Berita tentang kepergian teman dari Fakultas Ekonomi angkatan 2012, Arradan T. Bumowarso, sungguh menyayat hati. Sebab yang menjadi akar dari masalah tersebut adalah palang perlintasan kereta api. Seorang Arradan yang sedang terburu-buru menerabas palang perlintasan yang telah menutup. Tak dinyana kereta sudah dekat dengan perlintasan. Malangnya, Arradan disambar KRL yang lewat. Malaikat maut tak bisa dicegah, nyawa Arradan tak tertolong. Padahal malam itu seharusnya Arradan pergi ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah umroh.

Pekan lalu juga ada kasus serupa di perlintasan fly over Tanjung Barat. Sepeda motor disambar KRL, dan menyebabkan jalanan dari Universitas Pancasila sampai Tanjung Barat macet total!

Sebenarnya dari dulu sudah muncul wacana tentang penghapusan perlintasan sebidang. Salah satu idenya adalah dengan membangun jalur kereta layang dari Manggarai – Bogor. Ada juga ide membuat terowongan (underpass) untuk lewat kendaraan maupun manusia. Tetapi semuanya membutuhkan dana yang sangat besar. Mencapai milyaran rupiah. Tak ada yang hanya menghabiskan jutaan atau puluhan juta rupiah.

Menurut saya pribadi, yang menjadi akar permasalahan dari munculnya kecelakaan adalah lamanya waktu tutup palang perlintasan KRL. Bukan urgensi dari pembuatan proyek membangun underpass ataupun jalur kereta layang. Toh di Amerika masih banyak ditemui perlintasan sebidang. Jepang yang perjalanan komuter terbesarnya menggunakan KRL juga masih banyak ditemui fumikiri, alias perlintasan sebidang.

Mungkin terdengar gila, karena waktu tutup yang lama saja banyak menyebabkan kecelakaan, apalagi waktu buka yang sebentar. Angka kecelakaan lebih tinggi lagi dong? Tapi tidak seperti itu adanya. Berikut penjabarannya.

Dulu saya menjadi konsumen layanan KRL selama 3 tahun. Sudah sekitar 3 bulan ini saya intensif mengambil sampel waktu tutup palang perlintasan sebidang. Untuk di perlintasan sebidang jalan layang Tanjung Barat, lamanya di kisaran 2 menit. Untuk di Pondok Cina, jika kereta yang lewat menuju utara (Jakarta Kota dan Tanah Abang), lamanya bisa mencapai 2,5 menit. Di perlintasan sebidang antara Pasar Minggu dan Pasar Minggu Baru juga bisa mencapai 3 menit.

Di Pondok Cina, Tanjung Barat, Pasar Minggu Baru, dan Duren Kalibata, palang perlintasan bisa menutup lama sekali karena faktor lokasi stasiun dan palang perlintasan. Dalam kasus ini, saya akan mengangkat empat stasiun: Pondok Cina, Tanjung Barat, Pasar Minggu Baru, dan Duren Kalibata.

Stasiun Tanjung Barat

Stasiun Tanjung Barat

Stasiun Pondok Cina

Stasiun Pondok Cina

Lokasi Stasiun Pondok Cina dan Duren Kalibata tergolong sangat-sangat dekat dengan perlintasan sebidang. Hanya ~20 meter. Sedangkan Pasar Minggu Baru dan Tanjung Barat tergolong dekat-jauh.

Untuk kasus Stasiun Pondok Cina dan Tanjung Barat, kereta yang menuju ke arah utara (ke atas) haruslah berhenti dahulu di stasiun untuk mengangkut penumpang. Masalah muncul di sini: kereta masih jauh dari stasiun, palang perlintasan sudah ditutup. Belum lagi kereta yang akan lewat tersebut tentunya berhenti dahulu di stasiun, dong. Lama palang tertutup bisa mencapai waktu untuk bikin mie instan. Seringkali pengendara motor gatel yang bisa menerabas palang kereta gatel untuk menerabas.

Kebiasaan menutup palang sebelum kereta masuk stasiun dimulai saat masih ada Pakuan Ekspress. Kereta masih jauh dari muka stasiun. Mengingat laju Pakuan sangat cepat, palang sudah ditutup. Alhasil palang kereta menutup dalam tenggat waktu singkat, tak sampai 3 menit. Biasanya satu menit pun sudah lama sekali.

