Belakangan ini banyak terpajang spanduk penolakan kenaikan harga BBM. Lucu juga sih melihatnya. Kemudian beberapa saat lalu, makin ramai juga nih yang membahas ini. Kastrat BEM FTUI juga mendukung penolakan kenaikan harga BBM.

Saya sempat “menertawakan” ini di twitter. Hingga ada yang “nyentil” saya. Maaf ya. Oke, let’s talk seriously.

*****

BBM adalah komoditi yang makin lama makin menipis. Beberapa tahun silam, banyak kajian yang menekankan bahwa jika konsumsi energi (BBM, gas, dan batu bara) tetap sama seperti saat publikasi itu diterbitkan, maka energi fosil kita akan habis pada tahun 2050. Tetapi mengingat penggunaan BBM saat ini justru semakin menggila, kemungkinan akan lebih cepat habisnya.

Yang namanya barang langka, di manapun pasti harganya tinggi. Itu sudah hukum alam, jika permintaan besar namun penawarannya rendah maka harga barangnya akan melonjak tinggi. Ibaratnya Lamborghini bikin Veneno (yang notabene cuma dijual 3 unit) enggak mungkin satuannya dijual 500 juta rupiah. Pasti lebih tinggi dari itu.

Kalau komoditi yang sebenarnya langka tetapi harganya tetap ditekan supaya tidak naik, imbasnya akan sampai ke anak cucu. Mungkin kita masih ingat dengan utang Indonesia kepada IMF dan tetek bengeknya pada zaman Soeharto yang membuat Indonesia cukup kewalahan hingga 2005. Jangan sampai gara-gara BBM, anak cucu kita kewalahan karena perbuatan tetua dan pemudanya.

Sebenarnya sudah ada banyak sekali kajian-kajian dari segi ekonomi, sosial, hingga kerugian ekonomis dari subsidi BBM. Banyak pula opini yang menjelaskan tentang keburukan dari subsidi BBM. Ada tulisan tentang pengaruh ketidaktegasan pemerintah akan subsidi BBM dengan rupiah dan IHSG. Ada juga tulisan yang secara gamblang berkata bahwa HARGA BBM SEBENARNYA TURUN 19%, tidak tetap. Ada lagi opini Pak Rhenald Kasali tentang bahayanya meracuni generasi dengan subsidi BBM. Kalau mau yang ilmiah, bisa dilihat kajian BEM FEUI mengenai keharusan dinaikkannya harga BBM. Untuk dokumen pendukung tulisan Denni Purbasari seperti Neraca Pembayaran Indonesia bisa dilihat dari situs Bank Indonesia. Bahkan ada penjelasan mengenai subsidi BBM (energi) yang sebenarnya subsidi dari United Nations Environment Programme bisa dilihat di sini. Untuk koreksi dari opini Felix Siauw dan penjelasan tentang pengolahan minyak mentah yang tidak murah bisa dilihat di situsnya Romeo Gadungan.

Sesungguhnya masih buanyak lagi tulisan dan dokumen lainnya yang bisa dieksplorasi. Saya juga pernah 3 kali menulis tentang subsidi BBM di blog ini. Ini tulisan saya mengenai kenapa tidak mungkin menghapus peredaran Premium bagi kendaraan bermotor, tentang mengerikannya kondisi Jakarta jika dipenuhi motor karena harga Premium yang murah meriah, dan tentang anggaran pendidikan yang jauh-jauh-jauh lebih kecil ketimbang anggaran subsidi BBM.

Ada juga twit yang menjelaskan laporan dari BP kalau minyak dan batubara Indonesia akan habis dalam jangka waktu 10 tahun ke depan

Efek BBM murah yang menyebabkan Jokowi kewalahan menangani kemacetan Jakarta

Data bahwa harga minyak di negeri kita termasuk yang terendah dari negeri-negeri lain di ASEAN

Memang sih harga BBM kita rendah sekali. Makanya menaikkan harga BBM perlu. Setelah dinaikkan, pemerintah wajib memberi grant kepada masyarakat berdaya beli rendah lewat BLT.

Penjelasan bahwa di balik murahnya harga BBM justru membuat jerat baru: rendahnya daya beli masyarakat kita yang menyebabkan sopir taksi tidak sanggup jalan-jalan ke Singapura

Dan fakta bahwa subsidi BBM di negara kita tidak berfungsi untuk mendorong inovasi dan riset

Di samping semua itu, masih sedikit sekali yang bicara tentang dampaknya terhadap lingkungan. Maka sebagai mantan aktivis Greenpeace Youth, saya mau bicara tentang lingkungan di sini.

*****

Kita tinggal di bumi ini, dengan menggunakan segala sumber daya yang ada. Termasuk minyak. Sayangnya penggunaan minyak yang besar-besaran justru membuat semakin parah kondisi pemanasan global di bumi ini.

Dari beberapa laporan, buku, koran dan majalah setinggi tubuh saya yang telah saya baca, pemanasan global adalah sebuah keniscayaan. Jika kita tidak bergerak, bumi ini semakin panas, panas, dan akhirnya mengalami katastrophe.

Beberapa hari yang lalu, masthead harian Kompas membawakan berita yang seram: Basah Sepanjang Tahun 2013. Memang tidak bisa disimpulkan bahwa fenomena ini adalah salah satu pertanda pemanasan global. Tetapi kalau merujuk beberapa artikel yang menunjukkan bahwa pemanasan global membuat negeri yang kering menjadi basah, dan yang seharusnya basah menjadi kering, kita harus waspada.

