Indonesia butuh Genosida!
Itu bunyi twit saya sekitar 1 tahun yang lalu. Setelah dibaca lagi, ternyata seram juga.

*****

Adolf Hitler melancarkan genosida karena kegeramannya dengan etnis tertentu. Menurut dia, yang pantas hidup di tanah Jerman hanyalah suku Eropa asli yang matanya berwarna, dan rambutnya pirang. Sebab mereka enak dipandang mata, dan kapasitas hidup mereka lebih baik ketimbang suku lain.

Hitler melancarkan genosida terhadap orang Yahudi dan orang cacat juga karena terinspirasi teori adaptasi. Hanya yang cocok dengan lingkunganlah yang bisa bertahan. Hitler melancarkan genosida, atau evolusi buatan, karena ia geram dengan orang Yahudi dan orang cacat yang dianggapnya tidak cocok dengan Jerman yang maju.

Pertanyaannya, semudah itukah “membersihkan penyakit sosial” yang ada di masyarakat? Hanya dengan membunuh-bunuh orang yang tidak produktif dan tidak berkualitas?

*****

Siapapun yang pernah menonton Schindler’s List pasti kagum atas kedermawanan Schindler–atau dia antek Nazi, haha. Di film yang diangkat dari kisah nyata itu, Schindler menyelamatkan orang Yahudi dari genosida. Caranya dengan mempekerjakan orang Yahudi di pabriknya.

Seiring berjalannya waktu, Schindler didesak Nazi supaya tidak merekrut orang Yahudi lagi sebagai pekerjanya. Tetapi beliau tidak mau. Nanti bisnis saya tidak jalan, katanya.

Nah. Setelah menonton Schindler’s List, salah satu poin yang bisa disimpulkan adalah: membersihkan penyakit masyarakat tidak bisa sekedar dengan genosida.

Balik lagi ke twit saya satu tahun yang lalu, dan mari kita berandai-andai. Katakanlah ada 230 juta manusia di Indonesia, ada 161 juta manusia usia produktif (data dari The World Factbook, CIA).

Katakanlah dari 161 juta warga Indonesia, yang berkualitas dan mengenyam pendidikan di atas SMA sebesar 70 juta jiwa. Selain itu tidak tamat SMA.

Seandainya ada Hitler baru di Indonesia, dan Hitler tersebut ingin menghabisi warga tidak berpendidikan. Berarti ada 91 juta manusia yang harus dibunuh. Lantas, apakah penyakit sosial bisa langsung hilang? Tentu saja tidak.

Ke-91 juta penduduk ini berperan dalam kehidupan ekonomi dan sosial, meskipun dalam skala mikro yang dampaknya mungkin tidak besar. Bayangkanlah jika kalangan bawah ini yang sehari-harinya mengurusi sawah dan berperan dalam pasar tradisional ataupun menjadi kasir toko-toko. Jika kalangan ini digenosida, apa yang terjadi?

Jika tidak ada mereka, maka ekonomi negara akan ambruk, kehidupan sosial di lingkungan sekitar mereka akan rusak, dan warga berpendidikan tidak bisa makan dengan murah karena akan terjadi kelangkaan pangan yang berujung harus impor. Ternyata efeknya banyak dan meluas! Sekarang mari berandai-andai jika sektor yang dipegang 90 juta jiwa itu dialihkan ke warga yang berpendidikan.

Jika 91 juta jiwa diberantas dan ke-70 juta jiwa mau mengurusi sektor pertanian, pasti akan merugikan negara juga. Sebab sektor riil yang tadinya mereka pegang–anggaplah industri elektronik, IT, dan lainnya–harus mereka lepas. Ujung-ujungnya juga ambruk dalam ekonomi.

Dari segi sosial, keluarga yang ditinggalkan juga merasakan trauma yang mendalam yang bisa berujung pada ketidakpercayaan pada pemerintah (Bayangkan sungai Ciliwung dan Bengawan Solo menjadi merah menyala karena darah). Efek sampingnya bisa timbul pemberontakan dan kerusuhan di mana-mana. Untuk menyembuhkan trauma juga akan sangat sulit. Hal ini tidak baik dalam kehidupan bernegara.

Itu baru memberantas kalangan tidak berpendidikan. Bagaimana dengan genosida anak alay?

Ada sekitar 70 juta anak usia 0-14 tahun di Indonesia. (data dari The World Factbook). Anggaplah 60% dari anak-anak ini, alay semua. Katakanlah untuk melangsungkan generasi muda, 40% anak Indonesia di-genosida.

Lagi-lagi efeknya seperti domino. Mulai dari ekonomi, sosial, politik, pendidikan, daaan seterusnya.

Penjelasannya begini. Di sektor ekonomi, anak alay berperan penting. Bayangkanlah jika tidak ada anak alay, maka usaha kaos, jeans aneh, topi mentereng dan kamus-kamus alay tidak akan laku. Facebook juga akan se-krik Google+ jika tidak ada anak alay. Pengusaha kebingungan dibuatnya.

Dari segi sosial, jika seorang anak dibunuh, sealay apapun dia, sebodoh apapun dia, pasti sang orangtuanya akan sakit. Sakit hati, trauma, efeknya panjang bagi kejiwaan. Di kegiatan ekonomi, si orangtua pasti berperan penting, meskipun hanya kasir di toko pakaian, misalnya. Jika sang orang tua trauma dan tidak bekerja, negara ambruk.

Di sektor kependudukan, anak muda juga berperan dalam masa depan bangsa. Sealay apapun seseorang, pasti akan memiliki peran. Pasti.

Selain itu, genosida juga buruk di pandangan politik. Makanya Jerman langsung ambruk setelah Hitler berkuasa.

Nah, kalau genosida itu buruk dunia dan akhirat, bagaimana cara membersihkan penyakit masyarakat?

*****

Anies Baswedan lewat Indonesia Mengajar-nya sanggup membawa pencerahan dan optimisme bangsa. Di Indonesia mengajar, setiap tahunnya ada puluhan “guru yang belum pernah menjadi guru” dikirim ke daerah untuk mendidik anak daerah. Dalam jangka waktu satu tahun di daerah terpencil yang jauh dengan akses apapun, guru Indonesia Mengajar dipercaya bisa membawa perubahan.

Nah, kuncinya pendidikan. Dengan mendidik. Better light more than cursing darkness.

Lewat pendidikan, ke-28 juta anak alay bisa disembuhkan, misalnya. Ke-70 juta warga tidak produktif bisa maju bersama. Hasilnya, negara yang kuat dan kokoh, baik dalam kehidupan ekonomi maupun sosial-politik dan lainnya.

Contoh lainnya adalah HOS Cokroaminoto dan kawan-kawan pada era pra-kemerdekaan. Mereka adalah manusia terdidik, karena belajar. Lewat pemikiran dan pena, mereka bisa menaklukkan Belanda.

Bayangkan jika semua warga Indonesia yang bodoh bukannya dididik tetapi malah digenosida. Bisa jadi Indonesia belum berdiri hingga saat ini.

Tapi yang namanya mendidik memang sulit sekali. Tidak bisa instan. Meskipun begitu, jika berhasil efeknya akan luar biasa dan mengakar di kehidupan masyarakat.

Nah, ketimbang menyeru bunuh ini bunuh itu, lebih baik mencerdaskan bersama. Yuk?