Sekitar satu bulan yang lalu saya ngobrol santai dengan pembimbing akademis saya yang super jenius, Bapak Akhmad Herman Yuwono. Beliau menamatkan S2 di Cambridge University, dan S3 di NUS. Dua-duanya universitas top-tier.

Saya bertanya kepada beliau tentang kehidupan di NUS. Beliau tinggal di Singapura dari tahun 2001 sampai 2007. Ada beberapa hal menarik yang bisa disimak. Antara lain kiasukehidupan di Singapura, sampai perihal tanah di Singapura.

Ternyata kehidupan di sana memang luar biasa keras, bahkan relatif lebih keras ketimbang di UK. Ibaratnya kalau di UK bertemu profesor masih bisa basa-basi, di Singapura profesor ditemui hanya untuk bicara soal tugas ataupun proyek penelitian. Sudah, selesai.

Untuk urusan kiasu, setiap individu memiliki pilihan akan menjadi kiasu atau woles saja. Karena toh tidak perlu kiasu-kiasu amat juga masih bisa hidup. Itu untuk warga negara bukan-Singapura. Sementara bagi WNS sendiri nampaknya kiasu adalah harga mati. Setiap detik hidupnya diisi dengan bekerja dan berkarya.

Terlepas dari masalah kiasu, hal yang unik adalah ketika Pak Herman mendapatkan kamar sewaan murah. Ibu kostnya pun baik. Ia suka bertegur sapa, dan kadang-kadang memasakkan makanan. Adalah hal yang sangat mustahil menemukan kamar kost yang murah (dan ibu kost yang ramah), mengingat di sana tanahnya sempit dan kebutuhan properti cukup tinggi. Ternyata setelah ditelusur, ibu kost ini masih memiliki darah Indonesia sehingga cukup ramah terhadap beliau.

Ohiya, ngobrol tentang properti, ternyata di Singapura semua tanahnya tidak ada yang sertifikat hak milik. Semuanya bersertifikat hak guna tanah dan bangunan dengan tenggat waktu 99 tahun. Setelah 99 tahun, pengguna tanah dan bangunan tersebut harus berpikir kembali untuk mencari tanah baru. Ternyata tujuan dari semua tanah di-SHGB-kan untuk memudahkan pemerintah mengatur penggunaan tanah sesuai kemajuan zaman. Mengingat luas negeri Singapura yang sangat kecil dan pemerintahnya ingin semuanya serba teratur, tentu akan sulit mengatur tanah-tanah yang bersertifikat SHM di kemudian hari.

Mungkin 100 tahun lagi akan ada perataan seluruh bangunan di Singapura untuk ditata ulang, ya?

Lalu selain masalah tanah, masalah yang paling unik adalah duit dan pride. Bangsa Singapura yang notabene masih mengaktualisasikan diri (belum memasuki zona menikmati hidup seperti UK dan beberapa negara Eropa lainnya), tentu perlu bekerja keras. Selain bekerja keras, mengatur duit.

Bekerja keras saja tak cukup jika tidak ada uang yang banyak. Bagaimana cara mengatur supaya pemasukan kas Singapura besar? Salah satunya adalah penyebaran beasiswa. Dengan menyebar beasiswa yang cukup besar bagi ilmuwan dan periset cerdas, tentunya uang yang akan kembali lebih besar lagi. Bagaimana bisa? Begini, ilmuwan cerdas dari seluruh dunia yang ada di Singapura pasti akan membuat penelitian di bawah institusi di Singapura. Sebut saja NUS, misalnya.

Dari penelitian yang dibuat oleh ilmuwan yang kuliah di NUS tersebut, nama NUS pasti akan nebeng di jurnal penelitian. Setelah itu, publikasi dari jurnal tersebut akan digunakan oleh banyak ilmuwan lain ataupun perusahaan di seluruh dunia. Karena ada nama NUS, maka Singapura akan mendapatkan income dari kecerdasan ilmuwan hebat yang sekolah di Singapura. Belum lagi uang beasiswa yang digunakan oleh ilmuwan ini pasti akan dibelanjakan di tanah Singapura juga. Mantap, bukan?

Sedihnya, walaupun Singapura mendapatkan banyak materi dari ilmuwan cerdas di penjuru dunia, namun alumni maupun mantan periset dari negeri singa ini tidak begitu diperhatikan. Saya melihat ada banyak jurnal dan semacam “surat untuk alumni” dari almamater Pak Herman di UK: Cambridge University. Namun saya tidak menemukan satu pun dari NUS.

Habis manis sepah dibuang, istilahnya begitu lah.

Hal ini bisa dimaklumi mengingat Singapura sedang membuktikan dirinya di kancah internasional. Singapura sekarang ibarat Jepang 100 tahun silam. Jepang dahulu merupakan negeri terbelakang, dan ingin terpandang. Salah satu caranya adalah dengan mengundang guru dari luar negeri. Setelah masyarakat Jepang cerdas dan mapan, guru-guru dari barat tidak dianggap lagi dan masyarakat Jepang tinggal bersekolah di Jepang, tidak perlu ke luar negeri lagi. (selengkapnya bisa baca The Japanese: A Cultural Potrait karya Robert S. Ozaki dan Manusia dan Masyarakat Jepang dalam Perjoangan Hidup karya Sayidiman Suryohadiprodjo).

Menarik untuk mengetahui hal-hal simpel seperti ini.