Organda: Tarif Angkutan Naik Mulai 1 April

Organda Naikkan Tarif Bareng Kenaikan Harga BBM

Iseng-iseng saya main ke Google, mengetikkan “organda” di kotak pencarian. Halaman peramban internet akan dibanjiri berita tuntutan Organda atas kenaikan tarif.

Lalu saya coba mengganti preferensi waktu pencarian menjadi sebulan lalu. Masih tuntutan Organda atas penaikan tarif. Beruntung ada berita tentang permintaan Organda atas pengubahan trayek.

Ganti interval waktu dari tahun 20010-2011. Organda mendesak Pemprov melakukan peremajaan armada. Lho, saya kira yang seharusnya meremajakan angkutan justru para pengusaha angkutan umum, bukan Pemprov.

2009-2010 Organda nggak kelihatan, Bung. Bahkan ada berita yang menyebut Organda menyuap sopir angkot dan oknum Organda memungut pungli.

2008-2009, harga BBM dinaikkan. Organda terlihat lagi dengan permintaan kenaikan tarif. Parahnya setelah harga BBM diturunkan kembali, Organda menyatakan keberatan atas penurunan tarif angkutan umum. Astaga. Untungnya tarif angkutan umum turun lagi seiring turunnya harga BBM.

2007-2008, lagi-lagi kerja Organda  cuma menuntut.

2006-2007, Organda ricuh saat pelantikan pengurus.

Gile lu, Ndro. Cuma kelihatan waktu harga BBM akan naik.

Karena penasaran, apa iya kerja Organda cuma menuntut, saya ganti preferensi pencarian. Kali ini menjurus ke kinerja Organda.

Sekitar 3 bulan yang lalu, saat marak kasus perkosaan di angkutan umum. Yang banyak bertindak justru Kemenhub melalui “petugas berbaju biru” alias Dishub. Pemkot Depok juga terlihat keterlibatannya. Organda? Tidak terlihat, Bung!

Dan tidak ada berita lain lagi.

Gile lu, Ndro. Berarti kerja Organda cuma menuntut, menuntut, dan menuntut. Padahal kalau melihat di sini, tugas Organda adalah “Memupuk dan meningkatkan kesadaran nasional serta patriotisme para anggota dalam tanggung jawabnya sebagai Warga Negara.” Bukan sekedar menuntut kenaikan tarif. (Btw, saking sedikitnya referensi tentang Organda (website Organda mati), saya sampai tidak tahu apa fungsi Organda.)

Ngomong-ngomong, seorang manusia baru bisa dibilang pengusaha/entrepreneur jika sudah menghasilkan nilai tambah. Wirausaha itu bukan sekedar mencari profit. Tengoklah Pak William Soeryadjaja, pendiri Astra. Berkat kehadiran Astra, banyak pengusaha kecil berbasis daerah yang mampu mempekerjakan karyawannya. Sebab, Astra adalah perusahaan penggerak ekonomi Indonesia yang bekerja sama dengan UMKM.

Atau tengok Sudono Salim, pengusaha yang membawahi Indofood dan Sari Roti. Produknya terus berinovasi, meskipun orientasinya keuntungan. Nilai tambahnya kelihatan. Mereka itu pengusaha, bukan peminta-minta. Bekerja dari keringat sendiri.

Sekarang tengoklah angkutan umum di negara maju, seperti Jepang. Pengelola seperti itu pantas disebut pengusaha. Pelayanan maksimal, konsumen senang. Bahkan saya pernah nonton di salah satu channel TV kabel, bus di Taiwan sudah memakai energi listrik!

Sejauh ini, saya bangga dengan Kopaja yang mampu menyediakan armada ber-AC dengan sistem penaik-turunan penumpang yang tertib.

Namun secara keseluruhan, hemat saya Organda tidak kerja apa-apa. Saya tidak paham yang mereka maksud “pengusaha” yang berada di bawah naungan Organda itu siapa saja (sekali lagi, website Organda mati). Organda memang membawahi angkutan semacam taksi, hingga Transjakarta. Namun angkutan umum seperti KWK dan Kopaja, siapakah orang di balik penyedia angkutan umum tersebut yang disebut “pengusaha”? Apakah si peminta setoran?

Seharusnya setoran yang diberikan dari sopir ke para pengumpul setoran dijadikan nilai tambah. Bukan cuma buat keperluan perut.

Tekanlah pengusaha di bawah naungan Organda untuk bekerja, memberi nilai tambah. Gantilah armada busuk yang masih beroperasi di jalan, dan didiklah sopir angkot supaya lebih bermoral. Tingkatkan pelayanan, supaya konsumen dan pemerintah tidak berteriak ketika Organda menuntut kenaikan tarif. Itu baru bisa disebut organisasi.

Kalau kerjanya cuma bisa menuntut kenaikan tarif, Organda tidak ada bedanya dengan peminta-minta.