Every nation gets the government it deserves.

– Joseph de Maistre (1753-1821)

Sudah satu bulan ini surat kabar memberitakan hectic-nya rekrutmen calon legislatif yang dilakukan oleh partai politik. Seiring dengan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap partai politik (Litbang Kompas, 2012), partai politik berlomba-lomba mencitrakan diri sebagai partai yang bersih dan hanya akan menerima calon yang komitmen dan berintegritas.

Partai Gerindra beriklan satu halaman full di beberapa edisi Harian Kompas. Partai-partai lain pun demikian. Sebenarnya yang menarik bukan iklannya, tapi calon yang melamar.

Karena maraknya pemberitaan di media yang menggambarkan anggota legislatif kerjanya mudah dan enak, maka ribuan warga melamar menjadi calon legislatif. Tapi orientasi mereka lebih kepada mencari mata pencaharian baru, bukan sebagai profesi untuk memajukan kesejahteraan rakyat.

Tengok tulisan yang dimuat di harian Kompas 25 Maret lalu. Lucu deh, kebanyakan berniat mendaftar karena ingin mendapatkan gaji besar. Banyak juga yang latar belakang pendidikannya tidak sesuai syarat. Ada lagi yang ketika ditanya ingin masuk komisi apa jika terpilih, jawabnya Komisi Anggaran🙂

Gawat lah kondisinya jika seperti ini. Banyak pendaftar yang tidak kompeten. Untungnya syarat yang diajukan KPU bagi partai politik supaya bisa masuk ke bursa Pemilu sangat ketat (lihat Pasal 8 UU No. 8/2012). Hal ini memperkecil kemungkinan partai gurem yang fungsinya hanya sebagai “mobil” bagi seorang bermodal yang ingin menjadi anggota legislatif.

Yang jelas mustahil suatu pemerintahan bisa baik, jika kondisi rata-rata masyarakatnya tidaklah baik. Toh pemerintah juga berasal dari masyarakat, bukan malaikat atau jelmaan tuhan. Jika ingin memiliki negara yang baik dan maju, masyarakatnya harus baik dan maju. Jika ingin memiliki pemerintah dan pemimpin yang cerdas dan revolusioner, masyarakat pun harus turut cerdas dan kritis. Jangan sok cerdas dan sok kritis.