Tahun lalu, saya diajak ayah ke showroom Peugeot. Lihat-lihat mobil, katanya.

Setibanya di sana, ada banyak mobil. Salah satu yang menarik perhatian saya, Peugeot 5008. Tipikal SUV Eropa: muat banyak, concern banget dengan keamanan, dan keren. Begitu lihat speknya: mesin 1600 cc.

Dan saya, “What the f***, mobil segede ini mesinnya cuma 1600 cc?”

Kelihatannya mbak-mbak showroom sadar kalau saya kaget dan, “Iya, Mas, tapi lihat tenaganya…”

Dan saya tambah-tambah, “What the hell, mesin segini tenaganya 156 hp?!!” Buat perbandingan, mobil Kijang Innova 2000 cc tenaganya cuma 136 horse power. Atau Toyota Avanza 1500 cc cuma 105 hp.

Itulah tren mobil zaman sekarang.

Perkembangan mobil dari 100 tahun silam

Sampai saat ini mindset “lebih besar cc-nya, lebih bertenaga dan lebih keren mobilnya” masih berlaku, baik di Indonesia maupun di belahan dunia lainnya.

Hal ini wajar mengingat peningkatan efisiensi mesin mobil terbilang lambat.

Ford T, mobil buatan Ford 100an tahun silam yang sangat fenomenal. Ford T disokong mesin 2900 cc 4 silinder. Tenaganya cuma 20 hp. Tenaga 4 motor Supra X 125 R setara dengan mbah tua ini😛

Lewat 40an tahun kemudian, industri mobil mulai berkembang pesat. Mesin berkonvigurasi V, rem hidrolik, hingga transmisi otomatis ditemukan. Sayangnya efisiensi mesin mobil masih belum berkembang pesat. Contohnya mobil kepresidenan Indonesia pertama, Buick 8. Mobil ini rakus, gendut, sayangnya pesakitan dan lambat. Mesinnya 4400 cc V8 dan tenaganya cuma 120 hp.

Ada juga Delahaye 175 S. Berbodi besar tapi tidak seperti tipikal mobil Amerika yang besar pasak daripada tiang. Mesinnya 4500 cc dengan tenaga 165 hp.

Minyak melimpah

Sekitar pertengahan abad ke-20 ditemukanlah sumber minyak bumi melimpah di Timur Tengah. Semua senang.

Amerika adalah negara yang hobi membuat dan membeli mobil gendut (baca: berkapasitas silinder besar). Itulah kenapa di game, mobil Amerika selalu terlihat gendut, berat, dan kehabisan nafas. Contohnya muscle cars seperti buatan Dodge, atau Chevrolet.

Karena pangsa pasar mobil terbesar dunia saat itu adalah Amerika Serikat, maka untuk memenuhi kebutuhan pasar Amerika, produsen membuat mobil bermesin besar. Sampai sekarang Amerika masih hobi bikin mobil yang bermesin besar. Mungkin ini yang bikin orang Amerika gendut-gendut😛

Hingga akhirnya krisis energi terjadi pada tahun 1970an. Perusahaan mobil kulit putih dan mata sipit (baca: Eropa dan Korea) mulai menguasai pasar. Krisis energi membuat penemuan lama yang sangat bermanfaat mulai digunakan secara luas, contohnya mesin berinjeksi.

Sejak saat itu efisiensi mesin mulai meningkat. Misalnya BMW seri 3 yang dibuat tahun 1970an. Walaupun mesinnya 1800 cc, tapi tenaganya 105 hp (bandingkan dengan mobil Buick 8).

Minyak bumi menipis,

Awal abad ke-21, scientist di seluruh dunia mulai mengingatkan ancaman menipisnya minyak bumi. Ada yang memperkirakan minyak bumi akan habis pada 2050. Bahkan ada yang lebih progresif, memperingatkan bahwa minyak bumi akan habis pada 2014 jika melihat tren konsumsi minyak seperti saat ini.  Mereka juga mengingatkan bahaya global warming. Diperingatkan bahwa tahun 2016, es di Samudera Arktika akan meleleh seluruhnya.

Perekayasa mobil Eropa menyadari bahwa persediaan minyak bumi kian menipis. Jika terus memproduksi mobil ber-cc besar, emisi karbon dioksida dari mobil mereka akan membahayakan lingkungan. Tentu berbahaya bagi image perusahaan, mengingat konsumen semakin kritis. Jika tidak membuat mobil ber-cc kecil tapi bertenaga besar, maka energi murah akan cepat habis. Bila energi murah–baca: minyak bumi–cepat habis maka bisnis mobil akan cepat mati. Jika bisnis mobil mati, perusahaan mereka mati, dan negara tidak akan punya apa-apa. And so on.

Akhirnya produsen mobil mulai berlomba-lomba membuat mobil listrik. Sayang, karena biaya pengembangan sangat besar, baterai yang tidak tahan lama, regulasi dan sarana prasarana di beberapa negara tidak mendukung, dan minyak bumi masih lebih murah, mobil listrik tidak laku.

Akhirnya teknologi yang dulu hanya diperuntukkan mobil super, digunakan ke mobil biasa. Itulah turbocharger.

Penggunaan turbochargerlah yang membuat mobil ber-cc kecil mempunyai tenaga besar, tapi konsumsi bensin tetap irit.

*****

Seminggu lalu saya dikagetkan VW Touran. Mesinnya cuma 1400 cc, tapi tenaganya 145 hp! Tentunya tenaga itu akan dihasilkan kalau menggunakan bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi mesin. Baca lagi: Premium bukan hanya untuk kalangan tidak mampu.

Tiga hari kemudian saya dikagetkan dengan Suzuki Ertiga. Mesinnya sama-sama 1400 cc, tapi tenaganya cuma 95 hp. Kelihatannya Jepang masih belum berminat mengembangkan mesin berturbocharger. Atau, karena Suzuki Ertiga menyasar konsumen kelas menengah, jadi yang penting ber-cc kecil dan terjangkau.

Mengingat minyak bumi yang kian menipis dan pengembangan mobil listrik yang terlihat jalan di tempat, maka tren mobil ber-cc kecil akan terus berkembang pesat.

Kesimpulan

Sebaiknya pemerintah memikirkan kembali pembatasan Premium untuk mobil bersilinder di atas 1500 cc (lho).