Ada yang menarik dari newsletter Unicef tentang kasus gizi buruk di Indonesia. Angka kematian ibu saat melahirkan dan angka kematian bayi menurun. Tetapi angka kematian balita sebelum berulang tahun ke-5 tergolong tinggi: mencapai 150.000 kematian setiap tahunnya. Ini disebabkan oleh buruknya gizi yang diperoleh anak-anak balita, khususnya di daerah pelosok.

Padahal gizi adalah salah satu faktor penting dalam kemajuan. Lewat gizi yang baik, perkembangan akan optimal. Perkembangan yang optimal memudahkan anak memperoleh pemahaman saat belajar. Kalau gizi optimal, pertumbuhan oke, bakalan baik untuk anak itu sendiri dan lingkungannya.

4 sehat 5 sempurna

Marilah cerita tentang sains di balik gizi yang baik. Fase pertumbuhan terpesat anak-anak berada pada 1 tahun pertama kehidupannya. Berat bayi pada saat usia 1 tahun mencapai 3 kali berat saat baru dilahirkan. Pada saat usia 2 tahun, beratnya “hanya” 4 kali lipat berat saat baru lahir.

Kita juga perlu menelaah dari perkembangan otaknya. Otak adalah organ yang terpenting dalam sejarah evolusi manusia. Karena otak, manusia bisa berpikir dan berkreasi. Karena otak pula manusia memiliki kelebihan ketimbang hewan-hewan.

Iklan di televisi tentang otak bayi yang berkembang sangat cepat ada benarnya. Bagian otak terpenting manusia, prefrontal cortex, mengalami perkembangan pesat di usia bayi. Prefrontal cortex adalah yang berperan penuh dalam kognitif setiap manusia. Perkembangan terpesat itu terbukti dari proses myelinasi pada setiap akson. Myelinasi adalah penyelubungan syaraf dengan selubung myelin.

Terlepas dari itu, otak manusia adalah organ paling rakus energi di seluruh tubuh. Ia mengonsumsi hingga 30% total energi tubuh. Kalau asupan energi dan nutrisi ke tubuh tidak baik, tentunya asupan ke otak juga tidak baik. Pertumbuhan tidak maksimal.

Kondisi di kota besar

Masalahnya kekurangan gizi ini enggak cuma ada di daerah-daerah pelosok. Tapi di ibukota pun masih banyak sekali anak yang kekurangan gizi. Baik kekurangan gizi berupa protein, omega 3, omega 6, dkk.; maupun kekurangan “gizi” seperti lingkungan yang sehat dan orang tua yang penyayang.

Di ibukota Jakarta saja masih bisa ditemukan ibu hamil yang tidak memperhatikan asupan gizinya. Ada yang tidak meminum susu ibu hamil, tidak mengonsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna, dan banyak juga yang lebih suka jajan sembarangan di pinggir jalan.

Setelah lahir, ada anak yang tidak diberi ASI eksklusif 6 bulan. Bahkan ada orang tua yang “tega” memberi nasi bulat-bulat dan sayuran tanpa diblender kepada anak yang belum berusia 12 bulan. Mereka masih belum mampu mengunyah!

Kasihan sekali anak-anak yang tidak mendapat cukup gizi saat di dalam kandungan dan saat masih balita. Namun lebih sedih lagi yang tidak mendapat gizi optimal saat usia sekolah. Di sekolah, anak justru dihadapi dengan jajanan menjijikkan seperti ayam goreng seharga 500-an, siomay palsu yang menggunakan pengawet, lolipop dengan pewarna mengerikan, dan sebagainya.

Ini baru dari segi nutrisi. Ada juga anak yang tidak mendapat “gizi kehidupan” dari orang tuanya. Seperti tidak mendapat teladan baik, keluarga tidak terbiasa hidup bersih dan sehat, dan orang tua yang suka berkata kotor dan keras.

Memang benar pertumbuhan anak sekolah tidak sepesat anak berusia 0-12 bulan. Namun tetap saja itu masa pertumbuhan. They deserve good nutrition. Anak yang gizinya tidak baik tetapi mendapat pendidikan bagus, hampir pasti tidak lebih baik ketimbang anak yang gizinya baik plus mendapatkan akses pendidikan baik.

Makanya bagi setiap orang tua yang dikaruniai anak, wajib hukumnya untuk memberi asupan gizi baik kepada anaknya. Kalau tidak sanggup, ya jangan punya anak dulu. Tidak memberi gizi baik kepada anak sama dengan dzalim kepada anak dan negara.

Anak zaman dulu gizinya tidak baik, tapi sukses

Banyak yang memberikan argumen kalau anak-anak desa zaman dulu gizinya tidak baik, tapi toh ada saja yang sukses. Misalnya, ada anak yang hanya makan seperempat telur. Terdengar pula kisah tentang keluarga yang hanya makan daging sekali setahun (daging Idul Adha), namun anak-anaknya banyak yang sukses. Bahkan Chairul Tanjung pun katanya cuma makan singkong.

Eh, jangan dilihat di sini saja. Lingkungan zaman dahulu berbeda dengan sekarang.

Orang tua saya cerita, kalau dulu mencari ikan itu mudahnya luar biasa. Ada kubangan sedikit saja, pasti ada ikan. Kalau sedang hujan, jalanan bisa dipenuhi ikan yang berloncatan dari kubangan. Di sawah mudah sekali ditemui ikan. Di sungai juga masih banyak ikan. Maklum, sawah dan sungai zaman dulu masih bersih dari bahan kimia.

Nah, ikan-ikan ini yang menunjang gizi anak-anak zaman dahulu. Mungkin juga di beberapa tempat lain ada anak yang memperoleh gizi alternatif dari perkebunan milik tetangga, atau hewan ternak milik orang tuanya.

Terlepas dari “bonus gizi” tersebut, kondisi rata-rata perolehan gizi anak zaman dahulu tidak setinggi sekarang. Sekarang zaman telah berubah. Rata-rata perolehan gizi per manusia lebih tinggi ketimbang 50 tahun silam. Jadi jangan beralasan anak zaman dahulu gizinya buruk masih bisa sukses. Sekarang anak yang hanya bermodalkan gizi baik saja belum tentu baik.

Sayang anak, sayang anak.