“Hei, fokus dong, Dek!”

“Apa, mau ngomong apa??”

Siapa yang tahu kaderisasi atau forum yang harus dijalani siswa/mahasiswa? Di dalam forum ini, peserta kader harus mendengarkan semua instruksi kakaknya dengan seksama. Kuncinya fokus. Kalau tidak fokus, ya, instruksinya tidak bisa dijalankan. Peserta juga harus disiplin, misalnya disiplin waktu. Jika peserta terlambat satu menit, misalnya, akan mendapatkan seri. Belum berhenti di situ, peserta kader ditekan habis-habisan supaya berani bicara melawan argumen kakak-kakaknya. Jika sudah bicara, maka akan ditekan lagi supaya bisa melawan argumen kakaknya dengan jernih dan jelas. Berbicaranya pun harus dengan suara keras nan lantang dan tegas.

Well, forum yang seperti itu memang bagus. Saya mendapatkan beberapa manfaatnya, di antaranya melatih diri lebih fokus, dan disiplin waktu, dan bertanggung jawab. Banyak juga kakak-kakak yang menyadari hal ini. Ada yang berpendapat, angkatan yang tidak diforum lebih lenje dan kacangan.

Yup, semua itu benar dan bermanfaat bagi saya, kecuali….

*****

Sewaktu masih sangat kecil (belum sekolah), saya ini anak yang pemalu dan kalem luar biasa. Di rumah hanya nonton TV, sedikit-sedikit minta susu, dan mainan puzzle. Setiap ada saudara datang ke rumah, saya selalu tutup mulut dan takut-takut dengan orang asing. Keluar rumah pun tidak pernah: bahkan saya main sepeda di halaman rumah saja.

Melihat saya yang super ansos ini, orangtua saya memberikan treatment. Saya mulai diajak main ke luar oleh ayah saya. Saya naik sepeda dan ayah saya jalan kaki. Setiap ada orang lewat, ayah saya menyapa orang itu. Saya diam saja melihatnya.

Begitupun ibu saya. Saya jadi sering diajak ke tukang sayur dan ke pasar. Lalu mulai disuruh pergi ke warung sendiri untuk membeli sesuatu. Itu dilakukan saat saya masih TK.

Hasilnya, saya dipercaya kepala TK saya untuk jadi MC di acara yayasan TK saya. Saya berani, saya bisa: bicara di depan umum, bicara dengan orang lain!

Treatment itu terus dilakukan kepada saya hingga menginjak awal SMP. Mulai dari melepas saya naik angkot sendirian, dilepas naik kereta sendirian ke luar kota. Dilepas ke rumah saudara jauh sendirian. Karena itu saya berani bicara dengan orang asing. Tofan yang dulu tidak berani bertanya untuk sekedar menanyakan jalan, akhirnya jadi berani mendekati selebritis. Haha.

Hingga akhirnya negara api (forum) menyerang.

Forum itu memang bagus banget. Karena itu, saya kenal hampir satu angkatan di SMA saya. Etos kerja saya juga meningkat. Sekitar satu semester saya merasa tidak ada efek negatif dari forum. Hingga akhirnya saya sadar kalau ada satu efek negatif yang benar-benar parah: saya tidak berani bicara dengan orang asing (dan di depan umum) lagi.

Banyak sekali contohnya, misalnya untuk bertanya dengan guru saya jadi takut, karena takut dianggap idiot dan pertanyaannya tidak bermutu. Untuk mendekati ruang guru tidak berani. Ke kantin, beli makanan pun tidak bertatapan mata dengan penjualnya. Bahkan saat tersesat, saya lebih memilih untuk terus mengikuti jalan ketimbang bertanya dengan orang!!

Sadar akan hal ini, saya mulai mencoba berani lagi. Mencoba kenalan dengan orang banyak. Yang pasti, mencoba melupakan masa-masa forum.

Akhirnya saya berhasil sedikit lebih berani. Saya mulai berani ngobrol dengan tukang ojek, dan berani pergi ke ruang BK.  Tapi ingatan akan forum tetap belum benar-benar hilang.

Lalu mulailah masa kuliah. Ternyata ada forum lagi.

Oh God.

Ingatan yang baru saja hilang tiba-tiba datang lagi. Ujung-ujungnya, saya menjadi tertutup lagi, takut dengan orang asing.

Contohnya, saya jualan kaos. Saya meminta teman saya yang mencari vendor kaos yang bagus. Kenapa? Karena saya takut bertemu orang (lagi)! Saya juga meminta dia untuk bertemu dengan orang-orang jika ada keperluan.

Saat Taman Baca Bulian akan mengadakan acara, saya minta ditemani ayah saya untuk pergi ke Pak RT, dan saya minta beliau yang bicara dengan Pak RT. Kenapa? Karena saya jadi penakut!

Ugh, saya benar-benar tertekan. Kehidupan saya mewajibkan saya berinteraksi dengan orang banyak dan orang asing, tetapi saya jadi introvert seperti ini. 180 derajat dari kehidupan saya saat SMP. Suer deh, ini gak bohong, ini beneran. Jangan-jangan ini trauma.

