Tidak bisa tidur semalaman berujung pada lihat-lihat akun twitter Ikatan Mahasiswa Fakultas Teknik, juga Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik. Saya scroll down terus ke bawah, isinya rata-rata hanya himbauan untuk mengikuti rapat, info mengenai open recruitment, atau chit-chat belaka.

Untuk rapat, biasanya diadakan rapat untuk mengadakan acara tingkat fakultas atau departemen. Acaranya bermacam-macam, mulai dari pesta sampai pengabdian sosial. Alangkah bahagianya jika kebanyakan acara yang dibuat berformat pengabdian sosial (syukur-syukur riset, atau call for paper) mengingat tridharma perguruan tinggi berbunyi: pendidikan dan pengajaran; penelitian dan pengembangan; serta pengabdian masyarakat. Namun yang membuat kecewa, acara yang diselenggarakan kebanyakan acara kosong. Tidak bersemangat pada tridharma perguruan tinggi, hanya berlandaskan budaya dan warisan semata.

Mari biarkan saya bicara blak-blakan. Acara serta kepanitiaan yang pertama kali dilaksanakan adalah ospek. Dibentuk kepanitiaan yang disusun atas mahasiswa lama (biasanya mahasiswa tingkat 2 dan 3). Mereka telah dilatih sedemikian rupa untuk mengospek mahasiswa baru (freshmen, tingkat 1). Acara ospeknya mulai dari game yang isinya pembangunan karakter hingga pelatihan kedisiplinan.

Kalau tim ilmuwan dan insinyur Mars Curiosity (yang misinya 3 tahun) hanya 12 orang, kenapa untuk pengabdian masyarakat satu hari saja mahasiswa sefakultas harus turun semua?

Kemudian ada lagi, acara pesta. Pestanya bermacam-macam, mulai dari pesta mahasiswa baru yang konsepnya seperti pasar malam, pasar malam ikatan mahasiswa yang isinya pesta beneran, sampai pelepasan BEM yang mengundang artis dari luar. Ini pun dibentuk kepanitiaan.

Ada juga acara seminar serta konferensi tingkat nasional. Mulai dari seminar perkeretaapian cepat, hingga yang lebih spesifik seperti seminar pertambangan.

Kemudian ada juga acara yang konsepnya pendidikan dan pengabdian sosial. Pada acara pendidikan, acara berbentuk pendidikan agama yang menginap selama 2 malam. Kemudian untuk acara pengabdian sosial, warga kampus turun ke lingkungan desa untuk membersihkan lingkungan dari sampah, membuat lemari untuk taman bacaan, hingga sembako gratis.

*****

Mari saya bahas satu-satu di mana letak kekosongan acara tersebut. Yang pertama, ospek. Yang saya sayangkan di sini adalah rapat dan kepanitiaan semu. Ospek dijalankan atas petuah senior yang menyuruh supaya angkatan muda bisa solid dan bertanggung jawab. Namun karena tidak didukung keingintahuan yang kuat serta literatur yang memadai, ospek dijalankan hanya berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya. Tidak ada budaya penelitian yang berlandaskan keilmiahan kuat dan sangat ketat mengenai manfaat ospek dan arah juntrungan ospek. Ibaratnya mandheg, bro. Ilmu yang mandheg akan mati. Hasilnya? masih banyak teman saya (bahkan saya) yang tidak merasakan manfaat ospek.

Jika dilihat di kawan-kawan kita yang ada di negeri seberang, mereka selalu mengedepankan riset, pengembangan. Berdasarkan puluhan (bahkan ratusan, mungkin ribuan) jurnal serta literatur lainnya, mereka membuat suatu acara supaya juntrungannya jelas. Hasil akhirnya jelas. Misalnya seperti link yang diberikan oleh teman saya Rizky Luthfianto. Di entri pertama ada penjelasan mengenai tips merekrut orang di perusahaan yang tepat. Si penulis bilang, tanyakan apa mata kuliah yang dia sukai saat kuliah! Tanyakan passion-nya saat kuliah ada di mana! Tanyakan hobinya apa, dan jika dia serius menjalani hobinya, rekrut dia! Kurang lebih seperti itu.

Namun di ycombinator entri berikutnya, tips si penulis dikecam habis-habisan oleh seseorang yang beridentitas tokenadult. Dia menggunakan bukti penguat yang bukan berasalkan dari intuisi dan budaya, melainkan dari jurnal-jurnal serta literatur lainnya. Ini namanya pengembangan! Seharusnya di tingkat universitas, penggemblengan mahasiswa baru juga didasarkan pengembangan yang didukung pengembangan dan bukti ilmiah yang kuat! Ini baru mahasiswa!

