Di sekolah, aku diajarkan untuk buang sampah pada tempatnya.

Kata guru PLKJ-ku, buang sampah sembarangan bisa bikin kotaku banjir.

Menurut guru agamaku, buang sampah sembarangan tidak menunjukkan iman kita.

Ujar guru IPA-ku, buang sampah sembarangan bisa membuat keseimbangan alam terganggu.

Image

Lain lagi dengan guru matematikaku. Beliau berkata, “Bayangkan kalau semua orang di Jakarta buang sampah sembarangan, Nak! Apalagi buang sampahnya di kali semua, nanti kali di Jakarta bisa penuh sampah!”

Kata guru penjasorkesku, buang sampah sembarangan bisa menimbulkan banyak penyakit. Baik penyakit bagi manusia maupun lingkungan sekitar.

Kalau menurut guru PKn-ku, buang sampah sembarangan menunjukkan kita tidak tertib sebagai warga negara.

Guru bahasa Indonesia dan bahasa Inggrisku bercerita, kalau di Singapura sana buang sampah sembarangan (sekecil apapun itu) bisa didenda besar sekali! Sedangkan di Jepang, hampir tidak ada warga yang buang sampah sembarangan. Wow!

Wah, baiklah. Mulai saat ini aku akan disiplin, buang sampah pada tempatnya.

*****

Ketika aku naik angkot, ada anak di depanku buang sampah sembarangan. Ku tegur dia, “Hei sobat, besok-besok jangan buang sampah sembarangan lagi, ya! Kata guruku, buang sampah sembarangan itu tidak baik, lho!”

“Apa lo ba**t, gue bukan orang tua lo! Gak usah sok-sok negur gue!”

Aduh, hatiku sedih. Ya sudahlah, masih banyak kok teman-teman lain yang bisa diajak disiplin.

*****

Esoknya, aku dan orang tuaku pergi jalan-jalan. Kami naik Metro Mini. Ada penjaja makanan ringan menawarkan dagangannya kepada kami. Orang tuaku membeli sekantung buah-buahan. Ada melon, semangka, dan mangga. Semuanya dipotong dengan baik dan dibungkus rapi. Harganya murah, dua ribu rupiah saja sepotong.

Lalu… orang tuaku membuang sampah plastiknya di dalam bus. Buang sampahnya sembarangan. Aduh, lantas aku bilang ke mereka, kalau buang sampah sembarangan itu tidak baik. Dibenci Tuhan karena bikin kotor, kata guruku.

Tapi, orang tuaku justru membuang sampah kulit kacang di jalan. “Ngapain sih kamu. Ya sudah, nih buangnya di jalan, ya! Biar tukang sapu punya kerjaan! Baik kan, kasih kerjaan ke tukang sapu?”

[Sumber gambar: http://2.bp.blogspot.com/-yw9HKvTpGl4/T5zRnkWBjHI/AAAAAAAAACQ/A-vuurhQIGg/s1600/bingung+jg.jpg