Bulan Oktober lalu saya didatangi lembaga survey. Pengalaman yang sudah berbulan-bulan lalu dialami memang sengaja baru saya share sekarang, mengingat ada satu hal yang saya tunggu-tunggu sampai sekarang dari lembaga survey itu. Apa memangnya? Baca saja hehe. Ohiya, sebut saja lembaga survey D. Hehe.

Saya disurvey tentang “kepuasan menggunakan mobil” (karena ayah saya sedang di kantor), dan ibu saya disurvey tentang “kepuasan atas pelayanan rumah sakit”. Si mbak yang menyurvey saya pada mulanya bingung, karena mobil yang saya gunakan agak aneh di mata dia. Dia bertanya, “Mas, itu mobil yang dipakai merknya apa ya?” tanyanya. Saya jawab X. Dia bingung, “Bukan lho, Mas. Kan kalau Avanza sama Innova itu mereknya Toyota. Kalau City itu mereknya Honda. Kalau ini apa?” tanyanya. “Ya X,” ujar saya.

“Ooooh, ada ya merek mobil X,” gumam dia sambil mencari merek mobil X di buku survey dia. Tak lama, dia bertanya lagi, “Mobil X-nya jenisnya apa?” Saya jawab, “Y!” Lalu dia kebingungan. Owalah mbaaak, sampeyan arep survey mobil mung kok yo ra ngerti mobil🙂

Nah, yang bikin dia tambah bingung adalah jenis mobil Y yang saya gunakan tidak ada di buku survey yang dia pegang! Bingung lah dia karena nampaknya dia hanya diperbolehkan menyurvei mobil yang ada di buku survey.

“Waduh, mobil enggak ada di sini! Bisa kita survey gak ya?” tanya si mbak ke temannya yang pria.

“Coba tanya Noah dulu!” jawab si mas temannya si mbak.

Akhirnya si mbak menelpon temannya yang disebut Noah. Tapi nampaknya tidak diangkat. Lalu dia menelpon atasannya dan menanyakan apakah mobil ini bisa disurvey. Jawabannya, ya! Maka survey dilanjutkan.

Di pertanyaan pertama, dia bertanya kepada saya, “Ini mobilnya pembelian kapan ya, Mas?” Saya jawab, “Juli 2012. Itu ada di plat nomornya kok.”

“Waduuh! Padahal saya cuma boleh survey pembelian Juni 2012 ke bawah! Nanti masnya kalau ditelpon sama atasan saya, bilang aja ya pembelian Juni 2012! Saya di sini (menunjuk borang yang digunakan untuk memasukkan data) juga tulisnya Juni 2012! Ingat ya, Juni 2012!” propaganda si mbak :))

“Iya, iya….” ujar saya.

Sebelum survey dimulai, dia menjelaskan tentang hal-hal yang seharusnya dilaksanakan oleh si mbak (sepertinya semacam SOP dari lembaga surveynya). Antara lain: 1. Si Mbak harus memperkenalkan diri terlebih dahulu; 2. Si Mbak harus membawa buku peraga untuk mempermudah survey; 3. Si Mbak harus bertanya dengan detil; 4. Lama survey seharusnya sekitar 90 menit.

Nah yang bikin saya kecewa adalah, poin satu dan dua tidak dia laksanakan dengan baik! Dia tidak memperkenalkan diri kepada saya, ujug-ujug survey. Dia juga tidak membawa buku peraga yang ujarnya berisi daftar pertanyaan. Lalu dia meminta maaf. Ya sudah, saya iyakan.

Kemudian survey berjalan. Karnea buku peraganya tidak ada, pertanyaan yang dia ajukan adalah yang muncul di kepala dia.

Beberapa saat, dia bingung mau bertanya apa lagi. Ujug-ujug tanpa izin, dia menyalakan rokok! Buset, si mbak di depan taman baca yang notabene banyak anak-anak merokok tanpa izin :))

Pertanyaan dilontarkan kembali. “Mas, ini mobilnya yang berapa ya?” tanyanya. “Hah, berapa apanya?” tanya saya yang bingung. Maksudnya “berapa” itu apa? Mobil keberapa, atau berapa kilometer pemakaian, atau “berapa” apa? =))

“Itu lhoo, kan mobil suka ada 1.3, atau 1.5, ini berapa?” tanyanya. “OOOOH, berapa cc maksudnya? 1400 cc.” jawab saya. “Hah, 1400 cc itu berapa, Mas?” tanyanya dengan wajah bingung. “Ya 1.4…..” jawab saya dengan pasrah….

Pertanyaan dilontarkan. Tapi mungkin karena saya terlalu pintar dia bingung mau tanya apa lagi, belum ada 20 menit dia sudah pamitan. Sebelumnya dia memberi saya souvenir. Nampaknya kanebo.

“Ya sudah ya, Mas, gini aja dulu hehe. Soalnya saya bingung mau tanya apa lagi. Nanti kalau atasan saya telpon, bilang aja ya surveynya kira-kira 90 menit!” ujar si mbaknya.

“Lho, masa saya bilang 90 menit kalau cuma 20 menit? Nanti saya bohong dong, bohong kan dosa, Mbak. Hehe,” ujar saya.

Si mbaknya bingung karena saya teror seperti itu =)). Lalu dia duduk lagi dan bertanya lagi. Tapi karena sudah kehabisan ide (dan ibu saya sudah selesai disurvey) langsung saja dia berdiri.

“Ya sudah, Mas. Nanti dilanjutkan lagi via telpon aja ya! Tadi kan nomor masnya sudah saya simpan di sini. Saya telpon ke situ ya. Ohiya, sebelumnya mas punya teman yang punya mobil ini nggak?” tanyanya sambil menyodorkan daftar mobil yang dia pegang.

“Oh, ada itu di komplek sebelah mah banyak. Datang aja ke situ,” ujar saya.

“Wah iya tuh! Ayo kita ke sana!” ujarnya ke temannya yang pria. “Ohiya, tapi masnya punya teman dari komplek itu nggak?”

“Oh ada kok.”

“Wah, berapa mas? Mobilnya apa aja?”

“Berapa ya? 5 ada kayaknya. Mobilnya itu a, b, c, d, e….

“Wah! Mantep nih! Noah pasti senang!” kata si mbaknya ke teman prianya. “Wah mas, kalo bisa kenali saya ke dia ya! Nanti mas dapat persenan deh!”

“Iya, iya…”

*****

Survey berlalu. Si mbaknya enggak menyurvey saya via telepon, hanya mengontak saya via SMS untuk dikenali ke teman saya yang ada di komplek sebelah.

SMS saya diamkan, malas lah meladeni orang seperti itu, iya enggak?😛

Ohiya, kenapa saya baru post entri ini sekarang? Karena saya menunggu atasan si mbak-yang-saya-lupa-namanya untuk menelepon saya! Nyatanya, sampai detik ini saya tidak ditelepon!

Haduh haduh, dari orang lapangan sampai atasannya tidak ada yang beres. Kasihan kliennya….🙂