Pada saat saya masih kecil, nampaknya semua terlihat sempurna.

Di selingan acara televisi setiap hari Minggu, tidak terlalu banyak iklan makanan ringan. Kalaupun diiklankan, snack tersebut tidak kebanyakan pengawet ataupun MSG. Kandungan gizinya juga cukup banyak, meski mungkin hasil sintesis.

Saat saya belum sekolah, di dalam setiap kardus susu–merk apapun–berisi hadiah. Kebetulan susu yang dulu saya minum, berhadiah Lego. Yup, Lego asli, bukan buatan China yang kualitasnya jelek.

Karena saya–kata ibu saya–kayak spons (baca: dikit-dikit minum susu), alhasil Lego yang saya koleksi banyak sekali. Bersama ibu saya, mulai dari rumah-rumahan sampai pesawat-pesawatan yang super besar pernah kami buat.

Doraemon. Gila, kartun itu bener-bener keren luar biasa. Gara-gara Doraemon, saya jadi suka berimajinasi. Gimana kalau ada mesin waktu? Gimana kalau ada kantong Doraemon? Gimana kalau bisa bermain ke zaman Dinosaurus?

Lalu, Doraemon juga sering menyelipkan sains dan pengetahuan umum lainnya. Selain itu, nggak cuma menarik, tapi juga mendidik. Misalnya, harus patuh kepada orang tua.

Selain itu, lagu anak-anak mulai dari Maisy sampai Tasya juga enak didengarkan. Setiap bepergian, kaset yang diputar di mobil selalu menyetel lagu anak-anak.

Lalu, saat saya TK, hadiah susu berubah. Bukan lagi Lego, tapi buku cerita dan buku seputar sains. Karena saya sudah mulai bisa membaca, maka hadiah itu tergolong menarik bagi saya. Selain itu, gara-gara buku bonus dari susu, saya bisa pamer ke teman kalau bulan itu nggak memancarkan cahayanya sendiri. Eh, ternyata teman-teman saya juga udah pada tahu😛

Tak hanya susu, tapi snack juga berhadiah. Mulai dari puzzle sampai entah-apalah-itu-namanya. Bahkan chicken nugget juga berhadiah action figure yang harus disusun sendiri.

Kemudian orang tua saya membawa komputer. Sistem operasinya Linux Red Hat dan gamenya banyak dan super menarik. Game seperti itu saat ini sudah nggak ada lagi.

Lalu, begitu masuk ke masa SD, bagi saya mainan-mainan saat itu sangat menarik dan masih mengasah otak. Misalnya, mobil-mobilan atau truk dari jeruk bali.

Di toko buku, buku komik tentang agama masih mudah ditemukan di posisi depan.

Begitu mulai kelas 2, ada tamiya, beyblade, crushgear, keong-keongan, dan masih banyak lagi. Meskipun kata orang tua saya mainan itu tidak sebagus mainan zaman orang tua saya dulu, tapi saya bersyukur. Soalnya mainan itu seru.

Setiap pulang sekolah berburu Pada saat merakitnya lumayan susah. Jadi, punya kebanggaan sendiri kalau berhasil merakit. Setiap minggu olahraga: karena harus naik sepeda ke rumah teman untuk “beradu”.

Lalu mainan tradisional semacam bentengan, gobak sodor, dan lain sebagainya juga masih digemari. Saking senangnya, sampai-sampai dimarahi guru kalau siang-siang main bentengan. Haha..

Acara TV seputar sains juga masih banyak. Misalnya, Indosat Galileo. Wah subhanallah, itu acara keren banget luar biasa. Sampai-sampai saya masih hafal theme songnya sampai sekarang.

Eksperimen yang dilakukan misalnya, jangan berteduh di bawah pohon saat hujan. Atau membuat magnet dari kumparan kawat. Meskipun kalau dipikir saat ini, eksperimennya sangat biasa, tapi bagi saya saat itu, itu luar biasa.

Begitu kelas 3 SD, Harry Potter booming. Saya yang penasaran beli bukunya. Ternyata bagus. Eh, ketagihan.

Tapi….

Begitu zaman adik saya yang selisihnya 6 tahun dari saya mulai masuk TK, semuanya kok ya berubah. Susu bubuk nggak ngasih hadiah apa-apa lagi. Snack pun kebanyakan bersifat adiktif dan tidak bergizi. Mainan sebangsa tamiya atau bentengan sudah nggak zaman. Kartun juga sifatnya hanya menghibur dan tidak mendidik. Iklan makanan ringan yang sifatnya bikin konsumtif ada di mana-mana. Buku yang booming sebangsa Harry Potter udah jarang. Lagu anak-anak nggak didengar lagi. Yang ada hanya lagu percintaan. Buku novel juga kebanyakan tentang cinta. Komik juga tentang budaya negara lain.

Beruntung salah satu stasiun televisi baru saat ini mulai menghadirkan acara berkualitas. Mulai dari budaya Indonesia yang positif hingga sains. Tapi toh, sebenarnya menonton tv saja nggak baik.

Ya sudahlah, biarkan yang berlalu sudah berlalu.