Menghargai–apapun–itu saangat sangat penting. Itu yang saya pelajari setelah nonton The Maverick Chef di Li.

***

Saya takjub karena masakan Indonesia masuk di siaran TV kabel. Ada masakan padang, gado-gado, petai, sampai teh tarik.

Karena telat nonton, saya cuma kebagian potongan masakan padang. Di situ masakan disajikan dengan cara ‘hidang’, alias seluruh lauk pauk disajikan di atas meja, lalu konsumen tinggal memilih lauk yang ingin dimakan.

Adalah Alvin Leung, seorang koki yang menjadi host sekaligus bintang tamu di acara ini. Sebagai host, karena acara tv dipegang oleh dia; dan sebagai bintang tamu, karena dia berkeliling negara untuk mencicipi makanan.

Ternyata maksud acara ini adalah: si Alvin mencoba masakan khas suatu negara, lalu dia coba memasak kembali. Tapi masakan buatan Leung merupakan modifikasi dari resep asli.

Sampai akhirnya yang buat saya sangat kaget….

Dia modifikasi gado-gado (kita tahu lah gado-gado seperti apa) jadi tinggal 4 kotak potong dadu sayuran. 4 potongan dadu! Sayurannya pun brokoli dan entahlah apa itu namanya. Sausnya bukan lagi saus kacang. Kerupuk dia ganti dengan apalah itu yang kalau direbus jadi mengembang.

Bukannya saya kolot, tidak menghargai modifikasi. Tapi secara tak langsung, modifikasi yang keterlaluan berlebihannya seperti itu dapat berarti “masakan aslinya sampah”. Dan oh yes, si Leung bilang, “Jangan buat gado-gado yang seperti itu! Itu sampah!”

Cerita berulang lagi saat dia memasak udang goreng petai. Menurutnya, petai = plastik. Pantasnya dibuang.

Udang diganti lobster. Okelah, keren. Petai dia ganti apalah-itu-namanya yang menurut dia oke.

Begitu masuk ke modifikasi rendang, menurutnya rendang yang ada saat ini sampah. Wow, sampah!

Dia ganti daging rendang biasa dengan sirloin setipis lembaran nori. Yup, tipis banget.

Lalu dengan sombongnya dia berkata, “Rendang yang dimasak selama 6 jam bisa aku buat lebih enak dengan hanya 6 detik saja!”

Ternyata, dia buat bumbunya dari semacam bumbu instan yang dia masukkan ke air panas. Kemudian cara penyajiannya, daging sirloin yang masih merah segar dicelupkan ke dalam “kuah” panas. Kemudian diangkat, dan dimakan.

Gile, itu sih bukan modifikasi. Tapi bikin menu baru.

***

Hingga akhirnya masakan diujikan ke tester: ada beberapa blogger Indonesia yang sudah go-internasional karena aktif dalam kuliner, dan seorang warga sipil biasa.

Masakan pertama: teh tarik. Saya tidak nonton resep modifikasi dia. Tapi, tester setuju bahwa rasanya payah, tidak enak.

Kemudian gado-gado. Tester kaget (ya, ekspresi wajah kaget) karena yang nongol cuma kuning telur setengah matang plus empat kotak dadu konyol dengan saus merah muda dan semacam bihun.

Kata tester: nggak enak. Hahaha.

Masuk ke rendang, rasa dagingnya konyol karena tipis. Tapi bumbunya oke. Nampaknya masakan Leung bisa berhasil di sini.

Dan udang goreng petai. Tester kecewa karena kacang panjangnya kehilangan tekstur rasanya dan petainya tidak berasa. Tak sip lah.

***

Setahu saya, semua koki menghargai masakan yang dia pernah coba, sekalipun tidak sesuai dengan selera dia.

Tidak mengejek masakan sebagai sampah, atau tidak pantas.

Koki sejati akan menjadikan masakan dari negara lain untuk memperkaya wawasan kulinernya untuk menghasilkan produk baru.

Paling koki kalau marah hanya kepada bawahannya, karena masakannya kurang sempurna. Bukan karena masakan suatu negara yang tidak sejalan dengan selera sang koki.

Tapi si Alvin Leung, perilakunya menjijikkan banget. Saya iseng cari di internet, banyak yang setuju. Most of all, merasa jijik karena dia selalu mengejek masakan yang tidak sesuai dengan seleranya.