Ini soal estetika juga. Stasiun menjadi kotor karena penumpang dan masyarakat sekitar sembarangan membuang sampah

Andre, Ketua KSKA

Sampah dan KRL sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali. Tapi cobalah tengok stasiun-stasiun KRL. Sampah merupakan momok bagi kenyamanan semua pengguna jasa KRL.

Contohnya sampah yang mengotori sisi-sisi rel. Sampah tersebut berukuran kecil dan “tidak penting”. Sebutlah serpihan tisu, plastik bungkus minuman, puntung rokok, dan robekan koran. Namun sampah-sampah kecil tersebut dapat merusak dan memperpendek umur KRL. Sebabnya karena kereta yang melaju kencang menerbangkan sampah-sampah kecil itu.

Sampah yang beterbangan tersebut sering menutupi saringan udara KRL membuat AC KRL Jabodetabek tidak dingin. Sampah juga membuat peralatan elektronik cepat rusak dan harus rajin diganti. Alhasil KRL harus masuk ke Balai Yasa (semacam bengkel bagi KRL) untuk perawatan rutin minimal 3 bulan sekali. Turun mesin pun harus dilakukan minimal 2 tahun sekali. Padahal di Jepang, KRL hanya melakukan perawatan rutin minimal 6 bulan sekali, dan turun mesin 5 tahun sekali.

Contoh lainnya adalah sampah-sampah besar yang menumpuk di sepanjang rel KRL. Sampah tersebut dapat mengganggu persinyalan, dan tentunya perjalanan KRL terganggu. Tercatat pada semester pertama 2011 sudah terjadi 50 kali gangguan sinyal di blok Stasiun Depok. Penyebab utamanya adalah sampah-sampah yang menumpuk di sisi rel KRL, ujar salah satu pejabat KAI yang bagian persinyalan.

Padahal seharusnya rel KRL haruslah steril. Orang saja dilarang melintas selain di tempat yang diperbolehkan. Sampah pun demikian, tidak boleh dibuang ke area rel.

Untungnya, dari banyaknya warga dan pengguna jasa KRL yang tidak disiplin, masih ada contoh teladan yang patut dicontoh. Sebutlah Bram Nurdiansyah, seorang pengamen di atas KRL. Ia bersama sejumlah rekannya, pada hari Rabu (28/9) memilih membersihkan sampah di sekitar Stasiun Besar Bogor. Bermodalkan karung beras dan gancu, sejak pukul 08.00 mereka menyusuri rel ke arah pintu perlintasan Pasar Anyar demi memungut sampah. Sebagian besar sampahnya adalah sampah plastik. Hal ini semata-mata mereka lakukan karena mereka ingin berbuat sesuatu bagi tempat selama ini mereka bekerja.

Lalu ada lagi paguyuban bernama Komunitas Simfoni Kereta Api (KSKA). Paguyuban yang berisi pengamen di Stasiun Bogor ini setiap Jumat bekerja bakti untuk membersihkan sampah di sekitar rel.

“Ini soal estetika juga. Stasiun menjadi kotor karena penumpang dan masyarakat sekitar sembarangan membuang sampah,” ujar Andre, ketua KSKA.

Andre berharap ada gerakan rutin guna menyadarkan warga dan pengguna KRL supaya tidak membuang sampah sembarangan. Hal itu bisa dilakukan dengan sosialisasi dalam bentuk seni, ataupun hal kecil lain yaitu menegur warga/penumpang yang membuang sampah sembarangan.

Diharapkan dengan kesadaran pengguna jasa KRL untuk menjaga kebersihan dapat meningkatkan kinerja PT. KCJ selaku operator KRL Jabodetabek. Dengan kedisiplinan warga dan pengguna jasa KRL pula, PT. KCJ tidak perlu mengeluarkan anggaran membersihkan sampah yang sebetulnya tidak perlu. Tentunya bersihnya lingkungan sekitar rel akan meningkatkan kenyamanan perjalanan, dan menambah umur KRL yang merupakan fasilitas bersama.

***

Sumber: Harian Kompas, dan diolah dari berbagai sumber.