Beberapa waktu yang lalu, saya buka internet untuk mencari barang. Saat buka kaskus, saya lihat ada iklan yang menakjubkan:

JUAL IJAZAH SD SMP SMA D2 D3 S1

Karena penasaran, saya coba buka. Wow. Ternyata penjual online ini nggak main-main. Dia menyediakan daftar sekolah yang diinginkan, IPK yang diinginkan, hingga biaya yang wajib dibayarkan. Bahkan ada testimonial dari pelanggan sebelumnya! Pemberi testimonialnya kebanyakan adalah calon legislatif, pegawai di pemerintahan, bahkan anggota legislatif!

Wtf.

******

Sekian bulan berlalu.

Sekitar 5 orang tua dari teman-teman adik saya yang masih SD datang ke rumah. Mereka sedang membahas nilai UN yang baru diumumkan. Lalu pembicaraan menjurus ke gelar.

“Eh suami gue SE (Sarjana Ekonomi) lho!” pamer Ibu 1 ke ibu-ibu lainnya.

“Gue juga SE!” ujar Ibu 2.

Tapi Ibu saya diam saja.

Kemudian Ibu 2 bicara, “Saya punya bisnis loh di bidang pendidikan!”

Ibu saya yang bingung diam saja. Kemudian Ibu 4 berkata, “Iya tuh, bisnisnya bagus!”

Karena penasaran, ibu saya bertanya, “Bisnis apa sih?”

“Jual beli ijazah!” ujar ibu 4.

“Hehehe… Iya jual beli ijazah. Ayo, Bu, kalo suaminya mau dapet ijazah S1 S2, ke saya aja!” tawar Ibu 2 ke ibu-ibu lainnya.

*****

Sepulangnya orang tua murid dari rumah kami, Ibu saya cerita. Teman ibu saya, si Ibu 2, adalah penjual ijazah. Pelanggannya adalah calon legislatif dan calon pegawai pemerintahan. Si Ibu 2 ini tidak banyak promosi, hanya dari mulut ke mulut.

Keuntungannya besar. Apalagi kalau yang mau buat ijazah adalah calon legislatif. Duitnya deras, katanya.

Pernah suatu ketika si Ibu 2 ini ditelpon hingga berhari-hari. Siang malam tiada henti. Namun karena nomornya tidak dikenal, tidak diangkatlah telpon tersebut. Hingga suatu hari, si Ibu 2 didatangi pejabat. Ternyata pejabat ini lah yang selama ini menelpon Ibu 2. Ia memohon dibuatkan ijazah S1. Setelah persyaratan terpenuhi, uang ada, ijazah pun jadi. Digunakanlah ijazah itu untuk meyakinkan atasannya bahwa dia sudah sarjana.

Tentu saja ijazah yang dikeluarkan bukan ijazah dari universitas ternama. Lembaga pendidikan di ijazah tersebut tidak terkenal. Namun lembaganya ada (tidak fiktif), dan ijazahnya asli.

Ternyata, bisnis ijazah memang dilakukan oleh universitas yang tidak terkenal. Motifnya untuk mencari uang. Asal ada uang, bisa diatur. Nama pembeli ijazah akan ada di universitas tersebut sebagai alumnus. Universitas tersebut juga akan melengkapi biodata pembeli ijazah dengan IP per semester, jumlah SKS yang sudah ditempuh, dan skripsi. Semua ada, seolah-olah si pembeli ijazah memang sudah menamatkan masa belajar di sana.

Nah, kebanyakan pembeli ijazah ini adalah orang yang ingin bekerja di pemerintahan. Sebab salah satu syarat bekerja di pemerintahan adalah memiliki ijazah S1, atau S2. Tidak seperti di swasta yang tidak terlalu memperhatikan pendidikan, asalkan bisa berjasa bagi perusahaan tersebut.

Tak heran kalau si Ibu 2 selalu sibuk dengan BlackBerry-nya. Karena memang punya bisnis.

*****

Memiliki gelar S1 dengan cara mudah. Asal punya uang.

Di kala ratusan ribu calon mahasiswa saling “bunuh-bunuhan” saat ujian untuk bisa diterima di universitas favorit, eh, ada bajingan yang ingin bisa bekerja dengan membeli ijazah (uang untuk membelinya pun sudah tidak halal). Yang menyedihkan, ternyata bajingan ini ada banyak…. Tidak cuma sepuluh dua puluh, tapi seribu dua ribu. Mungkin lebih. Bahkan bajingan ini masuk ke ranah politik, bahkan pemerintahan. Tak heran lah kalau etos kerja di pemerintahan tidak terlihat giginya (bahkan lebih banyak jalur sampingnya), sebab dari awal usaha untuk bekerja saja sudah tidak bersih.

Silakan Anda iseng melakukan pencarian lewat Google: “jual ijazah”. Muncul banyak sekali iklan yang menawarkan jasa jual ijazah. Bahkan ada yang benar-benar niat dengan membuka website bagus seperti ini. Miris sekali rasanya.

Saya jadi ingat salah satu dosa besar yang pernah dikemukakan Gandhi: Wealth without Work. Kekayaan tanpa usaha. Kekayaan tanpa kerja keras. Gelar tanpa kerja keras.

Ini adalah salah satu poin yang harus dihindari. Kerja keras itu wajib. Bahkan sampai sakit-sakitan karena selalu tersandung. Tidak boleh ada yang instan, sebab membuat mie instan pun harus usaha: tidak bisa instan.

Kalau melihat dari sistem yang ada di pemerintahan, sebenarnya sistemnya sangat bagus. Bagus sekali. Sebab pemerintahan hanya mengizinkan orang yang pintar untuk bekerja. Sayangnya, penyelenggaraan sistem tersebut terlalu longgar. Bisa diakali hanya menggunakan uang.

Ahoy, kalau saya lebih baik tidak punya ijazah ketimbang harus melalui cara busuk seperti itu.