Tiga hari yang lalu saya melihat info performa dari bassist muda berbakat Sadhu Rasjidi di Salihara dari Twitter. Tanggal performanya hari ini (19/10) pukul 19:00 – 22:00. Nah ini yang ditunggu-tunggu.

Saya sudah pernah nonton performnya sebelumnya di JGTC, saat bermain dalam Idang Rasjidi Syndicate. Oh iya, Sadhu Rasjidi adalah anak dari Idang Rasjidi. Keren luar biasa! Ada satu lagu yang bikin saya cuma bisa bengong, sayang lupa judulnya karena lupa bawa notes.

Langsung saja beli tiketnya (untuk bukan mahasiswa mahal, 75 ribu rupiah. Untung kami mahasiswa, jadinya cuma 35 ribu rupiah). Saya ajak serta sobat saya Aris.

Hari ini, saat perform, tiba. Selepas jaga Bulian pukul 18:00, niatnya ingin langsung cao ke Salihara. Tetapi kami tidak bisa langsung cao, karena ada volunteer di Taman Baca Bulian. Kami bercengkrama sebentar.

Dari seharusnya pukul 19:00, kami baru tiba di Salihara pukul 20:48. Haiyah! Tinggal satu jam lebih sedikit! Setelah parkir, langsung lari ke tempat perform. Ditanya oleh satpam, “Tiketnya mana?”

“Wah, ini bukti pembelian tiketnya, Mas,” ujar saya sambil menyerahkan bukti bayar lewat internet banking. Tapi sang satpam tidak mau kalah,

“Bukan ini. Saya butuh tiketnya, Mas.”

Setelah beralot-alot karena ternyata loket tiket sudah ditutup, kami bisa bertemu promotornya dan langsung masuk ke arena. Yah, biar 35 ribu rupiah tapi tetap saja duit! Haha.

Setelah mendapat tempat duduk, ternyata lagu yang dimainkan lagu keempat (dan tinggal buntutnya aja). Kualitas suara dan kualitas permainannya superb! Tak lama kemudian, dimulai lagi lagu terakhir berjudul Bad News for the World.

Yah, masa baru datang sudah lagu terakhir😦 Saya harap-harap cemas, semoga ini bukan lagu terakhir.

Gila, komposisi yang dibuat oleh sang papa Idang Rasjidi ini superb sekali. Pun demikian dengan improvisasi setiap pemainnya. Sadhu Rasjidi sempat kepanasan jarinya karena bermain bass betot selama 2 jam penuh. Karena kepanasan, dia main bass di udara! Banyak penonton tertawa😀

Sayang kami tidak bisa mengambil foto karena pasti akan mengganggu jalannya performa.

25 menit kemudian, performa Bad News for the World selesai. Personil Shadu Rasjidi Band pergi semua…. Penonton-penonton juga mulai bepergian. Sediiih….

Shadu berpamitan, “Ya, inilah lagu terakhir kami. Terima kasih kepada teman-teman! Terima kasih Salihara! Terima kasih untuk kalian semua! Tepuk tangan untuk kalian semua yang super!”

Banyak yang standing ovation. Yah, masa cuma kebagian satu lagu doang..?

Tapi tak lama kemudian, personilnya kembali lagi.

“Saya berbahagia sekali diberi kesempatan untuk bermain di Salihara. Kami mohon maaf karena tidak bisa mempersiapkan teater, ataupun akting lainnya (ket: studio di Salihara tempat SRB perform adalah studio teater). Mau lagi?” tanya Sadhu sambil menggoda.

“LAGIIII!” sorak penonton riuh.

Akhirnya, semua personil kembali ke tempat semula, dan memainkan lagu terakhir yang benar-benar terakhir! Yeah!

Nah lagu terakhir ini pernah dimainkan di JGTC, sayang saya lupa judulnya apa. Keren deh. Di tengah-tengah performa, Sadhu mengundang ayahnya Idang Rasjidi untuk ikut bermain.

Saya, Aris, dan beberapa penonton lain bersorak riuh.

Gila, improvisasinya Idang Rasjidi di keyboard luar biasa keren! Dia bermain sekitar 3 menit. Setelah itu Idang kembali ke tempat duduk.

Sekitar 7 menit kemudian, performa selesai! Wuah, walaupun cuma kebagian ~45 menit, tapi worth banget!

Saat penonton bubar semua, Aris bilang, “Jan, foto sama Shadu yok! YOLO, YOLO!”