Tapi kondisi saat ini sudah tidak ada lagi kereta ekspress (Pakuan). Seluruh kereta sudah berhenti di tiap-tiap stasiun. Kalaupun ada kereta yang melaju langsung (alias tidak berhenti di stasiun dekat perlintasan), biasanya itu Bumi Geulis jurusan Sukabumi yang lewat tiap siang dan sore sehari sekali, atau Kereta Luar Biasa (KLB) yang lewat paling-paling hanya sebulan sekali. Ada baiknya kebiasaan menutup palang sebelum kereta masuk blok sinyal stasiun dihilangkan. Toh jikapun kereta mengalami rem blong, masinis dengan petugas perlintasan bisa saling berkomunikasi, supaya palang bisa menutup lebih awal.

Ditambah di perlintasan jalan layang Tanjung Barat ada lampu pengatur lalu lintas. Sering kali ketika lampu lalu lintas bagi penyebrang rel menyala hijau, palang perlintasan turun. Ketika merah, palang perlintasan terbuka, dan ketika hijau kembali, palang perlintasan turun lagi. Hal ini menyebabkan macet luar biasa panjang dan membuat pengendara tak sabar serta emosi. Tak pelak banyak pengendara yang tak sabaran lantaran macet sudah panjang sekali.

Stasiun Duren Kalibata

Stasiun Duren Kalibata

Stasiun Pasar Minggu Baru

Stasiun Pasar Minggu Baru

Untuk di Pasar Minggu Baru dan Kalibata pun kasusnya serupa. Hanya saja bedanya palang menutup sangat lama ketika kereta yang lewat adalah kereta yang menuju ke selatan (Depok dan Bogor). Di Pasar Minggu Baru, jarak antara stasiun dengan palang perlintasan sangat jauh, bisa mencapai 1 km. Tetapi lagi-lagi kereta belum masuk stasiun Pasar Minggu Baru, palang perlintasan sudah ditutup. Padahal ketika kereta tiba di stasiun, kereta tersebut pasti berhenti terlebih dahulu untuk menaik-turunkan penumpang.

3 menit memang sangat sebentar. Tetapi jika dibandingkan dengan nyala merah lampu lalu lintas yang ada di kisaran 50-110 detik, 3 menit sangatlah lama. Jika saat lampu lalu lintas warnanya merah mobil-mobil berseliweran, maka tidak demikian dengan palang perlintasan.  Di perlintasan, kereta hanya lewat selama 10 detik. Hal ini memunculkan rasa penat, bosan, dan buang-buang waktu.

Dari sini bisa diambil pelajaran dari perlintasan sebidang liar yang dikelola warga. Saya perhatikan angka kecelakaan di situ hampir nol. Sebab petugasnya meski suka rela, tetapi sangat bertanggung jawab. Jika ada pengendara kendaraan yang menerobos, dia akan berteriak-teriak marah. Pun demikian palang perlintasan yang dibuat mereka benar-benar menutup jalan sampai tak ada celah untuk lewat. Sangat berbeda dengan perlintasan sebidang yang diatur resmi: palangnya tidak menutup seluruhnya, waktu tutupnya lama, dan seringkali membuat kemacetan yang sangat panjang.

Ada baiknya jika perlintasan sebidang resmi juga dibuat seperti perlintasan yang dikelola warga. Misalnya standar waktu tutupnya dibuat maksimal 30 detik. Tentunya dengan sosialisasi terlebih dahulu kepada masyarakat, supaya masyarakat (terutama pengendara sepeda motor) mau langsung berhenti saat bunyi “nung-nung-nung”. Palang perlintasan juga dibuat lebih rapat, supaya tidak ada yang bisa menerabas.

Saya sudah mencoba membuat surat pembaca di berbagai media, tetapi belum dimuat. Mungkin ide waktu tutup yang sebentar terdengar gila. Tapi ini lebih rasional daripada kebijakan membuat rekaman wanita membacakan UU Kereta Api yang mengatur palang perlintasan, seperti yang pernah dilakukan beberapa tahun lalu. Selain itu, tidak membutuhkan banyak uang, dan lebih murah!