“Ini rambut biasanya dibuang ke mana, Mpok?” ujar seorang kuli bangunan ke istri Pak RT.

“Biasanya mah gue buang ke selokan.”

“Wah, rambutnya jangan dibuang sembarangan ya, Mpok!”

“Kenape emang, bahaya ye?”

“Iya bahaya! Rambutnya dikubur aje, Mpok. Terus didoain, “Ninyai balik ke Rahmatullah,” gitu. Nanti soalnya pas udah meninggal bakalan ditanyain!”

“Oh gitu ya. Gimana doanya?”

“….” dan percakapan terus berlangsung.

*****

Percakapan tadi adalah percakapan yang real. Saya sedang menunggu Pak RT di teras rumahnya. Ada istri Pak RT yang sedang mencukur rambut anaknya, dan seorang kuli bangunan. Ketika rambut-rambut yang berserakan dikumpulkan dan akan dibuang, topik obrolan langsung berubah 180°.

Semula saya kagum, seorang kuli bangunan pemikirannya bisa maju! Melarang buang sampah sembarangan karena bisa membahayakan lingkungan.

Tapi ternyata ujungnya malah takhayul. Bid’ah pula. Saya belum pernah dengar ada sejarahnya kalau rambut itu harus dikubur di tanah, didoakan pula. Selain itu dari segi doanya, kata “Ninyai” bukan bahasa Arab. Bahasa Jawa atau Indonesia pun bukan. Jelas itu dibikin-bikin.

Wah, piye iki yo? Hari gini masih percaya takhayul dan bid’ah pula.