Cerita dulu ya.. Sebelumnya, ada video bagus dari Richard St. John. Mengenai keseriusan dan fokus.

Di saat teman saya berlomba-lomba mendapatkan status IKM aktif, saya justru berusaha mati-matian supaya tetap berstatus IKM muda.

IKM adalah kependekan dari Ikatan Keluarga Mahasiswa. Karena saya kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, berarti namanya IKM FT UI. Mahasiswa baru status IKM-nya masih muda. Kalau ingin naik tingkat ke IKM aktif, mahasiswa baru itu harus rajin mengikuti segenap kegiatan-kegiatan masa bimbingan (ospek) yang tak terhitung banyaknya.

Kalau untuk mendapatkan IKM aktif harus mengikuti kegiatan yang banyak, kenapa banyak yang ingin menjadi IKM aktif? Ini karena benefit yang didapatkan dari status IKM aktif. Antara lain lebih dikenal dan diperhatikan oleh senior (tentu), bisa mengikuti banyak organisasi dan/atau kepanitiaan di tingkat fakultas, bahkan bisa mencalonkan diri sebagai Ketua BEM.

Lalu kenapa saya tidak mau?

Saya punya taman baca yang harus saya urus. Saya dan teman yang menggagas, saya dan teman yang memodali, saya dan teman yang mengurus, dan banyak lagi. Tapi, seiring dengan waktu, teman-teman saya berpencar ke mana-mana. Ada yang ke Bandung, Surabaya, bahkan sampai ke Jepang. Alhasil, beberapa waktu terakhir lebih sering saya yang mengurus.

Tapi, saya mahasiswa baru juga. Beban kuliah yang masih ringan, saya kira bisa memudahkan saya untuk mengurus Bulian. Ternyata salah besar. Saya masih harus mengikuti serangkaian acara tingkat departemen yang sangat padat. Alhasil, Bulian hanya diurus oleh ibu saya yang notabene sibuk juga.

Karena ibu saya sibuk, maka tidak mungkin beliau stand-by di ruang baca sambil membacakan buku untuk anak-anak. Efek sampingnya setiap anak-anak datang menjadi tidak terkontrol. Ribut luar biasa, dan buku-buku berantakan. Anak-anak cuma main-main doang.

Sebulan saya hampir tidak pernah kontrol Bulian. Benar-benar lepas tangan. Hingga saya ditegur ibu untuk mengurus lagi. Saya kesal, saya sampai marah-marah ke ibu saya, “Aku juga maunya mengurus Bulian! Bahkan sampai mati!!”

Lalu saya diam, saya amati absen: per hari yang datang paling banyak 10 anak. Itu pun yang datang itu-itu lagi. Dari 60-an anggota yang mendaftar, yang aktif ya 10 anak itu.

Koleksi buku banyak yang hancur, ruangan kotor, dan lain sebagainya. Gila, sedih banget.

Impian saya untuk membuka cabang di akhir tahun 2012 kandas. Harapan saya, di akhir 2012 Bulian yang di Tanjung Barat bisa sukses hingga setidaknya bisa buka cabang di RW lain. Tapi apa daya, yang satu saja belum beres.

Banyak sekali PR-PR Bulian yang belum diselesaikan. Lemari baru yang sudah direncanakan sejak 2 bulan lalu belum terealisasi. Kerja sama dengan sekolah dasar dan pengajian anak di sekitar Tanjung Barat cuma wacana. Mau kenalan dengan remaja sekitar Tanjung Barat untuk direkrut jadi volunteer jaga gagal. Pendataan buku tidak selesai-selesai. Les yang rencananya akan ada gambar dan sains juga cuma impian. Mencari donatur tetap setiap bulannya juga belum bisa dilancarkan. Penyuluhan kepada warga sekitar akan pentingnya gaya hidup sehat lewat media tertulis masih di awang-awang. Dan masih buanyak lagi.

Sampai-sampai beberapa hari yang lalu saya berpikir untuk berhenti kuliah supaya bisa mengurus Bulian. Tapi itu konyol, isn’t it?

Oleh karena itu, saya sering sekali membolos kegiatan mabim (masa bimbingan). Tidak mengumpulkan tugas mabim, gabut, dan sebagainya. Ini sengaja. Bukan karena malas. Tapi karena fokus saya Bulian, komitmen saya di Bulian. Saya mahasiswa, yang katanya senior boleh sudah bisa menentukan mana yang baik mana yang buruk. Tidak bisa dipaksa-paksa lagi jika itu memang baik.

Jika saya tetap IKM muda, maka saya tidak akan bisa ikut organisasi tingkat fakultas. Ini nampaknya baik bagi saya mengingat banyak sekali kegiatan di FT yang bikin saya tergoda untuk ikut. Akhirnya saya bisa lebih fokus mengurus Bulian.

Saya ingat ada pepatah

A man who chases two rabbits, catches none