Saat ini sedang heboh dan panas-panasnya bahasan tentang Kurikulum 2013. Bertepatan dengan itu, Pemburu Beasiswa mengadakan kompetisi esai. Saya mencoba mengikutinya, dan inilah tulisan saya yang sempat membuat saya kliyengan selama semalaman =))

Oh ya, saya bukan praktisi maupun pakar pendidikan. Maka dari itu, mohon maaf jika ada kesalahan dalam sebuah teori ataupun konteks isi dari esai ini. Segala komentar yang konstruktif diharapkan dari pembaca sekalian.

Tak lupa, jangan copy paste ya🙂

Kurikulum Baru yang Benar-benar Baru

             Tulisan Wakil Presiden Boediono yang berjudul Pendidikan Kunci Pembangunan pada Kompas 27 Agustus 2012 menuai perhatian banyak pihak. Di tulisan tersebut Boediono menyatakan secara terang-terangan bahwa pendidikan di Indonesia belum memiliki konsepsi yang jelas dan matang.

            Hal itu menjadi perhatian banyak pihak, baik di masyarakat awam maupun kalangan pendidikan. Pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga menanggapi tulisan Boediono dengan serius.

            Belum selesai tanggapan banyak kalangan atas tulisan Boediono, masyarakat sudah dikejutkan oleh hasil survey tiga tahunan yang dilakukan TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study). Hasil survey menunjukkan peringkat kemampuan matematika dan sains anak Indonesia masih sangat rendah. Kemampuan matematika siswa Indonesia kelas VIII berada di urutan ke-38 dari 42 negara yang disurvey. Sementara kemampuan sains siswa kelas VIII hanya berada di urutan ke-40 dari 42 negara yang disurvey. Indonesia masih tertinggal dari Palestina yang notabene sedang konflik. Indonesia bahkan jauh tertinggal dari negara tetangga Thailand, Malaysia, juga Singapura.

            Tidak berhenti di sini, dewasa ini juga sering terlihat kasus tawuran antarpelajar yang tidak hanya melibatkan sekolah pinggiran, tetapi juga sekolah yang tergolong favorit. Kasus penyalahgunaan obat-obatan di kalangan pelajar juga masih menjadi momok yang serius. Marak ditemukan pula pelajar yang kerap menyontek pada saat Ujian Nasional.

Melihat kacau balaunya kemampuan dan kondisi generasi penerus, maka kondisi pendidikan di Indonesia semakin dipertanyakan. Tujuan pendidikan yang sejatinya untuk menghasilkan generasi penerus yang berkualitas dan berakhlak mulia saat ini masih belum terwujud. Tak pelak muncullah wacana mengenai penerapan kurikulum baru.

            Pertanyaannya sekarang, apakah benar kita membutuhkan sebuah kurikulum baru? Mengingat kurikulum yang ada saat ini tidak berjalan efisien dan tidak memiliki konsepsi yang jelas, maka jawabannya adalah, ya! Tentunya bukan sekedar kurikulum yang buru-buru disusun, tetapi juga yang menyeluruh di berbagai aspek.

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan

            Jika membicarakan kurikulum yang baik dan yang tidak baik, tentulah kita membutuhkan bermacam-macam indikator keluaran. Misalnya tingkat literasi dan kemampuan membaca pada anak, hidupnya “budaya buku” di kalangan akademika, kemampuan sains dan matematika pada anak, hingga karakter anak didik. Jika keluaran yang dihasilkan baik, sudah tentu kurikulum serta pendidikan yang diterapkan baik.

            Di sini saya tidak berbicara secara teknis mengenai apa yang harus ditambahkan dan tidak boleh ditambahkan dalam kurikulum baru. Saya hanya memaparkan esensi dari kurikulum yang perlu diperhatikan, supaya kurikulum baru tidak hanya ganti nama. Yang pertama kali perlu diperhatikan adalah rancangan kurikulum untuk anak usia dini. Pnedidikan karakter sangatlah dibutuhkan pada usia dini. Sebab pepatah mengatakan, lebih mudah meluruskan batang pohon yang masih muda ketimbang yang sudah tua.

Salah satu yang terpenting dari tujuan pendidikan adalah kemampuan membaca buku. Kemampuan membaca haruslah dilatih sejak usia dini. Jika anak-didik telah memiliki kemampuan membaca tinggi sejak dini, maka dapat dipastikan anak akan mudah memahami pelajaran dengan baik. Ini disebabkan karena buku dapat menyimpan ilmu lebih baik. Jika anak tidak mengerti, sesungguhnya anak dapat membaca buku pelajaran berulang kali hingga mengerti. Anak yang memiliki kemampuan membaca tinggi juga memiliki kemampuan untuk mengasosiasikan hal-hal di sekelilingnya lebih baik ketimbang anak yang kemampuan membacanya rendah.

Hal ini telah disadari oleh Finlandia untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Meski kemampuan membaca harus dilatih pada usia dini, Finlandia secara formal mengajarkan anak membaca pada usia 7 tahun. Ini dilakukan karena anak yang diajari membaca pada usia awal justru lebih malas membaca pada usia lanjut. Maka, pendekatan yang dilakukan untuk meningkatkan minat baca anak balita sangatlah berbeda dengan yang ada di Indonesia. Pada sekolah formal dari TK hingga SD, selalu diadakan sesi membacakan buku selama sekitar 30 menit setiap harinya. Di sini guru yang bertindak sebagai pengajar membacakan buku bacaan di depan kelas. Sementara guru membacakan, anak-anak didik mendengarkan. Kebiasaan ini terbukti mampu membentuk kedekatan anak didik dengan buku, yang berujung pada mudahnya anak menyerap pelajaran membaca, peningkatan minat baca dan kemampuan membaca anak di Finlandia (Jim Trelease : 2006).

