Minggu lalu orang tua saya membawakan film The Untouchable. Ceritanya tentang empat orang di Departemen Keuangan AS yang getol dalam menegakkan hukum. Film bikinan tahun 1987 ini beratar waktu tahun 1930an.

Kisah dimulai dari kasus peledakan bom di sebuah bar yang menewaskan seorang anak. Bom itu adalah kiriman dari Al Capone. Dia seorang mafia besar yang memiliki usaha bisnis minuman keras dan tidak pernah membayar pajak.

Sampai suatu ketika, diberlakukan peraturan bahwa minuman keras–dan segala hal yang menyangkut miras–merupakan hal ilegal. Jadilah bisnis Al Capone sebagai bisnis ilegal.

Adalah Eliot Ness, seorang pegawai Departemen Keuangan. Idealismenya membuat dia bersumpah ingin menangkap Al Capone hidup-hidup atas bisnis ilegal dan tuduhan ngemplang pajak.

Hingga hari kedua setelah peledakan bom, Ness menggrebek gudang yang diyakini sebagai tempat timbunan miras milik Capone.

Sayang, ternyata rencana penggrebekan gudang itu sudah bocor sampai telinga Al Capone. Isi gudang sudah diganti dengan payung kertas. Kabar ini langsung tersebar lewat mulut dan media massa.

Ness dipermalukan media massa. Di kantor tempatnya bekerja, orang-orang mentertawai dan menggunjingkan dia. Bahkan di pintu ruang kerja Ness ditempeli potongan koran yang berisi berita kegagalan Ness.

Namun Ness tidak berhenti sampai di situ. Karena sudah telanjur bersumpah, dia rela mempertaruhkan nyawa dirinya–bahkan keluarganya–demi menangkap Al Capone.

Sampai akhirnya Ness bertemu seorang pensiunan polisi, akuntan, dan perwira muda yang bersedia mempertaruhkan nyawa demi menangkap bajingan besar itu.

Hingga akhirnya Al Capone didakwa atas pengemplangan pajak sebesar US$ 3 milyar.

*****

Film ini diangkat dari kisah nyata, yang sebagian besar diangkat dari sudut pandang seorang Eliot Ness. Al Capone si mafia pun benar-benar seperti itu adanya.

Namun dari jalan cerita di film, banyak yang telah direkayasa. Misalnya, anggota The Untouchables yang sesungguhnya sebanyak 11 orang. Namun di film hanya 4 orang. Lalu di film dinyatakan dari keempat orang itu, 2 orang tewas dibunuh dedengkot Al Capone. Padahal dalam kehidupan nyata, tidak ada yang tewas satu pun dan semuanya meninggal dalam damai.

Selain itu, mungkin karena termasuk film tua, ada banyak adegan yang tidak masuk akal. Seperti karakter Malone yang ditembak beruntun oleh Nitti, tetapi tidak langsung tewas–padahal banyak karakter lain yang hanya sekali ditembak langsung tewas. Ada juga adegan kereta bayi yang jatuh dari tangga tetapi tidak terguling-guling–dan hebatnya si anak tidak menangis.

Terlepas dari hal teknis tersebut, film drama yang dianugerahi empat anugerah Academy Awards ini sangat menarik untuk ditonton. Apalagi melihat kondisi penegakkan hukum di Indonesia saat ini yang tergolong memble, film ini bagaikan sebuah pencerahan.

Seandainya saja seluruh petinggi negeri ini punya jiwa ksatria seperti The Untouchables, diyakini negeri ini akan makmur dan terlepas dari jerat kutukan moral yang kian membusuk.

Semoga ada televisi swasta yang bersedia memutar film ini di layar kaca.