Semula saya keder, karena banyak maestro jazz di sana. Ada Tompi dan Idang Rasjidi juga. Saat berdiri menunggu Shadu Rasjidi (Shadu sedang diwawancara beberapa wartawan), saya melihat Tompi mondar-mandir. Ternyata dia lebih pendek dari saya, eh😛

Lamaa sekali, hingga akhirnya ketemu juga dengan Shadu. Kami minta foto, dia menyambut dengan riang.

“Waah, terima kasih banget ya udah nonton!”

“Iya, keren banget loh tadi!” ujar saya.

“Boleh foto bareng ya, Mas?” tanya Aris.

“Oh ya, siap! Ayo ayo!” ujar Shadu sambil merangkul Aris. Sambil menekan tombol rana, saya berkata, “Aku sempat nonton pas di JGTC lho!”

“Wah iya? Waaah terima kasih banget ya!”

“Iya, Shadu mainnya keren banget, makanya saya datang ke sini!”

Lalu gantian saya dan Shadu difoto oleh Aris.

“Ini sebelumnya belum pernah buat album ya? Soalnya saya cari-cari di internet, toko CD, enggak nemu-nemu,” ujar saya.

“Wah iya, soalnya aku dari dulu enggak yakin untuk buat album. Pengen sih sebenernya, tapi kan ya buat album bukan tujuan akhir hidup. Hehehe…. Soalnya untuk buat satu komposisi aja, itu butuh waktu lumayan lama.”

“Padahal saya nungguin albumnya lho.”

“Hahaha yah.. Aku suka enggak yakin dengan lagu yang aku mainkan. Makasih ya!” ujarnya.

“Iya nih, aku tadi juga baru nonton karena diajak sama Tofan. Ternyata gilaa, keren banget!” ujar Aris.

“Wah iya Insya Allah saya pengen buat album juga, doakan ya. Saya juga suka baca-baca buku, dan nemu (judul buku, lupa namanya) yang berkata kalau di dalam musik itu ada jiwa, ada roh! Jika rohnya kuat, maka dia kuat untuk membuktikan kepada penonton, kepada dunia, bahwa musik itu memang kuat! Dari situ aku mulai yakin untuk terus berkarya.

“Tapi, aku juga suka ragu dengan komposisi saya. Nanti kalau saya yakin bagus, dibilang sombong? Makanya aku juga suka belajar dan cari masukan dari teman-teman, supaya kualitas permainan tetap bagus,” ujar Sadhu.

Gila, seorang pemusik saja suka baca buku! Enggak cuma cendekiawan saja yang butuh baca buku!

“Hmm ya, tapi overall keren kok!” ujar saya dan Aris karena bingung mau respon apa saking kagumnya.

“Sebenernya yang aku sayangin di sini itu… bayar! Yaampun, padahal harusnya bisa enggak bayar lho.”

“Wah gitu?? Yaampun tapi tetep aja worth kok!” ujar saya dan Aris.

“Wah syukur deh. Tapi sayangnya ya itu harus bayar sih. Oh iya, nanti aku tanggal 2 Februari ada perform lagi di Bintaro Sektor 2, di dekat McD ada Kedai Jazz (aduh lupa, CMIIW). Datang ya!

“Btw kalian tinggalnya di mana?”

“Aku di Ciganjur.”

“Wah deket! Ciganjur mananya? Aku di Gandul, perumahan -sensor-. Tau?”

“Oooooh iya tau, yang dekat Matoa itu kan ya?”

“Iya di situ. Soalnya kan enggak banjir, jadinya enak hehe. Yaudah ngontrak di situ.”

Seorang musisi mengontrak rumah?

“Yang penting kan enggak banjirnya itu. Kalau kamu di mana?” tanya Shadu ke saya.

“Di Tanjung Barat.”

“Wah, di sana kena (banjir) enggak?”

“Alhamdulillah enggak kok.. hehe.”

“Wah ya itu, syukurlah enggak banjir. Yang penting kan enggak banjirnya itu.”

“Hehe, iya bener. Wah makasih banyak lho! Nanti kalau sempat kami datang ke Bintaro!” ujar kami sambil menutup pembicaraan.

“Siap! Makasih juga ya!” tutupnya sambil mengajak kami tos dan bersalaman.

“Oke!”

Kami pun pulang dengan bahagia.

PS: Kenapa yang keren begini enggak terkenal ya? Oh iya, saya belum nemu CD driver kamera ataupun card-reader saya. Jadi fotonya ditunda dulu ya🙂