Berlanjut ke acara pesta yang banyaknya luar biasa. Menurut saya ya, sekali lagi menurut saya lho, ini kosong. Bikin kepanitiaan yang oprec-nya jauh-jauh hari untuk satu acara yang ibaratnya angin saja. Setelah dilaksanakan, semua senang, tidak berbekas, dan pulang.

Pesta boleh-boleh saja, setiap orang juga suka berpesta kok. Tetapi jangan berlebihan. Selain itu, mahasiswa Indonesia juga sebaiknya lebih peka. Negara kita bukanlah negara maju yang koefisien gini-nya rendah. Negara kita bukan negara cerdas yang 40% warganya mengantongi gelar sarjana. Negara kita bukan negara yang mampu membuat ratusan ribu hak paten tiap tahunnya. Alangkah baiknya jika energi yang dimiliki untuk berpesta dialihkan untuk membuat acara yang membangun. Contohnya pengabdian sosial yang terus menerus. Semenjak saya kuliah di sini, acara pengabdian sosial yang dilaksanakan hanya sambil lalu. Tidak ada keberlanjutannya, bahkan tidak ada riset mengenai dampak acara pengabdian sosial tersebut dengan kemajuan taraf hidup warga.

Saya tertegun ketika membaca banyak berita tentang warga asing yang rela tinggal di pedalaman desa untuk meriset tentang bahasa serta melestarikan suatu bahasa. Atau warga asing yang tinggal di pedalaman desa untuk mengajari warga baca tulis. Atau warga asing yang tinggal di desa untuk melatih warga mengolah limbah rumah tangga supaya dapat bermanfaat bagi kehidupan.

Tak hanya itu, saya juga tertegun dengan semangat para Pengajar Muda dari Indonesia Mengajar. Mereka rata-rata sudah bekerja, sudah mapan. Tetapi rela pergi jauh ke daerah nun jauh di sana yang tidak ada sinyal handphone, bahkan pergi ke toilet pun sulit untuk mengajari warga sesuatu hal yang baru. Untuk menyalakan lilin.

Saya juga tertegun mendengar cerita teman-teman saya yang kuliah di luar negeri dan memberi tahu saya bahwa banyak teman-temannya rela terbang ke negara yang tidak maju untuk mendidik mereka! Membantu mereka, sepenuh hati, dengan melihat pula dampak ke depannya! Tidak sekedar melaksanakan pengabdian masyarakat yang ditinggal begitu saja!

Acara seminar, call for paper, serta pemberian pemodalan untuk start-up bagi mahasiswa yang ingin berwirausaha sesuai dengan latar belakang pendidikannya jauh lebih penting. Pun demikian dengan pengabdian masyarakat yang terus menerus. Pengabdian masyarakat nggak perlu buka oprec besar-besaran lah. Bentuk saja panitia kecil yang menginisiasi Sabtu bersih di lingkungan kosan, misalnya. Atau panitia kecil yang mengundang ulama atau ilmuwan untuk mengadakan kajian rutin di lingkungan kampus bagi warga sekitar kampus, misalnya. Lha wong misi Curiosity mahasulit yang pergi ke Mars saja tim scientist dan engineer-nya cuma 12 orang kok. Masa iya untuk turun pengabdian masyarakat satu hari harus mahasiswa sefakultas turun langsung?!

Atau jika ingin meriset, percayalah bahwa hasil risetmu nanti akan kepakai. Jangan berpikir riset di Indonesia tidak ada gunanya. Mahasiswa Indonesia harus bergerak bersama-sama, mengedepankan riset di atas segalanya! Contohnya riset tentang superkapasitor graphene. Serta riset tentang sel surya efisiensi tinggi. Jika mahasiswa Indonesia sanggup melaksanakan risetnya, manfaatnya luas. Antara lain sumber energi di tiap rumah mungil di pelosok desa.

Itulah mahasiswa. Bukan yang cuma mampu bikin acara kosong atau menyeru-nyeru suatu lembaga untuk memberikan sesuatu lebih kepada kalangannya sendiri.

Mahasiswa seharusnya mampu membawakan lilin. Syukur-syukur lampu petromaks, atau bahkan lampu halogen. Bukan cuma membawa manfaat bagi kalangan sendiri lewat rapat (oh yes, rapat kepanitiaan banyak diselenggarakan untuk simulasi mahasiswa saat sudah bekerja nanti. Itu tujuannya). Jika tridharma perguruan tinggi benar-benar dilaksanakan, saya yakin Insya Allah, negara ini maju deh.

Percayalah.