Beberapa waktu terakhir saya menyempatkan diri membaca habis beberapa ensiklopedi kecil. Pustaka Alam dan Pustaka Ilmu dari LIFE, terbitan tahun 1970-1980an. Isinya bagus sekali, dan banyak hal tidak umum (tetapi menarik!) yang terkandung di situ.

Lalu saya sadar, ternyata banyak sekali kosakata Bahasa Indonesia yang jarang dipakai di kehidupan masa kini. Di antaranya sekunar, hablur, dan lain sebagainya. Yang membuat saya lebih kagum lagi, ternyata banyak padanan kata dalam Bahasa Inggris yang ada di bahasa Indonesia!

Siapa mengira bahwa kata dimension jika diartikan ke Bahasa Indonesia bukanlah dimensi, tetapi matra? Yap, ternyata Bahasa Indonesia ada padanannya! Tak hanya itu, Bahasa Indonesia dari crystal adalah hablur. Lalu sebelum ada istilah pemindai (scan), Bahasa Indonesia sudah memiliki pemayar.

Betapa kayanya bahasa kita!

Belum berhenti di sini. Cobalah tengok buku sastra atau buku apapun yang ditulis/dikarang oleh penulis era awal kemerdekaan. Semisal Pram, atau Rosihan Anwar. Di situ banyak sekali kata-kata yang tidak biasa ditulis di buku zaman sekarang. Misalnya, siapa menyangka bahwa “kapal layar bertiang dua” memiliki padanan kata dalam Bahasa Indonesia? Kata itu adalah sekunar. Bahasa Indonesia juga memiliki sinonim untuk gubuk: sudung.

Kalau dirunut ke kamus, masih buanyak lagi kata-kata yang tidak pernah dipakai tetapi ada. Kata-kata tersebut biasanya juga lebih spesifik dalam arti dan penggunaannya.

Sayangnya, penggunaan Bahasa Indonesia (yang saya amati sekarang) justru mengalami degradasi dari zaman lampau. Misalnya dalam konteks penggunaan kata, dewasa ini lebih banyak kata umum yang dipakai ketimbang kata yang memiliki makna khusus. Seperti kata “masa” yang memiliki posisi adverbia (menunjukkan pertanyaan retoris) sekaligus nomina (waktu). Padahal penggunaan kata yang sifatnya khusus jauh lebih baik: dapat mengurangi ambiguitas makna dan juga meningkatkan kosakata yang tertera di otak.

Begitulah. Kosakata Bahasa Indonesia melimpah sekali (yah, tidak sebanyak kosakata dalam Bahasa Inggris). Banyaknya kosakata dalam bahasa kita mencerminkan intelektualitas bangsa. Tak ada salahnya bukan, mempelajari bahasa ibu dengan baik?🙂