Manusia adalah makhluk super! Tentu bukan super seperti Superman dari Planet Crypton, tapi super karena daya pikir dan khayalnya yang luar biasa. Karena akalnya, manusia dapat membuat suatu peradaban luar biasa seperti yang ada saat ini. Perlu diketahui bahwa makhluk-makhluk sebelum manusia tidak ada yang bisa membuat gedung bertingkat 800 meter, bendungan sebesar Jatiluhur, atau membunuh jutaan ikan hiu. Makhluk sebelum manusia juga tidak dianugerahi oleh ilmu pengetahuan dan agama. Hebatnya lagi, semua ini dilakukan manusia dalam waktu hanya ~10.000 tahun. Dibandingkan dengan usia usia planet bumi yang mencapai 4 milyar tahun, angka 10.000 tahun tidak ada apa-apanya.

Munculnya teknologi mutakhir dan berbagai budaya yang menarik membuat manusia suka berkhayal. Seperti apa ya masa depan kita? Kalau Anda pernah membaca Doraemon yang berlatar waktu tahun 1970-an, digambarkan bahwa dunia abad 21 (saat ini) dipenuhi dengan mobil terbang, skateboard terbang, lift super cepat, hingga mesin waktu. Bahkan Doraemon memiliki baling-baling bambu, kan. Terlihat obsesi terbangnya besar sekali. Di film Back to the Future yang dibuat tahun 1980-an juga menggambarkan bahwa tahun 2015 dipenuhi dengan mobil terbang. Buku-buku science fiction Isaac Asimov juga memenuhi masa depan dengan mobil terbang super cepat. Asimov juga berkhayal bahwa pesawat akan bisa menjelajah antar planet dengan cepat dan murah.

Yang bikin sedih, semua prediksi terang-terbangan itu salah. Buktinya sampai detik ini rencana suatu industri untuk membuat “sesuatu terbang” tidak terdengar. Kalau diangkat ke media, mobil terbang juga sudah enggak greget lagi😦

Kalau dikaji lebih dalam, menggunakan mobil terbang malah lebih banyak ruginya. Bayangkan saja jika kita harus menyediakan lahan untuk landasan pacu mobil. Pesawat membutuhkan landasan pacu sekitar 1 km. Mungkin mobil hanya membutuhkan 200 meter. Tapi 200 meter itu bukan “hanya”! Tak mungkin setiap keluarga memiliki satu landasan pacu. Jika pun ada landasan pacu berbayar, pasti orang akan mengantre panjang supaya mobilnya bisa terbang.

Kalaupun mau mobil terbang tidak memiliki landasan pacu, mobil itu harus seperti helikopter. Namun mobilkopter masih membutuhkan helipad! Udara yang disemburkan mobil ke bawah untuk menciptakan daya angkat juga akan luar biasa besar dan mampu merusak lingkungan di sekitarnya. Huayolo.

Dengan menggunakan mobil terbang juga tidak ada jaminan bepergian lebih cepat dan aman. Langit akan semrawut karena tidak ada “jalan” di udara. Siapa tau ada saja mobil dari samping kanan melaju dengan kecepatan tinggi dan sistem radar pada mobil tidak menyadari. Bahaya sekali, bukan? Sebab itu harus berhati-hati dan mungkin malah memperlambat perjalanan.

Apalagi, sekarang sudah ada internet…  internet membuat segalanya lebih mudah, lebih cepat, dan lebih murah. Internet membuat manusia bisa “berpindah” secepat cahaya. Adanya Skype membuat kita bisa berinteraksi dengan kawan yang jauhnya sekian ratus atau ribu kilometer di sana. Dengan email, kita tak perlu repot-repot pergi ke kantor pos untuk mengirim dokumen penting. SMS juga memudahkan kita mengirim ucapan selamat hari raya dengan mudah dan murah. Internet lah pembunuh gagasan mobil terbang.

Buat yang pernah belajar TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) baik di SMP maupun SMA pasti kenal dong dengan ARPANet. Nenek moyang internet yang lahir tahun 1966 ini adalah inisiasi dari universitas riset di Amerika Serikat. Untuk pembiayaannya, ditanggung oleh Kementerian Pertahanan Amerika Serikat.