Survey yang dilakukan di negara lain juga menyatakan demikian. Di Amerika pernah diadakan penelitian korelasi antara kemampuan membaca dengan nilai anak. Hasil yang didapatkan positif: anak yang memiliki kemampuan membaca tinggi, cenderung mendapatkan nilai di semua mata pelajaran lebih tinggi daripada siswa yang kemampuan membacanya lebih rendah.

Sayangnya kemampuan membaca buku di Indonesia masih sangat rendah (Irwan Widiatmoko : 2011). Guru masih dianggap sebagai satu-satunya faktor terpenting dalam penyampaian ilmu. Padahal kondisi guru berbeda-beda, tidak selalu sesuai dengan keinginan sang anak didik. Selain itu, jam tatap muka di kelas juga tidak memungkinkan guru menyampaikan semua materi yang ada di buku secara menyeluruh hingga anak didik paham benar.

Yang kedua, yang sangat dibutuhkan dalam sebuah kurikulum adalah sebuah mata ajar yang benar-benar dapat meningkatkan kemampuan kompetisi anak secara sehat. Dibutuhkan pula mata ajar yang dapat meningkatkan semangat juang dan sifat kerja keras bagi anak didik di Indonesia.

Di sebuah TK di Jepang, anak didik tidak diperkenalkan angka-angka, atau huruf-huruf. Anak disuruh bermain-main. Ini dilakukan sebab anak yang dipaparkan pembelajaran formal di kelas terlalu dini akan lebih mudah jenuh saat menghadapi kelas yang lebih tinggi (Jim Trelease : 2011). Terkadang ada permainan yang sangat menantang. Misalnya, anak-anak ditantang untuk menyalakan api dari batu. Hal sederhana seperti inilah yang dapat meningkatkan semangat juang dan kerja keras anak. Permainan sederhana seperti bentengan juga dapat melatih anak berkompetisi secara sportif. Praktik seperti ini akan lebih mudah diserap dan diaplikasikan oleh anak-anak ketimbang ceramah mengenai kompetisi dan kerja keras di kelas.

Yang ketiga, perlu dikembangkan sebuah metode untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kejujuran anak. Maraknya kasus menyontek adalah salah satu faktor ketidakpercayaan anak terhadap diri sendiri yang berujung pada pilihan anak untuk menjadi tidak jujur. Kepercayaan diri dan kejujuran seyogianya dapat dipupuk sejak anak masih TK. Di antaranya lewat membangun rasa saling percaya. Di sini dibutuhkan kerja sama antara pihak sekolah dengan orang tua.

Jika poin di atas lebih dikhususkan untuk anak usia dini, bagaimana dengan rancangan kurikulum untuk anak usia SMP dan SMA? Tentu saja pendekatannya akan dibuat berbeda. Di usia ini, anak akan didekatkan kepada kemampuan berpikir kritis dan berpikir ilmiah. Antara lain melalui peniadaan dikotomi benar salah yang akan membuat anak didik takut berbuat salah. Ajarkan anak bahwa berbuat salah itu diperbolehkan, asal mengetahui batasnya dan dapat bertanggung jawab. Sebab beberapa penemuan dunia yang hebat justru terjadi karena adanya kesalahan, seperti misalnya penemuan DNA (Robert Weisberg : 2006).

Peniadaan sistem ujian pilihan ganda juga dapat melatih anak berpikir kritis. Lewat soal ujian esai, anak akan dirangsang untuk memberikan bukti-bukti yang kuat untuk membuktikan bahwa jawabannya sudah tepat.

Jika kemampuan membaca anak tinggi, di usia ini yang perlu diperhatikan adalah meningkatkan kemampuan menulis anak. Diperlukan berbagai latihan membuat tulisan yang baik. Sebab salah satu faktor tingginya budaya suatu bangsa juga tercermin dari banyaknya tulisan yang dihasilkan. Tulisan meninggalkan bekas, dan lebih mudah dipertanggungjawabkan ketimbang lisan.

Peminatan anak terhadap suatu bidang juga perlu diperhatikan. Anak diharuskan mengambil peminatan suatu bidang. Peminatan itu dapat dipisahkan menjadi beberapa hal. Misalnya peminatan terhadap sains, atau musik, atau olahraga. Meski begitu, anak didik juga tidak boleh mengabaikan yang lain. Sebab banyak hal yang terlihat tidak berkaitan ternyata berkaitan erat. Contohnya, Sujiwo Tejo pernah berkata bahwa matematika dengan seni musik sangat berkaitan erat.

Jika hal itu ada dalam kurikulum saat ini, rasanya tidak dibutuhkan lagi perubahan kurikulum. Namun nyatanya tidak ada dan tidak diimplementasikan. Maka sekali lagi, kebutuhan akan pergantian kurikulum sangat perlu!

Mau atau Tidak?

            Sekarang di saat gencar-gencarnya pembahasan kurikulum baru, rasanya beberapa aspek yang ada di atas sangat urgen untuk segera diangkat ke permukaan. Supaya kurikulum baru nantinya tidak sekedar berganti nama.

            Jikalau sudah terangkat ke ranah pengurus negara, permasalahan berikutnya adalah mau atau tidaknya mengimplementasikan hal tersebut ke kurikulum baru.

            Rasanya, mau tidak mau haruslah mau. Mengingat ini merupakan tanggung jawab yang besar, demi melaksanakan salah satu tujuan negara kita yang tercantum di Pembukaan UUD 1945: mencerdaskan kehidupan bangsa.