Beberapa hari yang lalu, saya mencoba membuat ilustrasi tentang kondisi pendidikan anak pada masa kini. Di sekolah, mereka diajarkan hal-hal yang ideal. Namun pada saat mempraktikkan hal tersebut, mereka sering terhalang oleh tembok yang tak kadang berasal dari keluarga sendiri.

Bersyukur orang tua saya tidak seperti di cerita itu.

*****

Tentunya hal tersebut tidak terbatas pada masalah buang sampah sembarangan. Masih banyak lagi hal sepele-namun-penting-lainnya. Contoh paling sederhana, memasang spion yang sesuai standar. Meski banyak imbauan supaya motor dipasang spion standar, tapi masih banyak yang mengabaikan. Lebih banyak lagi yang menganggap bahwa guna spion hanya sekedar alat-supaya-tidak-kena-tilang.

Jangan-jangan, polisi juga berpikiran bahwa spion diciptakan untuk menilang manusia yang tidak melengkapi motornya dengan spion. Haduh, semoga enggak ya😛

Sekarang kembali lagi ke kehidupan anak. Misalnya anak kelas 5 SD diberi PR, tapi orang tuanya justru mengabaikan anak mengerjakan PR dan menyuruh anak main-main saja. Begitu sampai di rumah, diajak menonton TV. Waduh, bahaya ini kan. Pendidikan di sekolah berhasil, tetapi pendidikan di rumah justru menghancurkannya.

Sebenarnya hal ini adalah salah satu pokok kajian penting yang harus diperhatikan oleh semua pihak. Tidak hanya oleh Kemendikbud sebagai pihak yang berwenang menentukan kurikulum di pendidikan dasar dan menengah. Tetapi juga mulai dari ketua RT RW sampai anak itu sendiri.

Nah, sekarang bagaimana kalau masalahnya seperti itu?

Tentunya yang jelas dibutuhkan kerja sama antara pihak pengajar (sekolah dan guru) dengan keluarga (orang tua). Juga pihak non-pengajar dan non-keluarga, misalnya teman bermain, atau penjual siomay langganan anak.

Namun biasanya lebih sulit meluruskan batang pohon ketimbang mencabut gulma yang masih kecil-kecil. Orang tua dan penjual siomay biasanya sudah memiliki pola pikir tersendiri yang sudah sangat sulit diubah. Contohnya ya dogma bahwa pakai helm adalah ajang untuk menghindar dari tilang polisi.

Yang sulit jika kerja sama antara orang tua murid dan lingkungan dengan pengajar sudah mentok.

Meskipun (mungkin) terlalu subyektif dan pragmatis, tapi izinkan saya berbagi satu hal. Saya mengelola taman baca yang bernama Bulian. Pada mulanya orang tua berbondong-bondong hadir ke taman baca untuk mengantarkan anak dan memberi anak semangat untuk membaca. Tetapi sayangnya karena di lingkungan rumah sang anak tidak didorong dengan semangat membaca juga, maka melempem.

Hal ini sudah saya coba atasi dengan jalan merangkul orang tua supaya ikut membacakan buku kepada anak. Atau kalau itu terlalu sulit, paling tidak orang tua meminjam satu dua buku dari taman bacaan dan sekedar pegang-pegang saja saat di rumah. Setidaknya memberikan contoh kepada anak, “Ini lho, orang tua lo aja baca buku, masa lo kagak.”

Tetapi sulit sekali. Orang tua kebanyakan masih berpikir bahwa membaca tidak penting. Orang tua juga masih berpikir bahwa pendidikan itu yang penting adalah mengantarkan anak ke sekolah untuk belajar dari jam 0630 pagi sampai 1200 siang. Lalu selesai, anak boleh bermain dan menonton televisi sampai beler.

Hingga akhirnya saya iseng baca novel karya penerima Nobel Literatur tahun 1938 yang berjudul Dragon Seed. Ternyata memang sulit untuk mengubah paradigma seseorang yang sudah berumur. DI novel itu, Buck bercerita tentang kakek nenek yang memiliki 5 orang anak dan semuanya illiterate. Hingga akhirnya anak ketiga menikah dengan seorang wanita yang cerdas dan pintar membaca. Sampai mati, sang nenek tetap berpandangan bahwa seorang cerdas yang sanggup membaca adalah orang terkutuk.

Kalau masalahnya seperti itu, lalu apa yang sekiranya harus dilakukan?

Mungkin ide teman saya Bintang Rahmat Wananda tentang membangun sekolah yang berbasis isolasi anak dengan lingkungan bisa menjadi solusi. Anak dari usia 6 tahun hingga lulus SMA akan dididik oleh guru yang benar-benar kompeten dan berkualitas. Syaratnya, anak hanya boleh pulang paling tidak setahun sekali. Intinya tidak boleh terlalu sering bersentuhan dengan orang tua karena ditakutkan akan menghancurkan kualitas pendidikan.

Namun akan muncul kekhawatiran bahwa anak akan kehilangan ikatan dengan orang tua yang berdampak pada buruknya psikologis anak. Buruknya ikatan psikologis anak dengan orang tua pernah dibahas di buku Alex Boese dan Jonah Lehrer.

Selain itu, sesuatu yang homogen akan cenderung cepat punah dan mati, ketimbang yang heterogen.

Atau solusi lain yang bisa menjadi jawaban (paling tidak enggak ekstrim-ekstrim amat) antara lain anak harus mencari tahu sendiri mengenai hal-hal positif, baik yang ada di bumi pertiwi maupun belahan dunia lain. Kemudian anak meresapi hal tersebut, sehingga memiliki argumen balik jika diserang oleh orang tua dan lingkungan yang kolot.

Hal itu setidaknya bisa dilakukan jika tersedia bahan bacaan yang cukup banyak (bahkan melimpah) sehingga anak bisa mengasosiasikan banyak hal dengan nilai kebaikan dari pendidikan yang sudah dia dapat. Sehingga saat diserang oleh lingkungan yang kolot, dia tetap sanggup berdiri kukuh tanpa diterjang arus.

Bagaimana?

Sumber gambar: http://fu125.files.wordpress.com/2011/02/spion-variasi.jpg