-Updated-

Seminggu yang lalu Alhamdulillah saya dapat honor edit buku, jadi bisa jalan-jalan ke toko buku. Curhat dikit boleh lah ya. Saya datangi Toko Gunung Agung karena di situ biasanya banyak koleksi buku bagus yang nggak ada di Gramedia.

Pergi ke bagian majalah, saya lihat ada majalah “Sains Indonesia”. Wow, ternyata Indonesia punya juga majalah yang membahas sains. Saya berharap bakal bertemu dengan artikel seperti “Peranan Teknologi Kuantum bagi Masa Depan Superduperkomputer” atau “Ilmuwan Indonesia Berhasil Membuat Pesawat Berkecepatan Cahaya” atau “Belajar Sains, Puluhan Nelayan Tertimpa Ikan”.

Alih-alih saya bertemu dengan artikel, “Budidaya Sawit Semakin Meyakinkan” dan “Peneliti Berhasil Membuat Kertas yang Dibuat dari Serat Pelepah Pisang”. Yah. Kecewa deh.

Sayang karena uang sudah dijatah untuk beli majalah Time, jadinya saya nggak beli majalah sains fenomenal ini. Saya juga gagal mengabadikan cover-nya karena baterai hp lemah😥

Nah, benar saja kata Bu Hera Sudoyo di TEDxJakarta 1 April kemarin, sains di mata masyarakat Indonesia itu nggak sexy. Sebab di mata masyarakat, sains di Indonesia masih seputar pertanian dan peternakan dengan masa depan penelitian yang suram. Kenyataan bekerja sebagai peneliti harus berpakaian putih-putih dengan kacamata lab dan gaji yang rendah juga merupakan salah satu faktor yang bikin sains nggak sexy.

Padahal sains nggak seperti itu. Ada kisah peneliti Indonesia yang meneliti nyamuk atau apalah itu (lupa, soalnya artikelnya ada di Kompas sekitar 6 tahun silam) sejak 1990an sampai 2006 dengan sangat getol. Nggak tahu kelanjutan beliau gimana.

Ada juga kisah peneliti biologi molekuler Indonesia yang meneliti kasus kriminalitas seperti di film CSI. Tapi yang seperti itu justru jarang diangkat ke ranah publik.

Kalau saya baca majalah-majalah sains luar negeri, rasanya miris banget lho. Artikelnya keren-keren, nggak ada kesan ketinggalan jaman sedikitpun. Wajar sih, soalnya di sana, khususnya Amerika dan negara-negara Uni Eropa, penelitian didukung dengan dana jutaan USD. Fasilitas mendukung, buku dan literatur lengkap. Nggak heran kalau anak SMA di Amerika sana sudah berhasil membuat alat pengkontrol diabetes tanpa perlu menusukkan jarum suntik ke tubuh. Wow banget. (Science News 11 Februari 2012)

Atau sebenarnya nggak perlu muluk-muluk ke sana, artikel humor seperti ini juga termasuk ke pembahasan sains. Keren kan.