ARPANet semula hanyalah jaringan yang menghubungkan 4 perguruan tinggi di Amerika Serikat: UC Los Angeles, UC Santa Barbara, Stanford Research Institute, dan University of Utah. Tak lama berselang, tepatnya tahun 1966, Donald Davies membentuk jaringan semacam ARPANet di National Physical Laboratory, UK. Amerika Serikat tertarik dengan temuan Davies. Akhirnya Mark I network buatan Davies ini “diakuisisi” oleh ARPANet. Pada tahun 1973, Perancis tak mau ketinggalan dan membuat CYCLADES. Masih konsep networking yang sama. Kemudian lahirlah Telenet, Minitel, dan net-net lain. Seiring berjalannya waktu, jaringan yang akan membentuk internet terus menerus membesar dan membesar.

Jika sekarang internet bisa digunakan untuk mengirim atau menerima file yang besar datanya mencapai ratusan megabyte, bahkan petabyte. Namun pada mulanya, ARPANet hanya mampu mengirimkan 2 huruf: l dan o. Charley Kline, seorang mahasiswa UC Los Angeles bermaksud mengirimkan kata “login” kepada Stanford Research Institute, di Menlo Park. Namun ketika terkirim, yang tiba hanya tulisan “lo” dan jaringan tersebut rusak.

Pada mulanya ide internet dianggap buruk. Internet tidak diyakini bisa membawa perubahan besar bagi dunia. Sebutlah Robert Metcalfe, penemu ethernet. Ia pernah berkata seperti ini,

“I predict the Internet will soon go spectacularly supernova and in 1996 catastrophically collapse.” (Translasi: Aku memprediksi bahwa internet tak lama lagi akan menjadi supernova (bintang yang meledak terang sekali karena hampir mati), dan pada 1996 akan runtuh secara serempak.)

Clifford Stoll juga pernah mengkritik internet lebih pedas daripada Metcalfe. Begini bunyinya

“The truth is, no online database will replace your daily newspaper, no CD-ROM can take the place of a competent teacher, and no computer network will change the way government works.”

Well, well… Stoll adalah penemu ethernet. Itu lho, kabel untuk jaringan LAN. Beliau lulusan Harvard, universitas top-tier di dunia. Namun prediksinya yang berani itu nyata-nyata salah. Saat ini internet hampir menguasai dunia. Setiap orang mulai dari di desa hingga di luar angkasa bisa mengakses internet! Bahkan banyak sekali orang kaya di dunia ini lahir dari generasi internet. Contohlah Jeff Bezos, pendiri Amazon. Atau Andrew Darwis pendiri Kaskus. Mereka lahir dari generasi internet!

Lewat internet, mencari sesuatu bukanlah hal yang sulit. Jika tahu kata kuncinya, tinggal mencari di Google dan mendapatkan jawabannya hanya dalam satu laman pencarian. Jika tersesat di jalan, bisa mengunduh aplikasi peta di internet, lalu koneksikan dengan GPS akan menemukan jalan keluarnya. Seorang penulis bisa menulis karyanya di internet dan membagikannya gratis. Seorang Justin Bieber dan Sinta Jojo lahir dari YouTube. Jika malas pergi untuk berbelanja karena macet, bisa klik-klik barang yang akan dibeli di website toko tersebut, dan dalam hitungan hari, bahkan jam, barang akan sampai di rumah.

Ngomong-ngomong tentang belanja online dan barang tiba dalam hitungan jam, teman saya Vika pernah belanja tablet. Jam 8 pagi dia transfer uangnya, dan jam 11 siang hari itu juga, barang sudah ada di depan rumah!

*****

Dari mobil terbang dan internet, marilah kita beranjak dahulu. Kita sekarang melongok kepada handphone mini.

Pertama kali ditemukan 30 tahun silam, tepatnya September 1983, handphone berukuran sangat besar. Sebesar ini:

The brick, handphone pertama di dunia ini beratnya 1 kg. Sebesar lengan, lebih kecil sedikit. Kalau dipakai kira-kira sebesar ini:

Gile, besar banget. Tapi masih ada yang lebih besar lagi. Contohnya koper ini:

Keren bukan!

