Kayaknya mereka nggak pernah belajar kimia….

*****

Satu minggu yang lalu mahasiswa merengek-rengek meminta harga BBM tidak dinaikkan. Sayangnya rengekan mereka merusak fasilitas umum. Akhirnya anggota dewan memutuskan menunda penaikan harga Premium alias BBM bersubsidi.

Nah, sekarang apa benar Premium hanya untuk golongan tak mampu?

Bahan bakar yang beredar di pom bensin Pertamina ada 5 jenis: Premium, Pertamax, Pertamax Plus, Solar/Biosolar, dan Dex. Premium beroktan 88, Pertamax 92, dan Pertamax Plus 95. Untuk Solar yang juga disubsidi seperti Premium tidak memiliki nilai oktan karena proses kerja mesin diesel dengan mesin bensin berbeda. Solar dikhususkan untuk mesin diesel konvensional, sedangkan Dex untuk mesin diesel yang sudah menggunakan teknologi common rail (makanya jangan heran bila melihat mobil bermesin diesel baru tetapi asapnya luar biasa hitam dan berbau busuk. Itu mesin common rail, tetapi masih menggunakan solar/biosolar).

Lalu jika Anda masih ingat materi kimia saat SMA dulu, di mesin bensin ada bahasan tentang rasio kompresi dan nilai oktan. Di bawah terlampir grafik rasio kompresi terhadap nilai oktan.

Nah, seyogyanya adalah salah jika mengatakan bahwa Premium hanya untuk kalangan tidak mampu. Sebab hingga saat ini masih banyak kendaraan bermotor (khususnya sepeda motor) yang rasio kompresinya masih di bawah 9,0:1 alias harus menggunakan Premium (oktan 88).

Jika mesin yang kebutuhannya oktan 88 diberi oktan 92, mesin akan menjadi lebih cepat panas dan tidak ada peningkatan energi ataupun torsi dari mesin. Hanya membuang-buang uang saja. Ibarat manusia yang kehausan dan membutuhkan air putih tetapi diberi air teh, tidak memuaskan dahaga (eh gak nyambung).

Saat ini masih banyak sepeda motor yang membutuhkan oktan 88, khususnya motor keluaran 5 tahun lalu. Di antaranya Honda Supra X 125 R, Honda Absolute Revo,  Yamaha Mio, Yamaha Jupiter, Yamaha RX-King, dan masih banyak lagi.

Ada juga mobil yang masih membutuhkan oktan 88, khususnya mobil Jepang buatan 10 tahun lalu. Misalnya angkot, Toyota Kijang, Suzuki Carry, dan banyak lagi. Tentunya pemilik mobil ini belum tentu dari kalangan tidak mampu ya…

Nah kan tidak mungkin kalau kendaraan-kendaraan tersebut dipaksakan meminum yang bukan spesifikasinya.

Sekarang seharusnya pilihan ada dua: Premium bersubsidi, (yang dikhususkan bagi nelayan dan angkutan umum, misalnya) dan Premium non-subsidi, untuk kalangan mampu tetapi memiliki kendaraan berasio kompresi di bawah 9,0 : 1.

Kalau tidak begitu caranya, tentu akan sulit menekan penggunaan BBM bersubdidi.

Tapi lain halnya dengan ini lho ya…

Kalau ini sih dasar pemilik mobilnya yang tidak berpendidikan saja. Punya mobil terbaru seharusnya siap dengan konsekuensi membayar lebih untuk bahan bakar beroktan tinggi. Btw, tidak cuma Alphard yang harus pakai Pertamax Plus. Toyota Avanza itu seharusnya menggunakan Pertamax Plus, sebab rasio kompresinya tinggi (10 : 1).

Lain juga halnya dengan bajaj BBG yang diisi Pertamax oleh pengemudinya (ada fotonya di Kompas 1/4). Bajaj BBG kompresinya masih 9 : 1 dalam artian masih butuh Premium.

Semoga mencerahkan.