*****

Kembali ke kader saat SMA. Katanya, efek kader itu seumur hidup. Setelah saya perhatikan, efek kader itu semu. Buktinya, banyak sekali yang kembali seperti semula pasca era kader selesai. Yang membuat teman-teman bisa lebih disiplin adalah kehidupan di SMA itu sendiri. Tugas sekolah yang melimpah sampai memaksa begadang, itu yang membuat anak didiknya menjadi pekerja keras. Hukuman menghafal Al-Baqarah jika telat (atau tidak boleh masuk kelas), itu yang membuat banyak siswa yang takut untuk telat. Guru yang menerangkan dengan kecepatan luar biasa, itu yang memaksa siswa fokus. Tapi lagi-lagi, selepas SMA (yang saya perhatikan) efek itu hilang lagi.

Saya pernah membeli buku Brain Rules. Di situ ada 12 aturan otak. Di antaranyaperhatian. Di situ disebutkan bahwa otak tidak akan menaruh perhatian bagi hal-hal yang tidak menarik. Sekarang, bagaimana bisa menerapkan suatu pembelajaran jika pembawaannya tidak menarik?

Lalu siapa pernah baca The Invisible Gorilla? Ini adalah buku luar biasa yang ditulis oleh doktor dan professor di bidang psikologi kognitif. Kita beralih ke fokus: otak manusia hanya bisa fokus apabila tidak ada distraction di sekitarnya, sebab otak manusia tidak bisa melakukan multitasking. Omong kosong jika ada seseorang mengatakan bahwa dirinya lebih fokus belajar saat sambil mendengarkan musik. Otak itu ibarat perusahaan, lalu otak hanya memiliki satu-satunya pegawai. Hal yang harus dikerjakan (belajar) dan pengganggunya (mendengarkan musik) adalah proyek yang harus dikerjakan si pegawai.

Kita ambil contoh belajar sambil mendengarkan musik. Di sini fokus utamanya adalah belajar, lalu pengganggunya adalah musik. Apa yang sebenarnya terjadi jika otak manusia tidak bisa melakukan multitasking? Otak manusia memindah-mindah posisi on sakelarnya dari belajar ke mendengarkan musik. Ini prosesnya: pegawai ada di proyek belajar > ada musik yang bagus > pegawai bersiap-siap pindah ke proyek yang baru > pegawai sudah pindah ke proyek musik, dan mendengarkan musik > ah, saya harus belajar! > pegawai bersiap-siap pindah ke proyek belajar > pegawai pindah ke proyek belajar dan belajar. Terus berulang sepanjang waktu. Hal ini melelahkan dan membuang energi. Dan tentu: tidak efektif. (John Medina: 2008)

Lalu apa kunci supaya bisa fokus? Latihan!

Latihannya dilakukan di waktu kecil. Dengan jalan didikan dari orang tua. Antara lain dengan jalan membacakan buku kepada anak (Jim Trelease: 1982). Siapa yang pernah membandingkan kemampuan konsentrasi anak-anak yang suka dibacakan dan membaca buku, dibandingkan dengan yang tidak pernah menyentuh buku sama sekali?

Efek positif lainnya seperti disiplin waktu dan aturan juga didapat melalui latihan.

Sayangnya, yang tidak diketahui orang banyak adalah efek positif seperti itu seharusnya didapat saat seseorang itu masih kecil. Sebab otak anak-anak adalah otak yang paling mudah belajar (ScienceNews: Aug 11, 2012) (John Medina: 2008). Tentunya cara pembelajarannya bukan dengan dibentak, tapi dengan cara yang halus dan penuh perhatian.

Hal ini sudah diketahui pemerintah Amerika Serikat dalam rangka mendidik warganya yang masih umur sekolah. Mereka mewajibkan anak-anak mengikuti kegiatan sukarela atau community service. Misalnya menjadi sukarelawan di perpustakaan. Itu dilakukan ketika masih tergolong sangat muda: di usia sekolah. Lewat kegiatan seperti ini, anak-anak terbiasa untuk hidup fokus, bertanggung jawab, dan bisa bergaul. Lalu ketika sudah memasuki universitas, mereka tinggal belajar yang sangat rajin untuk memajukan taraf hidup negara.

Begitulah, kita terbalik. Di saat anak-anak masih tumbuh, dijejali dengan tayangan sinetron tidak berkualitas dan orang tua yang berbicara kasar dan tidak mendidik anaknya. Baru ketika memasuki masa sekolah menengah atas dan kuliah dididik yang seharusnya sudah didapat sejak kecil. Efeknya ya, hanya sementara, sebab “didikan” di sekolah menengah dan universitas hanya dilakukan sementara dan tidak intensif. Selain itu neuron-neuron otaknya sudah tidak segar lagi seperti saat masih kecil. Kita terbalik.

Bagaimana?