Tapi tren tahun 1990-an akhir menunjukkan ukuran handphone mulai mengecil. Apalagi rata-rata handphone digunakan hanya untuk berkomunikasi. Jika ingin mengambil gambar, cukup gunakan kamera. Ingin berinternet, gunakan komputer. Saya juga sempat baca di majalah Bobo terbitan tahun 2002-an, yang menunjukkan bahwa handphone bisa ditanam di antara gigi. Sehingga pengguna tidak perlu mengantongi benda berat dan tebal yang berfungsi untuk menelpon. Jika ingin melakukan panggilan, cukup berbicara kepada handphone kecil itu, dan panggilan akan dilakukan. Suara dari lawan bicara akan terdengar lewat induksi tulang.

Saya juga pernah baca tentang wacana bahwa handphone akan semakin kecil, kecil, dan kecil. Bahkan sampai ditanam di dalam tubuh. Err…

Masih ingat Nokia 7380?

Handphone buatan tahun 2006 itu cukup menunjukkan tren handphone yang semakin kecil. Tapi seiring dengan mengecilnya ukuran chip (yang berarti ukuran mesin handphone semakin kecil), produsen handphone justru menanamkan fasilitas lain yang tak penting. Sebutlah kamera, pemain musik, tombol QWERTY, hingga layar HD.

Semula saya juga skeptis dengan kamera di handphone. Untuk apa ada kamera di handphone? Toh kamera beneran lebih ergonomis, enak dipakai, hasilnya lebih bagus pula. Udah gitu harga handphone berkamera mahal banget, lebih baik beli handphone murah dan kamera yang bagus sekalian. Dapat hasil jepretan yang bagus, dan tetap bisa telpon-telponan tanpa mengeluarkan kocek dalam.

Sayangnya dewasa ini handphone yang cuma buat nelpon dan SMS jadi aneh. Enggak praktis amat kalau mau bepergian perlu bawa banyak gadget. Ditambah dengan iPhone besutan Apple yang menggunakan layar besar (yes, layar 3,5″ saat itu tergolong sangat besar dibandingkan handphone lainnya), tren handphone menjadi besar, semakin besar, dan semakin besar.

Samsung pun meluncurkan Galaxy Mega, handphone berlayar 6,3 inchi. Bagong.

Bye bye ide handphone yang ditanam di gigi. Kau tidak menarik bagiku.

*****

Hal menarik lainnya yaitu listrik AC (alternating current). Perlu diketahui bahwa jenis arus listrik ada dua, yaitu searah (DC) dan bolak-balik (AC). Listrik DC ditemukan oleh Thomas Alva Edison, sedangkan AC oleh Nikola Tesla.

Ceritanya begini, dahulu adalah era pertama adanya listrik. Kedua inventor ini tentunya mempromosikan produknya. Saat itu jalannya promosi sengit sekali. Karena listrik masih merupakan hal baru, maka rata-rata masyarakat masih takut-takut dengan listrik. Takut tidak aman.

Salah satu cara promosinya adalah lewat gajah.

Ketika itu untuk mempromosikan keamanan listriknya, seorang Alva Edison menggunakan gajah untuk disetrum. Edison menyetrum gajah sebanyak 2 kali lewat arus DC temuannya. Hasilnya, gajah memang kelelahan, namun tidak mati. Begitu gajah yang sama disetrum dengan listrik AC temuan Tesla, gajah tersebut mati. Kasihan… (cerita lengkapnya bisa dibaca di buku Electrified Sheep)

Edison juga pernah menyatakan kalimat berikut:

“Fooling around with alternating current is just a waste of time. Nobody will use it, ever”.

Nyatanya saat ini listrik lebih banyak ditransmisikan dengan arus AC. Salah satu alasannya karena lebih murah, sebab listrik AC bisa ditransmisikan sampai jauuh. Tidak seperti halnya listrik DC. Well, percobaan dengan gajah itu terlihat tolol, tapi memang menggelikan.

****

Wuah, sebenarnya masih buanyak lagi prediksi-prediksi yang salah di dunia ini. Tapi enggak akan cukup kalau ditulis di sini. Mungkin lain kali akan diteruskan.

Memang bukan keahlian manusia untuk memprediksi, sebab masa depan memang tidak bisa diprediksi.