Makanan khas Palembang ini termasuk salah satu makanan favorit saya. Rasanya yang gurih dengan kuah yang bercita rasa asam dan pedas, bikin nagih. Salah satu penjaja pempek favorit saya adalah Pempek Musi Raya di Pasar Minggu.

Tapi, yang benar Mpek-mpek, Pempek atau Empek-Empek? Dan apakah makanan khas Palembang hanya itu saja?

*****

Sekitar 5-8 tahun yang lalu–saya lupa tepatnya–rubrik Bahasa di harian Kompas membahas Pempek. Kata penulis, selama ini masyarakat tidak tahu nama yang paling tepat dari makanan khas Palembang ini (bahkan di kota Palembang sendiri, banyak yang tidak tahu!).

Setelah ditelisik, ternyata arti dari ’empek’ adalah orang tua. Sedangkan kata ‘mpek’ tidak memiliki arti. Nah, kata ‘pempek’ merujuk ke “makanan khas Palembang yang dibuat dari ikan tenggiri”!

Jadi nama makanan ini yang paling tepat adalah ‘Pempek’!

Bayangkan kalau ada penjaja pempek keliling meneriakkan “Empek-empek!”, mungkin yang dijual bukan makanan, tapi orang tua…😛

*****

Seminggu terakhir ini saya mudik ke rumah mbah. Saudara saya yang dari Palembang ikut mudik juga. Mereka membawa buanyak sekali pempek dan keturunannya.

Om saya bercerita kalau makanan khas Palembang yang terbuat dari ikan bukan hanya pempek. Ada tekwan, sejenis pempek yang kuahnya bening seperti sop. Lalu pempek model yang isinya tahu, serta pempek pistel yang isinya pepaya yang sudah dibumbui. Keduanya pun menggunakan kuah bening.

Ada lagi yang namanya celimpungan, pempek yang menggunakan kuah bersantan, tapi tidak pedas. Ada juga laksan, pempek dengan kuah bersantan yang pedas.

Kerupuk ikan pun ada bermacam-macam. Ada yang bulat-bulat seperti permen Polo, ada yang gepeng, ada juga yang modelnya kriwil-kriwil seperti kerupuk yang dijual di warung. Setiap jenis memilki rasa yang berbeda.

*****

Bagaimana dengan sejarah pempek?

Pempek diyakini mulai muncul di Palembang ketika masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II, atau sekitar abad ke-16.

Di masa itu mulai masuk banyak perantau dari Cina. Alkisah, ada seorang Hokkian Cina yang sudah sepuh merasa sedih melihat hasil tangkapan ikan dari Sungai Musi yang melimpah tidak dimanfaatkan dengan baik. Kebanyakan hanya dimasak dengan cara menggoreng atau dibuat pindang. Tidak ada variasi lain.

Kemudian perantau berusia 65-an tahun ini mencoba membuat makanan baru. Ikan tenggiri dicampur dengan tepung tapioka, kemudian dikukus, dan digoreng. Supaya lebih sedap, dia tambahkan cuka yang dicampur cabai dan gula.

Makanan baru ini dijajanya keliling kota dengan menggunakan sepeda. Karena penjualnya adalah orang tua, maka saat ingin membeli, sang pembeli sering memanggil, “Pek… Apek!”

Dari situlah nama makanan khas Palembang ini berasal.

Tidak disangka-sangka, ya?