Saya sering mendengar teman yang mengluh karena rutinitas.

Bangun pagi jam 5 atau lebih awal, kemudian ibadah, mandi, dan berangkat sekolah/kerja. Sampai di depan meja belajar/kantor, mengerjakan tugas yang tiada habisnya. Setelah berlelah-lelah selama kurang lebih 4 jam ada istirahat. Agenda istirahatnya pun sama: turun lift, lalu ibadah atau ke kantin/warung, dan beli makanan itu-itu lagi. Setelah itu kembali sekolah/bekerja, ngobrol dengan teman yang sama. Setelah sore, pulang sekolah/kerja dengan kondisi jalanan yang macet. Mengeluh, sampai rumah mandi, istirahat, lalu tidur. Setiap hari begitu.

Dulu, saya juga “korban” rutinitas, tapi setelah berobat ke Klinik Tong Fang tetapi saya tidak menyesali rutinitas. Sebabnya rutinitas itu asyik, serta mempermudah hidup.

*****

Saya pernah baca di buku (lupa judulnya apa, nanti saya cari lagi dan beritahukan kalau sudah ingat) kalau rutinitas itu meningkatkan produktivitas. Rutinitas bisa membentuk pola yang sifatnya mempermudah.

Contohnya bangun pagi pukul 5, kemudian ibadah, shalat, dan berangkat menggunakan kereta paling pagi. Karena dilakukan berulang-ulang, akan menjadi pola yang terperi di otak. Pola ini tidak membuat kita memikirkan jadwal kereta keesokan harinya. Rutinitas juga tidak membuat kita memikirkan besok pagi harus bangun jam berapa supaya tidak telat. Hasilnya dengan semakin sering melakukan pola ini, maka semakin efisien dan singkat dalam mengerjakan suatu hal.

Ada lagi contoh yang lebih sederhana. Ambil contoh pekerja kasar di pabrik yang tugasnya menyortir kacang. Semakin sering dia menyortir kacang, maka pekerjaan ini akan menjadi pola yang disebut rutinitas. Karena telah menjadi rutinitas, maka otak si penyortir tidak perlu berpikir lebih keras saat menyortir kacang. Hal ini membuat semakin cepat dan sempurna dalam menyelesaikan pekerjaan.

Tetapi, otak manusia memiliki ambang batas yang disebut bosan. Tidak jarang banyak yang stress karena rutinitas.

Bosan adalah suatu efek psikologis jika manusia memperoleh rutinitas yang sama setiap harinya. Sebab itu kita membutuhkan libur, refreshing, dan bahkan suasana baru dalam bekerja atau bersekolah. Refreshing juga diperlukan supaya otak bisa “menyerap hal-hal baru”. Refreshing juga menjauhkan manusia dari stress. Seperti studi yang disebutkan oleh Pavlov, ambang stress manusia berbeda-beda. Stress bisa membuat otak memasuki fase “bengong” atau down. Nah yang seperti ini bahaya jika terbawa ke dunia kerja. Bisa jadi hasil kerjaan tidak baik, dan menjadi tidak produktif.

Meskipun rutinitas itu baik, namun ada juga sisi negatifnya. Rutinitas akan membuat otak manusia lebih malas, itu ujar buku tersebut. Tapi saya tidak bisa berkata bahwa tanpa rutinitas bisa membuat seseorang lebih produktif.

Dulu waktu SMA, saya “korban” rutinitas. Karena rutinitas, saya bisa bangun pagi, ibadah shalat sarapan mandi lalu berangkat tanpa perlu berpikir. Namun hal ini ternyata berefek pada kehidupan sehari-hari saya yang menjadi cenderung monoton. Saya juga menjadi agak sulit saat berpikir untuk mengerjakan tugas. Mungkin karena rutinitas😛

Nah sekarang ini ketika sedang kuliah, saya jadi merindukan masa-masa SMA. Saat setiap hari dirundung rutinitas. Sebab sekarang jadwal kuliah berbeda setiap harinya. Ini memaksa saya mengatur jadwal pagi hingga siang yang berbeda setiap harinya. Setiap hari, setelah bangun pagi saya harus berpikir dan “mengatur ulang” diri saya supaya tidak telat.

Ini sulit, mengingat dulu saya termasuk siswa yang terlena dengan rutinitas. Yang jelas saya belum bisa menyimpulkan kalau tanpa rutinitas bisa membantu saya menjadi tidak lebih malas. Hehehe.

Bagaimana pengalaman Anda?