Harga BBM di Indonesia yang (jika mengikuti inflasi) telah turun sebesar 19% ketimbang kondisi tahun 2009, akan membuat pemborosan yang luar biasa. Harga BBM yang murah menyebabkan kelas menengah lebih memilih membeli kendaraan pribadi (motor/mobil) ketimbang naik kendaraan umum.

Padahal tak hanya mobil pribadi yang menggunakan Premium, tapi motor yang notabene irit juga menggunakan Premium. Perlu diketahui bahwa kendaraan umum seperti bus berbahan bakar diesel efisiensi mesinnya mencapai 40%. Lain halnya dengan motor atau mobil berbahan bakar bensin yang efisiensi bahan bakarnya hanya 20%. Ini merupakan pemborosan yang luar biasa. Efek bagi lingkungan sangat berat.

Bicara Jakarta, sekarang bicara daerah. Bagaimana dengan di daerah yang daya belinya rendah, harus dibuat lebih rendah lagi? Caranya dengan membangun infrastruktur. Misalnya dibuat jalur dobel trek dari Sumatera sampai Papua. Efisiensi kereta api lebih besar ketimbang truk, ongkos mengirim barang menggunakan kereta api juga lebih murah dan cepat ketimbang menggunakan truk (harian Kompas). Hasilnya diharapkan produk-produk daerah bisa terjual cepat dan kualitasnya lebih baik karena tidak kelamaan di jalan. Diharapkan ekonomi warga daerah meningkat.

Setelah infrastruktur maju, maka secara langsung akses terhadap hal-hal lain di daerah akan meningkat juga. Kakak senior saya pernah bercerita bahwa di daerah asalnya, di Sulawesi, tidak ada jalan. Akhirnya ia berpindah ke Timika, dan merasakan kehidupan di sana. Padahal di Timika, menurutnya, infrastruktur tidak sebaik di Jakarta. Jika infrastruktur bisa baik, imbasnya:

1. Perdagangan lebih lancar. Masyarakat desa bisa menjual hasil buminya ke kota, dan kota bisa menawarkan produknya ke desa. Setelah itu diharapkan pendapatan masyarakat desa akan meningkat. Gizi mereka akan meningkat, dan seterusnya.

2. Akses terhadap pendidikan lebih mudah. Banyak kan cerita tentang anak SD yang harus meniti tali untuk menyeberangi sungai saat berangkat sekolah. Banyak juga cerita tentang guru yang tidak sanggup menjangkau sekolah karena jarak antara sekolah dengan rumah guru mencapai 3 jam jalan kaki. Kalau ini bisa teratasi, sungguh sangat baik.

3. Maju. Memang tidak langsung, tetapi butuh proses. Lebih baik maju untuk jangka waktu yang lama, ketimbang tidak tersiksa sebentar bukan?

Sebab pada dasarnya, mengutip definisi dari UNEP, subsidi energi itu ada banyak macamnya. Tidak harus menurunkan harga BBM di tingkat konsumen. Tetapi bisa berupa grant untuk pengembangan infrastruktur, grant penelitian, dan sebagainya.

Macam-macam bentuk subsidi

Macam-macam bentuk subsidi

*****

Murahnya harga BBM juga akan membuat sakit hati peneliti yang menggaungkan energi baru dan terbarukan. Banyak lho peneliti cerdas Indonesia yang menggiatkan panel surya, fuel cell, dan energi terbarukan lain tapi pindah ke luar negeri karena di tanah airnya, temuan itu tidak dikembangkan. Tak usah jauh-jauh dan tak perlu sebut nama, ada kakak kelas saya yang beterbangan ke luar negeri karena penemuan cerdasnya tidak dihargai lebih di sini. Bagaimana mau beralih ke tenaga surya yang biaya investasinya mahal, kalau toh kita masih bisa hidup dengan bensin yang murah?

Padahal, tenaga surya adalah salah satu disruptive technology yang ada saat ini. Kalau kita tidak buru-buru masuk ke dalam pasar dan riset ini, kita akan tertinggal jauh dan tidak mampu mengejar teknologi yang lain. Intinya, kita harus move-on lah ke energi terbarukan. Untuk bacaan lebih lanjut mengenai disruptive technology dan established technology, sila baca The Innovator’s Dilemma. Buku super keren dari Harvard Business School tentang teknologi dan alasan kenapa banyak perusahaan dan lembaga lain yang kalah saing di balik teknologi.

Balik lagi ke lingkungan. Memang emisi karbon kita tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan Amerika Serikat atau China. Tetapi selagi emisi karbon di negeri sendiri bisa diturunkan lewat menaikkan harga BBM (yang nantinya akan mengurangi konsumsi BBM dan mendorong penggunaan energi terbarukan), kenapa tidak? Toh kita juga turut serta menjaga keberadaan bumi kita.

Selain itu, anggaran yang disimpan dari subsidi itu bisa kan dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur. Kasihan pemimpin yang ingin pro rakyat lewat ingin membangun infrastruktur mantap nan kokoh tapi digagalkan oleh minimnya alokasi APBN untuk infrastruktur. Kasihan juga pemimpin yang sudah mengalokasikan anggarannya besar-besar untuk bus kota, tetapi masyarakatnya tidak ingin berpindah ke bus kota dengan alasan sama macetnya dengan naik kendaraan pribadi.

Jangan sampai gara-gara BBM yang melulu disubsidi, nanti negeri kita jadi konsumen BBM terbesar di dunia. Karena enggak bisa move-on ke energi baru dan terbarukan, kita tertinggal dari negeri lain dan justru lumpuh selumpuh-lumpuhnya.

Yang terakhir, memang sih muluk-muluk banget. Tapi jangan sampai pula gara-gara ketagihan BBM,  bumi kita jadi seperti di film Wall-E…..