Dua minggu yang lalu, orang tua merundingkan rencana buka kafe di kawasan perkantoran. Saya yang skeptis dan takut kalau perencanaan tidak tepat, menentang habis-habisan. Tapi dijawab simpel oleh ayah saya: sekarang yang penting ya cepet dulu. Kalau lambat nanti keburu diambil pasarnya oleh pelaku lain. Urusan upgrade menu, itu nanti.

Tapi saya ngeyel.

*****

Alkisah saya berencana buka lapak di kantin kampus. Semuanya sudah saya rencanakan matang-matang sejak dua bulan lalu. Mulai dari pinjaman mau dari mana, konsepnya seperti apa, keuangan per bulan sampai balik modal rancangannya seperti apa, dsb. Sampai akhirnya pekan lalu saya pergi ke pihak fakultas untuk menanyakan perihal sewa lapak di kantin kampus.

Baru saja masuk ke ruangan pengurus sarana (di antaranya termasuk kantin), si bapaknya sudah bilang…

“Wah, sudah penuh, Mas. Kurang cepet, sekarang aja udah ada 43 yang lolos, padahal kapasitasnya cuma 36. Yang sudah naruh proposal juga lebih banyak lagi.”

Jeder. Benar ternyata, yang penting cepat dulu.

*****

Senin lalu saya nonton Economic Challenges di MetroTV. Ada petinggi perusahaan top Indonesia, seperti Boenyamin petinggi Kalbe, Irwan Hidayat petinggi Sido Muncul, dan dua petinggi lagi yang saya tidak ingat.

Pak Irwan Hidayat bilang, “Dalam bisnis itu yang penting ya cepet. Urusan benar atau salahnya nanti, atau tertinggal dari negara lain!”

Jeder.

*****

Meskipun ilustrasi di sini hanya berlatar bisnis, tapi nampaknya The Art of Cepet-cepetan tidak hanya berlaku di bisnis saja. Dunia akademis (penelitian, penemuan, paten, dsb) juga harus cepat. Transportasi harus cepat. Internet harus cepat. Yang paling obvious, Usain Bolt harus cepat😛