Seminggu ini media sedang panas tentang kasus tawuran. Kegiatan basi ini panas kembali karena siswa SMA 6 Jakarta sampai ngeroyok wartawan Trans 7. Menurut Oktaviardi, wartawan Trans 7, kaset rekaman dia diambil siswa dan kamera videonya hampir dirusak. Herannya, mereka justru bangga.

Sampai-sampai bapak presiden kita pun mengomentari kasus tawuran ini! Bayangkan, betapa kasus ini menjadi prioritas!

Buya Syafii Maarif pun mengomentari kasus ini. Beliau mengatakan bahwa kasus tawuran adalah pertanda bangsa ini sakit.

Saya sangat setuju dengan perkataan Buya. Moral sudah rusak. Warisan berpuluh tahun kok ya tetap diturunkan? Kenapa nggak mewariskan takhta prestasi olimpiade, atau hal positif lainnya yang jelas membangun bangsa?

Ke mana budaya Bangsa Indonesia yang katanya ramah, santun, dan suka tersenyum?

Coba kita telisik 10 tahun pasca kemerdekaan silam. Indonesia yang masih seumur jagung diyakini National Geographic bakal menjadi negara yang maju. Sayang, setelah 5 dekade justru melempem. Presiden Soekarno yang cerdas sangat berharap generasi penerusnya akan lebih lebih lebih cerdas. Sayangnya kenyataan berkata sebaliknya, lebih bodoh dan hobinya melakukan kekerasan. Jujur, saya tidak bisa membayangkan perasaan Presiden Soekarno dan orang-orang berjasa lainnya melihat bangsanya saat ini.

Hendaknya mereka-mereka yang suka tawuran, memindahkan kelebihan energi tersebut untuk melakukan hal yang lebih berguna. Entah body building, bertualang ke alam bebas, berorganisasi, atau malah kalau bisa berwiraswasta dan membaca buku yang banyak.

Sedih rasanya kalau membayangkan Negara Indonesia akan dibangun oleh generasi muda yang tolol, hedonis, dan tidak beriman.

Guru. Guru hendaknya memiliki kendali atas siswa. Stop budaya tawuran dari masuk SMA. Buat kaderisasi yang keras kalau perlu. Buat peraturan yang benar-benar menindas pelanggarnya. Jangan malah takut dengan siswa karena diancam dibunuh. Toh kalau benar dibunuh, bisa jadi nama guru tersebut akan seharum Baharuddin Lopa atau Munir Said Thalib.

Saya (dan yakin seluruh Bangsa Indonesia) tidak mau bangsa ini terus terpuruk, bodoh dan miskin. Umar bin Khattab pernah berkata, “Setiap aku menemui masalah-masalah yang besar maka yang ku panggil pertama adalah PEMUDA!” Tapi bagaimana caranya bisa lepas dari lingkaran setan itu, kalau generasi mudanya tidak bisa diandalkan?

Kalau saya jadi menteri pendidikan, saya akan keluarkan peraturan menteri yang isinya sekolah yang tidak pernah bisa menyelesaikan masalah tawuran, dibubarkan. Biar.

****

Sumber gambar: http://imoe.wordpress.com/2011/06/20/tawuran/