“Soal BBM bersubsidi, saya tidak bisa memberi keterangan lebih jauh. Tetapi, yang bisa saya katakan adalah pengaturan atau pembatasan akan dimulai di Jawa dan Bali.  …kalau baca UU APBN, kita tidak boleh menaikkan harga BBM.” Agus Martowardojo, Menteri Keuangan.

Sejumlah kalangan mendesak pemerintah untuk tegas dan cepat dalam memutuskan BBM bersubsidi. Sebab ditakutkan kejadian tahun lalu, anggaran subsidi BBM membengkak akan terulang kembali.

Kalau BBM bersubsidi naik, bagaimana nasib rakyat kecil?

Jerman adalah negara adidaya yang sudah lama mengembangkan teknologi mobil hibrid. Jumlah mobil yang sudah turun di jalan memang sangat sedikit. Namun pengembangan dan kampanye penggunaan mobil hibrid terus dilakukan.

Jepang lebih berani, sudah meluncurkan banyak mobil hibrid di pasaran. Bahkan Amerika Serikat sudah meluncurkan mobil bertenaga murni listrik: Chevrolet Volt. Meskipun banyak keluhan sana-sini (maklum teknologi baru), Chevy Volt termasuk sukses di pasaran.

Selain mobil, mereka sudah membatasi penggunaan bahan bakar minyak. Jepang mulai mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin. Amerika juga telah menyelesaikan invasinya ke Irak.

Sayangnya Indonesia tetap melanjutkan kebijakan harga BBM bersubsidi murah. Saya khawatir rakyat Indonesia ketagihan BBM, sehingga sulit beralih ke energi terbarukan. Mengingat persediaan minyak bumi di dunia sudah semakin menipis.

Ketagihan di sini bukan berarti tidak bisa lepas semata-mata karena bensin enak. Takutnya seperti ilustrasi swasembada beras zaman Soeharto yang benar-benar terjadi sekian dasawarsa lalu.

Dulu rakyat Indonesia begitu heterogen. Di timur makan sagu, di Jawa ada yang makan singkong, beras, dan lain sebagainya. Begitu swasembada beras dilaksanakan, semua beralih ke beras. Singkong, sagu, beras merah ditinggalkan. Semua makan beras. Sampai suatu ketika, luas sawah kian menipis. Semua kelimpungan.

Pemerintah bingung, target pangan tak tercapai. Petani bingung karena panennya makin sedikit. Rakyat bingung karena harga beras makin mahal. Mau beralih, sudah tidak bisa karena telah terbiasa makan beras. Nah.

Ditilik dari segi politis, subsidi BBM memang menjanjikan. Perekonomian akan tumbuh, angka kemiskinan tidak naik, produktivitas meningkat. Tapi itu semu. Beberapa tahun yang akan datang, kondisi yang ada justru sebaliknya.

Yang dibutuhkan rakyat bukan subsidi BBM. Tapi layanan masyarakat, massal, yang baik. Yaitu transportasi umum.

Budaya Jalan Kaki

Saya sering heran saat melihat bule jalan berkeliling taman wisata. Mereka begitu energik, semangat. Tidak hanya orang tua, bahkan anak-anaknya. Di negeri tropis yang bagi mereka sangat panas ini, mereka tetap semangat berjalan. Lain halnya dengan warga pribumi yang jalan bersantai-santai dan sukanya naik motor untuk mencapai lokasi berikutnya.

Ternyata karena mereka terbiasa bertransportasi umum.

Di Jepang, transportasi umum begitu baik. Hal ini menyebabkan warga mampu beralih ke transportasi umum. Jarang ditemui mobil berseliweran. Pajak kendaraan bermotor mahal, warga lebih memilih naik sepeda. Saking banyaknya sepeda, sepedapun punya plat nomor. Kalau tidak naik sepeda, ya jalan kaki. Begitu kata saudara yang tinggal di Jepang sekitar 2 tahun.

Di Eropa, banyak sekali aturan pembatasan kecepatan. Kamera kecepatan kendaraan ada di mana-mana. Siapa yang ngebut, kena denda. Tapi transportasi umum boleh melaju hingga 300 km/jam. Bus datang dan tiba bisa dijamin waktunya. Ngapain naik mobil kalau kecepatannya sama seperti bus? Mending naik bus, lalu naik kereta, begitu pikir warga Eropa.

Begitupun Seoul, Korea. Harga BBM di sana sangat-sangat-sangat mahal. Konon termahal di dunia. Harga bensin oktan 92  sekitar 18.000 rupiah/liter. Begitupun pajak kepemilikan kendaraan bermotor: sangat mahal. Namun Seoul menetapkan harga tiket KRL sangat murah. Untuk KRL ber-AC, harga paling mahal dipatok sekitar 5.000 rupiah untuk sekitar 40 km.

Keren!

Dengan begitu masyarakat tidak ketagihan BBM. Mereka lebih memilih transportasi umum yang jelas-jelas lebih murah dan sehat.

Angka Kecelakaan Menurun

Coba tonton ini.

Gila, motor semua! Video tersebut menggambarkan kondisi lalu lintas di Vietnam. Negeri 1001 Motor.

Mungkin itu yang akan terjadi di Jakarta kalau pemerintah menerapkan pembatasan BBM hanya untuk kendaraan beroda 4.

Tapi bayangkan kalau Jakarta menjadi seperti ini

Itu adalah perempatan Shibuya, Jepang. Salah satu tempat di mana banyak komuter berseliweran. Stasiun Shibuya juga merupakan stasiun tersibuk dunia, dengan kira-kira 2,4 juta penumpang mondar-mandir setiap harinya.

Nampaknya belum pernah ada kecelakaan yang disebabkan banyaknya orang berjalan kaki, eh?

Memang Sulit

Yah, memang sangat sulit untuk membangun transportasi umum baik dan murah.

Jalanan di daerah harus dihaluskan, harga angkutan umum terjangkau, serta ketepatan waktu yang menjanjikan. Trotoar harus bersih dari pedagang kaki lima, pengendara motor dan pedestrian juga harus saling menghargai hak masing-masing. Pelarangan ngebut bagi kendaraan pribadi juga sulit karena infrastruktur sama sekali belum ada.

Birokrasi juga ribet, saya tahu. Tapi kalau melihat sejarah swasembada beras zaman Soeharto, siapa yang mau hal ini terjadi lagi?