Malam tahun baru saya habiskan di jalan. Bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk ambil barang dagangan, huehehe. Yang menarik adalah, di bilangan Kampung Melayu saya mendapati dua lokasi tabligh akbar secara bersamaan.

Lokasi pertama, jalan ditutup total jadinya saya tidak bisa lewat sama sekali. Lokasi yang kedua ada di jalan raya sekitar 300 meter dari utara Rumah Sakit Hermina.

Nah, saya lewat pertama sekitar pukul 21:00. Jamaah sudah berkumpul dan duduk dengan rapi, tetapi belum ada kegiatan apa-apa. Di panggung yang didirikan tidak terlihat seorang pun duduk ataupun memberi tausyiah. Dari speaker yang alakadarnya terdengar lantunan qasidah yang cukup menarik perhatian. Meski cuaca mendung, dingin, dan turun gerimis kecil, jamaah tetap duduk di tempatnya dengan tenang.

Kemudian saya lewat lagi sekitar pukul 22:10. Jamaah tidak bertambah banyak, tidak pula berkurang. Gerimis mulai berhenti. Dari speaker yang sama masih terngiang lagu yang sama. Bedanya, sekarang sang habib yang tampan beserta “pengawalnya” (saya tidak tahu siapa mereka dan apa andil mereka di situ, tolong koreksi ya) sudah duduk manis di panggung. Mereka duduk diam dengan tatapan kosong melihat ke arah jamaah. Tak ada ucapan kata sedikit pun. Oh iya, pemandangan menarik tersebut menarik perhatian pengguna jalan. Saya dan pengguna jalan lain memperlambat laju kendaraan untuk melihat acara tersebut.

Sekitar satu jam kemudian, saya lewat jalan yang sama (oh jangan tanya kenapa saya lewat jalan yang sama tiga kali: saya nyasar). Pemandangan yang sama masih terlihat! Habib duduk manis, musik qasidah dari speaker masih terngiang. Jamaah tidak bertambah dan tidak juga berkurang, tetap duduk manis.

Subhanallah! Saya jadi heran, apakah seperti itu yang namanya tabligh akbar?