M4399-v9-NAVY-RESERVE-HISTORY-smKurikulum IPS di Indonesia tidak memuat sejarah dunia, lho. Padahal itu penting.

Ah, masa iya segitu pentingnya? Sejarah kan dibuat oleh yang menang perang.

Yes, sangat penting. Masyarakat kita sejak masih kecil sudah dibuat pasrah dan nelangsa dengan cerita betapa tidak berdayanya kita dijajah Belanda. Sejarah tentang Belanda yang diceritakan pun tentang peperangan yang ada, bukan kemajuan teknologi ataupun peradabannya. Alhasil kita berpikir, wajar saja lah kalau dijajah. Zaman dulu, kan, dunia secara rata-rata mash terbelakang.

Padahal tidak begitu nyatanya. Kita salah satu yang (maaf), terbelakang. Kita dihujani dengan utopia sebagai bangsa pelaut tangguh dan pedagang sukses. Ya, itu keren. Tapi tak ada salahnya menengok Romawi yang sanggup membikin Colloseum pada zaman sebelum masehi. Atau peradaban Pompeii yang hancur karena Gunung Vesuvius. Lalu era Renaissans yang sanggup melahirkan tokoh besar berpengaruh seperti Leonardo da Vinci dan Machiavelli.

Sementara kita di masa SD, hanya dikenalkan bahwa kerajaan Kutai memiliki sejarah publikasi penyerahan sapi. Tak ada apa-apanya dibandingkan dunia luas! Tidak ada cerita-cerita tentang Rene Descartes yang hebat, atau kemajuan sains kimia sejak era Dalton. Haiyah. Alhasil kita tidak berpikir bahwa dari zaman dahulu pun sesungguhnya kita sudah sangat tertinggal.

Akhirnya masuklah ke zona nyaman. Ujung-ujungnya tidak terpikir oleh kita untuk menyaingi negara lain.

Maka tak heran kalau wacana kemajuan hanya sebatas dongeng semata. Tidak sampai ke dunia nyata. Lha wong kita tidak tahu!

Urgensi memasukkan mata pelajaran sejarah dunia di kurikulum sekolah sudah sangat mendesak. Sayangnya Kurikulum 2013 hanya disusun selama 3 bulan. Jadi, begitulah. Apalah artinya pendidikan, kalau tidak mencerahkan?