Mari kita belajar dari tiga etnis yang berbeda ini. Pertama, China. Kedua, Yahudi (bedakan antara etnis dengan agamanya!). Dan yang ketiga, etnis Melayu, atau lebih tepatnya Indonesia. Ketiga etnis ini sangat menginspirasi saya. Walaupun hingga saat ini saya belum bisa mempraktikkan kelebihan tiga etnis ini secara keseluruhan.

1. China

China adalah salah satu peradaban tertua di dunia ini. Masa kedinastiannya sudah dimulai sejak tahun 2100 SM. Sudah tergolong tua, masih bertahan pula hingga detik ini. Padahal banyak peradaban lain di dunia ini yang tidak bertahan lama. Contoh, lihatlah peradaban Romawi yang hanya bertahan beberapa abad. Atau peradaban Turki Ottoman yang hanya berkilau sekitar 4 abad. Peradaban Islam pun bertahan tidak lebih dari enam abad. Namun peradaban China, sudah lebih dari 22 abad masih bertahan hingga saat ini. Tidak heran kalau ada pepatah berbunyi tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.

Tulisan dari tautan ini cukup menjelaskan kekaguman saya akan etnis China yang menginspirasi saya. Baca dahulu tautan ini sampai habis! Jangan sekali-kali melanjutkan sebelum membacanya sampai habis!

2. Yahudi

Pertama-tama, tolong bedakan etnis Yahudi dengan agama Yahudi. Orang beragama Yahudi belum tentu etnisnya Yahudi. Namun orang etnis Yahudi biasanya beragama Yahudi–walau mungkin ada yang berubah menjadi ateis.

Terlepas dari konflik Palestina – Israel yang tak kunjung selesai (mungkin) hingga akhir zaman, saya kagum luar biasa dengan etnis ini. Mereka dikaruniai otak yang cerdas, dan memanfaatkan pemberian Tuhan dengan sebaik-baiknya pula.

Meskipun sempat dihabisi oleh Partai Nazi pada tahun 1940an, etnis Yahudi cepat bangkit. Sebenarnya mereka merajai dunia ini. Mulai dari bidang teknologi hingga seni. Teknologi, tengoklah jeroan komputer yang sedang Anda pakai untuk membaca tulisan saya ini. Jika prosesor yang Anda gunakan buatan Intel, maka pendirinya adalah seorang Yahudi: Gordon Moore.

Masih di teknologi, ada Michael Dell (pendiri Dell) dan Sergey Brin & Larry Page (pendiri Google). Mereka beretnis Yahudi dan cerdas. Serta pekerja keras dan idealis. Mirip seperti orang China.

Saya merujuk buku “Kisah Sukses Google” yang ditulis oleh David A. Vise untuk melihat betapa idealisnya Google Guys ini. Mereka bekerja semata-mata bukan karena uang. Karena mereka ingin menjadikan dunia lebih baik. Karena mereka ingin berkarya dengan sebaik-baiknya. Sebagai imbalannya, karya besar mereka, sebuah mesin pencari bernama Google menghasilkan uang banyak. Bahkan lebih banyak daripada yang dibutuhkan oleh mereka berdua.

Lalu ada filantropis bernama George Soros. Ada pula pianis ternama Vladimir Horowitz yang hingga saat ini–meskipun sudah meninggal–tetap dikenang sebagai pianis terhebat sepanjang masa. Ilmuwan terkenal Albert Einstein pun seorang Yahudi. Mereka semua hanya ingin bekerja sebaik-baiknya, membuktikan kepada dunia bahwa mereka bisa menjadi pemimpin di bidangnya.

Bayangkan kalau Einstein gila uang, bisa saja dia menjual “resep” bom nuklirnya kepada Jerman dan Amerika sekaligus. Dia memang bisa kaya raya. Namun Einstein tidak seperti itu. Dia tidak mementingkan uang di atas segalanya.

Mungkin etnis Yahudi tidak hidup sesederhana China. Kalau kisah etnis China yang bekerja keras dan hanya memakan penghasilan sesedikit-sedikitnya, maka kisah etnis Yahudi adalah bekerja sebaik-baiknya dan sekeras-kerasnya. Kemudian karena hasilnya baik, maka Tuhan membalasnya dengan baik pula.

3. Melayu

Etnis Melayu di sini saya persempit hanya yang tinggal di Indonesia. Lain halnya dengan dua etnis pertama yang semuanya baik-baik, etnis terakhir ini ada buruknya. Bahkan tergolong borok. Namun borok itu menjadi bahan pelajaran untuk dihindari.

Di mata saya etnis Indonesia dibandingkan dua etnis tersebut tergolong yang paling jelek. Dibanding China, Indonesia itu gila uang, pemalas, suka hura-hura. Dibanding Yahudi, termasuknya bodoh, dan tidak mau menolong dirinya sendiri. Mulai dari rakyat kecil sampai petinggi negara punya penyakit gila uang yang bikin nggak bisa berpikir jernih. Contoh malas dan buang-buang waktu, tengoklah ke depan pagar. Mungkin ada banyak ibu-ibu yang sedang ngerumpi ngomongin tetangganya. Syukurlah kalau tidak ada hal seperti ini di sekeliling Anda.

Cobalah Anda mencari hal yang cukup ilmiah dalam bahasa Indonesia di internet. Saya berani taruhan Anda akan bertemu dengan situs yang isinya search engine lagi, atau situs yang isinya cuma iklan. Contoh, buka ini. Dan Anda akan menemukan situs sampah ini. Biasanya situs-situs ini memasang fitur looping ini untuk mendapatkan uang dengan mudah, hanya dengan duduk-duduk. Namun efek sampingnya mengganggu pengguna internet.

Sudahlah, tidak usah disebutkan lagi.

Karena borok-borok itu bikin saya belajar. Belajar supaya tidak mengikuti sifat jelek mereka. Jujur, kalau tidak ada mereka-mereka ini, mungkin saya tidak akan sadar kalau perilaku seperti itu sebenarnya mengganggu dan tidak berguna.

Di awal saya menyebutkan Indonesia memiliki kelebihan. Apa kelebihan orang Indonesia?

Ramah dan suka tersenyum. Apalagi yang tinggal di daerah. Meskipun banyak pemberitaan di media yang mengabarkan kalau orang Indonesia menjadi cenderung anarkis, sebenarnya masih banyak yang ramah dan suka tersenyum.

Contoh di kampung halaman saya. Mereka ramah, dan suka tersenyum. Ini menimbulkan rasa aman dan tenteram di sekeliling warga. Sepengelihatan saya etnis China dan Yahudi tidak memiliki kelebihan ini. Sebab kalau saya beli jam tangan atau peralatan elektronik di toko yang dikelola orang China, saya jarang bertemu dengan mereka yang ramah. Lain halnya jika membeli di toko yang dikelola orang Indonesia. Mungkin walaupun pelayanannya lambat dan orangnya cenderung klemar-klemer, tapi mereka masih ramah. Satu yang tidak punya dimiliki etnis luar ini.

Kalau boleh berpesan, ambillah yang baik-baiknya. Biarkan buruk-buruknya ditutupi oleh yang baik (dan tentunya jangan ikutan diambil!). Amalkan dengan sepenuh hati. Toh kalau memang benar, kebenaran akan muncul dengan sendirinya tanpa perlu dipaksakan. Benar begitu, bukan?