Guru Bahasa Indonesia saya pernah bilang, “Kalau menulis, anggaplah si pembaca sudah mengetahui apa-apa yang kamu tulis!”

Salah besar. Sebab kalau seseorang sudah mengetahui info A, untuk apa dia membaca bahasan yang sama dengan penjelasan yang sama?

Ada contoh: tamu yang ingin datang ke rumah. Calon tamu tersebut datang dari luar kota, dan baru sekali dua kali datang ke jakarta. Tentunya dia bertanya, “Di mana rumah Anda? Dengan apa saya bisa datang ke sana? Lewat mana jalanan yang tidak macet? Ancer-ancer apa yang bisa saya perhatikan?” dan lain sebagainya.

Mari kita coba bermain peran. Di sini ada si A yang menganggap tamunya sudah mengerti Jakarta; dan ada si B yang menganggap tamunya benar-benar newbie tentang Jakarta.

Berikut contoh perbandingan percakapan antara A dan tamu. (sekedar ilustrasi)

  • Tamu: Pak, sebaiknya saya ke sana (rumah Anda) naik apa, ya? Kebetulan posisi saya ada di Blok M.
  • A: Bapak naik angkot aja yang ke Dukuh Atas, terus ganti yang tujuan Angke – Depok. Terus turun Ps. Minggu. Nanti dari situ naik ojek saja sampai rumah saya.
  • T: Tapi, Pak, saya nggak tahu harus naik angkot yang mana dari sini….
  • A: Cari saja angkot yang ada tulisannya ke Dukuh Atas. Tanya-tanya saja sama kernetnya. Oke?
  • T: Tapi, Pak, ongkos saya cuma dua puluh ribu rupiah, apa cukup?
  • A: Pasti cukup kok. Udah nanti kalau sudah tiba di Pasar Minggu, naik ojek aja. Gampang kok.
  • T: Rumah bapak di mananya Pasar Minggu, ya?
  • A: Udah, nanti tukang ojeknya juga tahu kalau dikasih alamat itu.
  • (satu jam kemudian)
  • T: Pak! Saya nyasar ke Tanah Abang! Gimana ini?
  • A: Lah kamu gimana sih? Harusnya dari Dukuh Atas ke Pasar Minggu! Bukan naik yang ke Tanah Abang!
  • T: Lah saya kan nggak tahu kalau bus ini jalannya ke Tanah Abang! Saya kira busnya jalan ke Pasar Minggu, habis tadi tanya sama kernet bus ke Dukuh Atas, bilangnya saya naik bus yang ini! Tau-taunya saya udah di Tanah Abang. Saya kira saya benar. Eh tahunya salah arah. Mana ongkosnya nggak cukup lagi, Pak. Saya baru aja makan. (ceritanya angkot dari Dukuh Atas itu trayeknya Angke – Tanah Abang  – Depok. Si tamu naiknya justru yang ke arah  Tanah Abang)
  • …kisah berlanjut sampai 4 jam, dengan akhir cerita si tamu naik taksi ke rumah A dan dibayarin Pak A.

Sekarang, gimana ceritanya kalau yang memberi info Pak B, yang mendetail?

  • Tamu: Halo, Pak! Saya harus naik apa kalau mau ke rumah bapak? Posisi saya di Blok M!
  • B: Oh, agak repot sih, Pak. Tapi kalau Anda mendengarkan saya, saya yakin gampang tiba di sininya. Jadi gini, sekarang kamu pergi ke terminal Blok M, kemudian cari bus XX jurusan ke Dukuh Atas. Dukuh Atas itu ciri-cirinya ada perempatan, terus di perempatan itu ada Gedung R. Nah, kamu nyeberang ke Gedung R. Terus, naik angkot YY dari situ, dan turun di Manggarai. Cirinya nanti ada Pasaraya Manggarai, besar kok mallnya. Lalu, dari situ naik bus ZZ yang jurusan Depok. Lalu turun di pertigaan Ps. Minggu. Di kanan jalan ada Robinson. Ntar turun situ aja, lalu naik ojek, kasih alamatnya deh. Ohiya, tarif busnya 2 ribu, dan untuk angkot kasih saja 2 ribu lima ratus. Nanti untuk angkot, kasih lima ribu. Hati-hati dibohongi.
  • T: Wah kelihatannya nggak repot-repot amat kok, Pak. Nanti kalau ada apa-apa, saya SMS aja ya! Terima kasih banyak!
  • B: Oke, Pak.
  • satu jam kemudian, si tamu sudah tiba di rumah Pak B.

Bandingkan percakapan mereka! Si A, walaupun pendek-pendek, tetapi lebih panjang dan makan waktu.

Si B yang mendetail, ternyata penjelasannya lebih mudah ngena di bayangan tamu. Percakapan B ternyata berakhir lebih singkat, dan tamu tiba jauh lebih cepat tiba di rumah Pak B ketimbang Pak A.

Harus mendetail

Nampaknya dari ilustrasi di atas sudah bisa dibayangkan betapa pentingnya berposisi sebagai “orang yang lebih tahu”. Berikut akan saya jelaskan satu per satu.

