Tadi siang saya bertemu kakak kelas yang sekarang sudah melanjutkan pendidikannya di NTU, Singapura. Saya sempatkan ngobrol, dan katanya di sana persaingan sangat ketat. Sabtu: tutor dan belajar. Minggu: belajar dan belajar. Senin-Jumat, mati. Belum lagi sistem penilaian IP (Indeks Prestasi) mereka tidak seperti di Indonesia. Kalau rata-rata kelas dapat nilai 90 dan nilai lo 85, maka lo dapet B. Tapi kalau rata-rata kelas 30 dan lo dapat 50, maka lo dapat A. Begitu cerita mereka.

Wajar aja persaingan berat kalau melihat semangat kiasu penduduk pribumi dan etnis China yang super. Ibaratnya kalau anak Indonesia di minggu ke-0 belum nyentuh buku sama sekali, maka etnis-etnis China sudah menghabiskan buku untuk setengah semester. Gila!

Dan bicara tentang kiasu, saya punya cerita yang bikin sayberdecak kagum. Kemarin sekolah saya menyelenggarakan ajang nasional yang di dalamnya ada lomba MarathonMIPA. Pesertanya mulai dari SMA Negeri sampai SMAK BPK Penabur. Peserta dari BPK Penabur bikin saya kagum luar biasa.

Mulai dari mengerjakan soal, tim Penabur meraih skor paling tinggi. Saat cerdas cermat, soal belum selesai dibacakan mereka sudah menjawab. Dan jawabannya benar! Tidak hanya itu, mereka bertemu soal bagaikan bertemu mainan. Ya, mainan. Melihat soal dengan wajah cerah gembira dan tersenyum-senyum.

Itu salah satu efek dari kiasu.

Kalau kiasu di bidang bisnis, cobalah sekali-kali main ke Glodok dan perhatikan cara mereka berdagang. Nggak usah beli apa-apa, cukup perhatikan saja. Terlihat mereka bekerja sepenuh hati dan sangat cepat. Kiasu.

Kata teman saya yang tetangganya salah satu siswa SMA Kristen, mereka disiplinnya ketat. Lewat jam 6-7 malam, tidak ada makan malam. Hari Sabtu dan Minggu, jadwal mereka benar-benar ketat. Butuh sesuatu juga tidak langsung dikasih. Disiplin dan tidak dimanja.

Kalau dilihat dari segi budaya, nampaknya itu juga yang diajarkan keluarga Sampoerna kepada anak cucunya. Yang bikin mereka sukses turun-temurun.

Saya yang dari dulu pengen banget meniru budaya mereka cuma bisa pasrah. Memang sekali dua kali semangat saya bisa membara kayak rumah yang kebakar karena disiram minyak tanah. Tapi ya cuma sekali dua kali. Lebih sering loyo ketimbang semangat. Rasanya karena faktor budaya dan teman yang tidak mendukung, dan yang pasti kemauan saya yang tidak kuat dan telaten.

Kata Bintang, kalaupun saya pindah ke Penabur dan bergaul dengan anak-anak super, saya bisa aja jadi kayak mereka. Itu kan kata dia, entah bagaimana kalau saya benar-benar pindah ke Penabur😛