Ada satu mahasiswa dari prodi Teknik Komputer, ditanya oleh dosen, “Kenapa kamu mau minat teknik komputer?”

Jawabnya, “Karena saya mau belajar programming.”

Ada yang nyeletuk, “Programming di Fasilkom (Fakultas Ilmu Komputer) dong!”

*****

Sebagai gambaran, mahasiswa tadi berasal dari daerah. No, bukannya saya ingin mendiskreditkan mahasiswa dari daerah. Tapi terjadi kepedihan di sini.

Nampaknya mahasiswa di daerah kekurangan informasi. Mereka yang ingin meng-code sebuah program, justru masuk ke Tekkom karena dipikirnya sama (sama-sama komputer, hanya beda fakultas).Ada yang masuk teknik metalurgi karena (katanya) di situ banyak belajar kimia.

Tidak berhenti di situ. Banyak juga calon pemilih Pemilukada yang salah pilih karena minimnya informasi. Calon yang banyak berkampanye dan pasang spanduk menjanjikan, dikira bagus sehingga dipilih. Sumber informasi paling hanya televisi, radio, atau mulut-ke-mulut yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Sebenarnya kalau saja di setiap satu kecamatan di suatu provinsi luar Jakarta ada satu perpustakaan, nampaknya bisa memuaskan hasrat masyarakat akan informasi. Tentunya tidak dengan mendirikan perpustakaan lalu ditinggal.

Perlu kampanye mengorek informasi. Caranya antara lain bisa dengan penyuluhan, penyebaran spanduk, atau membagi-bagikan buku atau koran gratis kepada warga dalam tempo waktu tertentu secara kontinu.

Hingga nanti pada akhirnya tidak akan ada lagi mahasiswa yang (semoga tidak) salah jurusan. Tidak ada lagi pula masyarakat yang salah memilih pemimpinnya karena kekurangan informasi.

Salah satu mahasiswa Indonesia di Stanford University, Veni Johanna, bahkan berambisi untuk membuat suatu sistem informasi di Indonesia yang komprehensif dan dapat diandalkan.

Read Quote of Veni Johanna’s answer to Indonesia: If you could dedicate your life just to work on one project to make a better Indonesia, what would you do? on Quora

Semoga sebelum Mbak Veni melaksanakan programnya, pemerintah Indonesia sudah peduli terlebih dahulu akan pentingnya informasi. Malu dong, masa untuk pengadaan informasi ke masyarakat, pemerintah harus dicubit dulu oleh mahasiswa kita?