Elon Musk adalah salah satu entrepreneur huebat pol, di samping Sergey Brin & Larry Page (pendiri Google), Akio Morita (pendiri Sony), Bill Gates (pendiri Microsoft), dan Richard Branson (pendiri Virgin Group). Perusahaan yang Elon dirikan terdiri dari multidisiplin, semuanya WAH dan berhasil.

PayPal adalah perusahaan pertama yang Elon dirikan. Karena dia gemar fisika dan sejak kecil sudah berandai-andai akan koloni manusia di planet lain, pada 2002 dia mendirikan SpaceX, perusahaan penerbangan angkasa luar swasta pertama di dunia.

Tidak berhenti di situ, dia juga sangat peduli akan lingkungan hidup, terutama dengan penggunaan kendaraan berbahan bakar bensin. Fakta membuktikan bahwa efisiensi kendaraan bermotor bensin sangat-sangat-sangat kecil. Rata-rata hanya 20%.

Karena “gatel” dengan kondisi ini, Elon mendirikan Tesla Motor. Industri kendaraan bermotor listrik premium pertama yang pernah ada. Tesla Motor hanya dan hanya memproduksi mobil bermesin listrik.

Meskipun Tesla Motor masih tergolong baru (bandingkan dengan Ford yang sudah sejak awal abad ke-20 merajai industri otomotif), Elon Musk dengan sangat percaya diri membuat produk Tesla Motor yang super-premium (baca: mahal) dan inovatif. Hasilnya? Tesla Motor diminati masyarakat dan masuk review Top Gear pula.

Saat ini Elon sedang menginisiasi SolarCity. Perusahaan solar panel yang didirikan dengan berbasis leasing. Dia percaya bahwa tenaga surya akan mendominasi dunia, setidaknya 20 tahun lagi.

Sekarang, bagaimana mungkin seorang Elon Musk menciptakan semua ini?

*****

Richard Branson berkata, “Good people are not just crucial to a business, they are the business!.” Bisnis adalah sekumpulan dari orang hebat! Bukan orang hebat yang penting bagi sebuah bisnis!

Kurang lebih dalam kasus Elon Musk pun demikian. Tontonlah video TED di atas. Lihat mengenai penemuan roket yang setelah diluncurkan (secara vertikal) dapat mendarat lagi (secara vertikal) dengan aman! Itu merupakan inovasi baru yang bahkan sekaliber NASA pun (nampaknya) belum bisa merealisasikannya.

Mustahil Elon Musk mampu membuat inovasi seperti itu, sendirian.

Dia membutuhkan banyak tenaga ilmuwan, engineer, bahkan tak pelak filsuf untuk membuat hal seperti itu. Karena rata-rata pendidikan warga Amerika Serikat tinggi, maka ia cukup mudah menemukan orang yang dibutuhkan.

Pemimpin yang hebat, inovatif, dan berpikir jauh ke depan, ditambah dengan kolega yang cerdas dan handal, akan menghasilkan masyarakat yang kualitas hidupnya tinggi.

Prinsip pemerataan di segala sisi ini tak hanya berlaku di segi bisnis dan wirausaha. Namun juga di segi pemerintahan dan birokrasi.

Jika pemimpinnya kuat, namun yang dipimpin tak kompeten dalam menjalankan tugasnya, tentu akan terjadi ketimpangan yang membuat pemimpin tak sanggup menjalankan visi misi pemerintahan dalam sebuah birokrasi dengan baik.

Rakyat pun demikian. Harus terus mengoreksi pimpinan dalam menjalankan tugasnya. Caranya ya bukan dengan bergosip ria tentang pemimpin, atau menonton berita yang isinya tidak mendalam. Tapi baca! Baca tuh koran dan korek seluruh isinya. Lalu kritisi lewat surat pembaca.

Kalau kita flashback ke belakang, yang membuat bangsa Indonesia bisa terlepas dari penjajahan sebenarnya bukan kekuatan bambu runcing. Tapi kekuatan dari intelektualitas pimpinan-pimpinan masa lampau yang hampir merata dan tinggi-tinggi semua. Bayangkan, itu baru pimpinannya, bagaimana jika seluruh bangsa ini sudah terpelajar.

*****

Menciptakan seorang Elon Musk di Indonesia memang bukan perkara mudah. Dibutuhkan dukungan dari semua pihak. Mulai dari seorang ibu yang mampu mendukung anaknya; guru yang berkualitas; hingga sang anak sendiri yang gemar menimba ilmu dan tak takut mengambil resiko.