Berprasangka buruk itu tidak baik. Tidak baik bagi fisik sekaligus mental.

Khotbah Jum’at tadi ada statement yang menggelitik. Khotib sedang berbicara tentang musibah kelaparan di Somalia. 99% warga Somalia adalah umat Muslim, begitu katanya. Mereka saudara kita. Oleh karenanya, beliau menekankan supaya seluruh umat Muslim bahu-membahu membantu Somalia lepas dari musibah tersebut. Entah dengan cara doa, bantuan uang, ataupun bantuan langsung.

Beliau menyindir karena bantuan selama ini justru datang dari pihak asing. Bantuan datang dari Kenya, negara tetangga yang sebagian besar bukan Muslim, katanya.

Sayangnya, setelah sindiran tersebut dia berkata, “…kita harus membantu! Karena bisa jadi mereka berkedok misionaris yang ingin menyebarkan agama lain! Jangan sampai hal itu terjadi. Wallahu alam.

Ya Tuhan…

Sedih. Pasukan asing yang berniat membantu justru dicurigai memiliki dua wajah. Pakai embel-embel “Wallahu alam” pula. Beginikah seharusnya seorang khatib?

Sedih. Bagaimana jika, tetangga Fulan mengalami musibah kebakaran. Fulan berniat membantu segala upaya supaya tetangganya tidak kesulitan. Tapi Fulan yang kaya raya justru dicibir oleh orang karena dianggap cari muka. Bagaimana perasaan Fulan jika mendengarkan cerita buruk tersebut? Padahal, tetanggalah yang memang sudah seharusnya membantu terlebih dahulu! Saudara jauh, belakangan!

Ah.