Don’t think too much! Itulah pesan yang disampaikan oleh buku How We Decide karya Jonah Lehrer.

Buku ini dibuka dengan pengalaman seorang pilot yang mengalami keadaan darurat: salah satu mesin mati, sistem autopilot mati, dan parahnya sistem hidrolik pun mati! Kiamat!

Sang pilot bingung dan tanpa berpikir panjang muncul di benaknya cara mengendalikan pesawat: kendalikan saja mesinnya. Matikan salah satu supaya pesawat berbelok. Atau kencangkan putaran jetnya supaya lebih tinggi. Pikiran ini tiba-tiba saja muncul, entah dari mana asalnya. Bagaikan ilham dari langit.

Itu adalah kerja dari limbic system. Bagian otak yang mengatur emosi.

Ada lagi kasus seorang pekerja bernama Elliot yang tidak mampu membuat keputusan–biarpun cuma makan di mana–karena ada bagian di limbic systemnya yang dihilangkan.Orbitofrontal cortex. Bagian itu berfungsi untuk membuat keputusan.

Sejatinya, buku ini menekankan bahwa menghilangkan emosi itu justru hal buruk. Psikopat bisa sedemikian kejamnya karena otak yang mengatur emosinya tidak berkembang dengan baik. Ilmuwan menemukan fakta bahwa anak orangutan yang dikarantina sejak bayi menjadi lebih bersifat psikopat ketimbang yang mendapat kasih sayang ibu.

Namun bukan berarti dengan besarnya emosi maka segalanya menjadi lebih baik. Ada kisah penelitian kesabaran anak: anak yang saat umur 4 tahun tidak sabar, di masa remajanya cenderung menyusahkan, bandel, dan nilai SATnya rendah. Ada juga kasus mengambil keputusan hanya berdasarkan intuisi yang membawa malapetaka.

Selain itu, Jonah Lehrer juga menekankan, untuk memutuskan membeli/memilih, sebaiknya jangan berpikir terlalu lama. Don’t think too much. Contohnya penelitian tentang dua kelompok mahasiswa. Mereka diberi 3 macam lukisan: lukisan Van Gogh, lanskap buatan Monet, dan gambar kucing. Kelompok A disuruh memilih lukisan untuk dibawa pulang tanpa boleh berpikir. Kelompok B, harus membawa pulang lukisan yang disuka dengan syarat: harus menyertai alasan kenapa dia menyukai lukisan itu.

Hasilnya, kelompok A lebih menyukai keputusannya sementara kelompok B kebalikannya. Di sinilah peranan emosi.

Ada juga kisah tentang superkomputer yang mengalahkan Gary Kasparov.

How We Decidedisajikan dengan bahasa yang mudah, meskipun banyak istilah ilmiah di dalamnya. Banyak juga contoh kasus yang mudah nyantol di kepala.

Sayangnya sampai saat ini belum ada edisi bahasa Indonesianya. Untuk versi berbahasa Inggris pun baru bisa didapat di toko online amazon.com, atau bagi yang menggunakan perangkat Amazon Kindle bisa membelinya langsung dengan harga lebih murah.