Cita-cita saya masinis!”

Whoa! You are my friends, dude! Hahaha.

Kemudian, kertas yang sudah mereka tulis dikumpulkan kembali. Variatif sekali jawabannya, ada yang ingin menjadi dokter karena alasan normatif, hingga ada yang ingin menjadi Sabilillah di Palestina🙂

Untuk isian universitas, juga bervariasi. Ada yang ingin kuliah di UI, ada yang ingin di UNJ, di Unas, bahkan BSI. Ada juga yang ingin di Amerika (satu anak).

Selesai membaca penjabaran mereka di atas kertas, saya buat lagi overview yang akan dipelajari di kelas V. Salah satunya adalah sudut tumpul. Saya buat sudut 225 derajat, dan saya minta mereka menghitung sudut tersebut. Yang jawabannya benar, dapat poin. Ada yang jawabannya 135 derajat, ada yang 225 derajat.

Nah, saya baru menangkap malam ini saat menulis ini. Nampaknya yang menganggap sudut itu 135 derajat, karena dia menghitung sudutnya dari kuadran IV ke kuadran III. Bukan kuadran I ke kuadran III.

Tak terasa akhirnya jam pelajaran selesai. (Berbeda halnya dengan mengajar kelas III yang rasanya lamaaaa sekali, hahaha).

PR

Dari pertemuan selama 4 jam pelajaran itu, saya mulai (kebiasaan) mengait-kaitkan beberapa hal. Antara lain tingkat berisiknya anak.

Mulai pertemuan besok, saya berencana membawa buku bacaan ke kelas. Buat anak yang sudah selesai mengerjakan tugas dari guru, atau sedang berbengong ria, lebih baik membaca buku. Harapan saya mereka tidak berisik dan menjadi suka dengan buku.

Yang kedua, tentang kemampuan menulis mereka yang belum begitu fluent. Menulis itu perlu dilatih. Mulai pertemuan berikutnya, mungkin saya bakal meminta anak membuat esai tentang dirinya dan matematika sebanyak satu halaman. Atau ada ide lain, mungkin?

Yang ketiga, untuk membangkitkan minat mereka terhadap matematika, saya mungkin bakalan mencari video menarik tentang matematika di YouTube atau Vimeo. Kemudian membawa proyektor, dan menyetel video tersebut di kelas. Setelahnya, mereka saya minta membuat ringkasan tentang video tersebut. Yang terbaik, saya beri sesuatu. Ada ide apa itu sesuatunya?

Yang keempat, supaya mereka makin minat dengan matematika dan bahan bacaan, saya bakal bawakan naskah tentang matematikawan kondang yang perlu mereka tahu. Mungkin saya bakal menulis sendiri biografi singkatnya. Kalau mentok, ya copas dari internet, hehee. Atau Anda ada yang berkenan untuk membantu saya membuatkan naskahnya?

Begitulah. Ini baru hari pertama. Tapi yang jelas, saya tidak mau 2 bulan “magang” ini tidak membawa warna apa pun.