1. Untuk apa orang mencari tahu jika mereka tidak tahu?

Bahasa yang ketinggian adalah salah satu faktor yang disebabkan Anda menganggap orang lain lebih tahu daripada Anda. Ini bahaya, karena menurut penelitian bahasa yang sederhana lebih mudah ditangkap dan lebih awet direkam di dalam otak ketimbang yang kompleks dan penuh hal teknis.

Ambil contoh proses fotosintesis. Anto membuat artikel di surat kabar dan menganggap orang lain sudah tahu bahwa fotosintesis melibatkan enzim-enzim seperti RuBisCo, melibatkan reaksi gelap dan reaksi terang, tentu bahaya. Sebab pembaca koran tidak semuanya berlatar belakang pendidikan sains biologi. Seandainya pun si pembaca berlatar belakang biologi, bisa saja pembaca lupa. Inilah perlunya penjelasan rinci. Intinya, bersikaplah seolah-olah pembaca tidak mengetahui apa yang Anda bicarakan. Sehingga, setelah pembaca membaca tulisan Anda, mereka akan mengerti.

Karena sekali lagi, untuk apa mencari tahu hal yang sudah diketahui? Menghabiskan waktu saja.

Cobalah baca tulisan bagus ini, tentang betapa pentingnya menjelaskan sesuatu dengan sederhana, dan cukup mendetail.

2. Orang tidak akan tahu kalau tidak diberi tahu!

Lihat kembali ilustrasi si A dengan tamu di atas. Si A tidak memberi tahu hal detail yang seharusnya diketahui tamu. (Misalnya ia harus menyeberang ke Gedung R.)

Karena si tamu tidak diberi tahu, tentu dia tidak akan mengetahui. Dan sudah pasti dia tidak akan menanyakan, “Harus menyeberang ke mana?” Jadinya seperti ilustrasi di atas, si tamu nyasar. Tragis.

Hal ini sama saja jika Anda membuat tulisan yang menganggap orang lain sudah tahu. Bisa jadi bukannya pembaca menangkap jalan pikiran Anda, bisa-bisa malah nyasar nggak keruan.

3. Kalau ternyata sudah tahu, dia pasti akan berkata kalau dia sudah tahu!

Yap, kalau orang sudah mengetahui hal yang dibicarakan, orang tersebut akan berkata, “Saya sudah tahu, mari lanjutkan ke pokok berikutnya,”. Atau jika di tulisan, orang tersebut akan melewatkan (skip) tulisan tentang bahasan yang sudah diketahui.

Jadi sebenarnya menjelaskan secara detail ya nggak ada ruginya.

4. Orang merasa puas dan dihargai jika diberi tahu secara rinci!

Bayangkan Anda seorang pelanggan yang menelpon layanan customer service sebuah operator selular. Anda menanyakan tentang produk x kepada CS tersebut. Bagaimana perasaan Anda jika si CS tersebut menerangkan secara mendetail kepada Anda? Saya yakin Anda merasa puas!

Ada faktor lain lagi. “Si butuh info” juga akan merasa dihargai jika jawabannya terperinci. Sebagai contoh, bayangkan Rudy si murid SMA tidak tahu cara penyelesaian persamaan kuadrat. Kemudian Rudy bertanya kepada guru, dan sang guru menjelaskan seolah-olah Rudy sudah mengerti. Yang ada Rudy malah tidak mengerti dan tambah bingung. Bisa jadi Rudy semakin frustrasi karena merasa dirinya goblok banget, gini aja kok nggak tahu.

Tapi kalau sang guru menjelaskan dengan detail dan sabar, Rudy akan merasa dihargai sebab masih ada yang ingin membantunya. *Penulis pernah merasakan ini, jadi wajar saja saya mencontohkan hal ini.*

Itulah beberapa poin kenapa Anda harus mendetail dan menganggap orang lain lebih rendah. Sekarang, bagaimana caranya untuk memastikan orang lain puas ketika menerima informasi?

Tips dan trik memberi informasi dengan baik

1. Posisikan diri Anda lebih tahu dan beberkan secara mendetail!

Ya, posisikan diri Anda lebih tahu daripada orang lain. Meskipun pembaca atau pendengar Anda seorang profesor. Sebab bisa saja sang profesor tersebut belum mengerti hal yang Anda bicarakan.

Atau, bisa saja sang profesor pernah mengetahui. Namun saat Anda membahas, ia telah lupa! Toh nggak ada ruginya, kan, menjelaskan dengan detail?

Harapannya, dengan memosisikan diri Anda lebih tahu bisa menjadikan diri Anda lebih nyaman sebab dapat memaparkan dengan baik.

2. Tetaplah rendah hati dan sopan.

Meskipun Anda memosisikan diri lebih tahu, janganlah sekali-kali jadi sombong. Justru jadilah arif. Dan tetaplah sopan supaya si pembaca/pendengar tidak merasa disakiti.

*****

Sepengalaman saya, memaparkan hal dengan detail membuat diri lebih peduli terhadap orang lain. Peduli terhadap kekurangan mereka sehingga kita mau menjelaskannya dengan detail.

Yang jelas hal yang paling konkret jika memberikan informasi secara rinci adalah pembaca menjadi puas. Sebab saya sering sekali kesal karena mendapatkan informasi yang tidak detail, atau terlalu teknis namun tidak diperinci.

Sekian.